Makkah - Data terbaru, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Arab Saudi bertambah 9 orang.
1. Umi Kalsum Abu Kasim (60 tahun) BTH 22

2. Panuju Somo Wiharjo (59 tahun) SOC 48
Baca Juga : Ditjen PHU Harap PPIH Arab Saudi Jaga Komitmen Layani Jemaah Haji
3. Misran Amadohir (67 tahun) SOC 72
4. Parman Empeng Sarban (63 tahun) SUB 18
5. Nur Hasanah Sahnun (42 tahun) LOP 11
Baca Juga : Update Daftar 10 Jemaah Haji Indonesia yang Meninggal, Total 133 Wafat, 362 Sakit
6. Martono Mujioto Suwarno (61 tahun) KNO 18
7. Umu Saidah Dikun (58 tahun) SUB 36
8. Abdurrahman Yusuf (83 tahun) JKG 43
9. Suratin Suradi Tawijo (66 tahun) PDG 10
“Hingga sampai hari ini [Jumat 23 Juni], total jemaah yang wafat di Arab Saudi sebanyak 118 orang. Suhu di Makkah hari ini berkisar antara 30°C s.d. 42°C,” kata Koordinator Media Center Haji (MCH) PPIH Pusat, Dodo Murtado, kemarin, dikutip dari laman Kemenag RI.
3 Skema untuk Lansia
Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) telah menyiapkan tiga skema untuk menangani jemaah haji Indonesia khusus lansia saat fase puncak haji, wukuf di Arafah – Muzdalifah – Mina (Armina).
“Menjelang puncak haji di Arafah – Muzdalifah – Mina atau Armina, kita telah siapkan tiga skema penyelenggaraan ibadah, khususnya bagi jemaah haji lansia,” kata Direktur Bina Haji, Arsad Hidayat, di Makkah, belum lama ini.
Skema pertama menghajikan atau badal haji. Skema berlaku untuk jemaah lansia yang meninggal dunia setelah di embarkasi, saat di pesawat, atau di tanah suci, serta jemaah lansia yang memiliki ketergantungan pada alat dan obat sehingga tidak bisa dimobilisasi.
“Jadi, nantinya akan ada orang yang membadalkan hajinya,” kata Arsad.
Skema kedua disafariwukufkan. Skema ini disiapkan bagi jemaah haji yang sakit dan dirawat, baik di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKIH) ataupun di RS Arab Saudi, dan masih bisa dimobilisasi.
“Kita akan angkut dengan bus yang sudah dimodifikasi, ada jemaah yang duduk dan baring. Satu dua jam di Arafah kemudian akan kembali ke KKIH atau RSAS,” ujar Arsad.
Skema ketiga disiapkan bagi jemaah lansia yang fisiknya sehat, hanya harus menggunakan kursi roda. Mereka akan tetap dibawa ke Arafah untuk menjalani Wukuf seperti jemaah haji normal lainnya.
“Hanya, kita sedang mempersiapkan skema dengan pihak Syarikah supaya mereka tidak harus mampir di Muzdalifah. Sebab, Muzdalifah itu kan hamparan pasir. Kalau nanti kursi roda turun di sana akan berat mendorongnya,” tutur Arsad.
“Sedang dibahas bersama Syarikah, skema agar mereka dapat diberangkatkan dari Arafah langsung ke Mina menjelang tengah malam sehingga saat mereka lewat di Muzdalifah pada tengah malam. Mereka mabit lahdzatan atau sebentar di Muzdalifah. Adapun ibadah lontar jumrahnya selama di Mina, agar diwakilkan kepada jemaah yang sehat,” kata Arsad.
Arsad juga menyilakan kepada para jemaah yang akan mengambil inisiatif untuk tidak menginap di tenda Mina, tapi kembali ke hotel. Namun, Arsad mengingatkan bahwa tidak ada layanan katering di hotel. Sebab, katering yang disiapkan pihak muassasah hanya diperuntukkan bagi jemaah yang menginap di Mina.
“Jadi, jemaah yang mengambil pilihan untuk pulang ke hotel pada fase mabit di Mina, mereka harus mencari makan sendiri,” ucapnya.
Arsad menambahkan, Forum Komunikasi KBIHU pada 10 Mei 2023, telah menandatangani komitmen layanan haji ramah lansia. Mereka menegaskan akan mendukung program haji ramah lansia yang saat ini digagas pemerintah. Mereka siap memberikan kemudahan-kemudahan bagi jemaah hajinya, termasuk memberikan fasilitasi para jemaah dalam menunaikan ibadah hajinya.
“Terpenting, KBIHU juga berkomitmen untuk meniadakan aktivitas ibadah sunah bagi jemaah yang kondisi fisiknya tidak memungkinkan. Bagi mereka cukup umrah wajib, lalu istirahat, mempersiapkan diri untuk pelaksanaan wukuf. Saya kira itu jauh lebih baik dan positif bagi jemaah haji,” jelas Arsad.(Kemenag RI/PPIH).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




