Makassar - Buruh harus siap beradaptasi. Hasil penelitian McKinsey and Company pada September 2019, sebanyak 23 juta pekerjaan akan hilang pada tahun 2030 akibat pesatnya perkembangan teknologi digital.
Hilangnya pekerjaan imbas mudahnya automasi dan praktisnya proses produksi dengan memakai kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI).

Namun, hilangnya 23 juta pekerjaan dimaksud bukan berarti menutup lapangan kerja yang seangka. Menurut studi tersebut, pada tahun 2030 akan tumbuh pekerjaan baru yang lebih banyak lagi, yaitu antara 27-46 juta pekerjaan.
Baca Juga : Perkuat Kurikulum Berbasis AI, Fakultas Vokasi Unhas Kirim Dosen Ikuti Pelatihan Internasional di China

Artinya, sumber daya manusia, mau tak mau, harus mengadaptasikan keterampilannya terhadap masifnya digitalisasi di era revolusi industri 4.0 yang saat ini menggejala.
Melansir kompas.com (1/5/23), Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin Indonesia) Arsjad Rasjid, juga mengingatkan hasil studi McKinsey and Company di atas.
"Dengan berkembangnya teknologi dan otomasi 23 juta pekerjaan terancam punah pada 2030 mendatang," kata Arsjad di Jakarta, Ahad (30/4/2023).
Baca Juga : Di Tengah Banjir Informasi Digital, Melinda Aksa Minta Kader PKK Jadi Pelopor Literasi Internet
Menurut Arsjad, Indonesia yang diklaim akan memasuki bonus demografi 2030 perlu memerhatikan ancaman tersebut.
Jika, kata Arsjad, sumber daya manusia (SDM) Indonesia beradaptasi, tidak melakukan pengembangan kualitas, bonus demografi bisa-bisa menjadi bencana bagi Indonesia.
"Tapi sebaliknya jika kita bisa memanfaatkan momentum bonus demografi dengan baik, Indonesia akaa selangkah lebih maju dan mencapai aspirasi Indonesia emas pada 2045," katanya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



