Rabu, 27 September 2023 15:03

Hadiri Forum Bappeda Provinsi se-KTI, Pj Gubernur Sulsel Sebut Arus Distribusi Barang dan Jasa Belum Didukung Infrastruktur Memadai

Editor : Nurdin Amir
Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Bahtiar Baharuddin, menghadiri Rapat Koordinasi Forum Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi se-Kawasan Timur Indonesia (KTI), di Hotel Four Point Makassar, Selasa (26/9/2023). @Jejakfakta/dok. Humas Pemprov Sulsel
Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Bahtiar Baharuddin, menghadiri Rapat Koordinasi Forum Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi se-Kawasan Timur Indonesia (KTI), di Hotel Four Point Makassar, Selasa (26/9/2023). @Jejakfakta/dok. Humas Pemprov Sulsel

KTI memiliki beragam potensi. Namun, infrastruktur distribusi melalui jalur laut maupun udara belum memadai.

Jejakfakta.com, Makassar -- Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Bahtiar Baharuddin, menghadiri Rapat Koordinasi Forum Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi se-Kawasan Timur Indonesia (KTI), di Hotel Four Point Makassar, Selasa (26/9/2023).

Bahtiar menjelaskan, KTI memiliki beragam potensi. Mulai dari perikanan laut, perikanan tawar, dan pertanian dengan berbagai varietasnya. Namun sayang, infrastruktur distribusi melalui jalur laut maupun udara belum memadai.

"Bayangkan untuk jalur udara di Makassar sendiri yang terhubung ke luar negeri hanya Singapura dan Malaysia. Sementara untuk jalur perdagangan bukan hanya dua negara itu. Begitu juga daerah lain di bagian timur Indonesia," ungkap Bahtiar di hadapan seluruh perwakilan Bappeda Provinsi se-KTI, dalam keterangan persnya.

Baca Juga : Kementan Siapkan Langkah Mitigasi Hadapi Kemarau Panjang 2026, Pompanisasi Jadi Kunci

Begitu juga dengan jalur laut. Kapal-kapal kontainer yang membawa barang-barang masuk di Makassar, ketika pulang tidak memiliki muatan lagi, atau pulang dalam kondisi kosong.

"Nah inilah yang membuat biaya pengiriman mahal. Padahal kan bisa hasil pertanian atau hasil pengolahan nikel dari Sulawesi, Maluku dan Papua dikirim langsung ke negara tujuan, tanpa harus lewat Surabaya atau Selat Malaka. Ini kan kena cas lagi kalau lewat disitu, padahal ini semua bisa langsung," jelasnya.

Hal-hal seperti itu, menurut dia, yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi bukan hanya 5-6 persen, tapi bisa mencapai 6-8 persen. Apalagi, untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 sulit dicapai, apabila pertumbuhan ekonomi hanya 5-6 persen saja.

Baca Juga : Musrenbang RKPD 2027 Gowa: Akselerasi Ekonomi Melaju, Pemerataan Pembangunan Jadi Fokus Utama

"Sebenarnya Bapak Presiden Republik Indonesia sudah mengubah dari landscape pembangunan Indonesia. Jadi kita semua bukan start dari nol, tapi sudah ada infrastruktur yang sudah dibangun oleh Bapak Presiden Jokowi untuk mencapai Indonesia Emas 2045," tuturnya.

"Indonesia Emas 2045 tidak akan terjadi kalau pertumbuhan ekonomi di setiap daerah hanya 5-6 persen, tapi minimal pertumbuhan ekonomi harus 6-8 persen," sambungnya.

Menurut Bahtiar, sejauh ini ada ketimpangan antara jalur laut maupun jalur udara di Kawasan Timur Indonesia. Untuk menjawab ketimpangan tersebut, dibutuhkan gerakan bagaimana menciptakan produk secara massal agar bisa diekspor ke pasar dunia.

Baca Juga : Luwu Timur Sapu Bersih Tiga Penghargaan Sulsel, Bukti Kinerja Nyata Tekan Kemiskinan hingga Dongkrak Ekonomi

"Memang ada ketimpangan antara arus jalur laut maupun udara di KTI. Selama ini mutar-mutar terus tidak bisa diselesaikan. Ini harus dipikirkan bersama," terangnya.

Sementara itu, Ketua Umum Pokja Forum Bappeda KTI, Prof. Dr. Winarni Monoarfa, menjelaskan, saat ini sudah dibahas bagaimana rancangan pembangunan di KTI untuk menyambut Indonesia Emas 2045.

"Izin Bapak Gubernur, kami sudah berdiskusi dengan Kepala Bappeda Provinsi se-KTI terkait pembangunan di KTI ini," kata Prof Winarni.

Baca Juga : LKPJ 2025 Gowa Tunjukkan Dampak Nyata: Kualitas Hidup Naik, Kemiskinan Turun

Sejauh ini, kata dia, rencana pembangunan sudah ada sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) terhadap rancangan akhir Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025.

"Kami sudah berbicara dari berbagi wilayah mulai dari Papua, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi dan Maluku," tutupnya.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Bappenda Provinsi se-KTI, guru besar dari berbagai perguruan tinggi, perwakilan Bappenas, dan Perwakilan Mendagri. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#perikanan laut #Pertanian #Infrastruktur #Jalur Laut #Pertumbuhan Ekonomi #indonesia emas 2045
Youtube Jejakfakta.com