Rabu, 04 Oktober 2023 11:16

Satukan Data dalam Satu Aplikasi Inzting, Ikhtiar Sulawesi Selatan Atasi Stunting

Editor : Nurdin Amir
Peluncurkan aplikasi Inzting (Ikhtiar Men-Zero-kan Stunting) di  di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa malam (03/10/2023). @Jejakfakta/dok. Humas Pemprov Sulsel
Peluncurkan aplikasi Inzting (Ikhtiar Men-Zero-kan Stunting) di di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa malam (03/10/2023). @Jejakfakta/dok. Humas Pemprov Sulsel

Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan SSGI 2022, sebesar 27,2 persen.

Jejakfakta.com, Makassar -- Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo apresiasi penanganan kasus stuting dari hulu hingga ke hilir untuk mencapai zero stunting di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal tersebut disampaikan Hasto usai mengukuhkan Pj. Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan dan Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan menjadi Bapak dan Bunda Asuh Anak Stunting (BAAS) di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa malam (03/10/2023).

Pada acara tersebut juga diluncurkan aplikasi Inzting (Ikhtiar Men-Zero-kan Stunting).

Baca Juga : Tinjau Gedung Simpurusiang, Bupati Irwan Tekankan Kualitas Pengerjaan hingga Tahap Akhir

"Memang ini (aplikasi Inzting) dari hulu sampai hilir mulai dari remaja, mau nikah, hamil kemudian setelah melahirkan. Jadi, setelah melahirkan, Balita dan Baduta tercover semuanya di dalam aplikasi namanya Inzting ikhtiar menzerokan stunting Sulsel," ujar Hasto dalam keterangan persnya.

"Saya apresiasi menyangkut dari hulu hingga ke hilir empat hal dan itulah yang menjadi sasaran utama stunting," sambungnya.

Dalam sambutannya, ia juga mengatakan bahwa Provinsi Sulawesi Selatan telah melaksanakan lima pilar dalam target tujuan pembangunan berkelanjutan pada tahun 2030 yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

Baca Juga : Pemkab Gowa Perkuat Budaya Keamanan Siber ASN Lewat Webinar Cyber Security Awareness 2026

"Yang diberikan kepada para Gubernur ada lima pilar. Pertama, komitmen, kemudian sosialisasi KIE. Ketiga, konvergensi. Keempat, penyediaan pangan dan terakhir data. Hari ini saya lihat komitmen Pak Gubernur luar biasa, jadi BAAS, kemudian KIE juga bagiannya, konvergensi, semua energi dana desa diarahkan ke sana, saya titip Program Keluarga Harapan (PKH), anggaran dari pusat diarahkan untuk stunting sehingga kalau tidak belanja untuk stunting berarti tidak tepat sasaran," jelasnya.

"Keempat, gubernur tadi ke Bulog, jadi ketersediaan pangan di jamin. Kelima, data hari ini di launching berkomitmen untuk satu data. Saya kira lima pilar ini sudah dilaksanakan," paparnya.

Dokter Hasto juga mengingatkan bahwa Bonus Demografi tinggal 13 tahun lagi karena pada tahun 2035 windows of opportunity sudah close, dependency ratio sudah naik, orang-orang tua sudah banyak sehingga ageing population sudah terjadi.

Baca Juga : Wabup Lutim Hadiri HLM TPID Sulsel, Tegaskan Komitmen Stabilitas Harga Jelang Iduladha

"2045 ageing population yang mana pendidikan orang tua di 2035 adalah 8,3 tahun, rata-rata ekonominya menengah ke bawah. Jadi kalau generasi yang di bawahnya ini stunting, waduh berat sekali," terangnya.

"Jangan sampai kita 'growing old before growing rich'. Suatu wilayah sudah melimpah orang tuanya tetapi tidak atau belum naik signifikan pendapat perkapitanya. Menjadi sulit karena bebannya terlalu berat. Jadi, kalo kaya ya sekarang, kalo nggak ya kapan lagi," jelas dokter Hasto.

Terkait peluncuran aplikasi Inzting, Pj. Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan yang ditemui usai acara mengatakan bahwa harus ada satu data agar penanganan stunting bisa tepat sasaran, merata dan tidak dobel.

Baca Juga : Komitmen Perlindungan Anak, TP PKK Luwu Timur Ikut Dorong Percepatan Imunisasi Zero Dose di Sulsel

"Saya sejak awal dulu ada satu data. Karena bagaimana supaya uang yang terbatas itu bisa terkonsolidasi, maka harus berangkat dari satu data. Satu data oleh seluruh instansi kabupaten-kota sama semua. Ini basis datanya sama dan diintegrasikan di tingkat provinsi. Nanti satu pintu untuk dilaporkan ke Kementerian Kesehatan dan BKKBN RI. Kemudian, ada juga data dari BKKBN yang bisa kita koneksikan," jelasnya.

Tak hanya data, Pj Gubernur yang baru dilantik 5 September 2023 ini dalam sambutannya menekankan aspek-aspek yang harus digerakkan dalam percepatan penurunan stunting di Sulawesi Selatan.

"Mengatasi stunting ini kelihatannya memiliki banyak dimensi aspek. Aspek kesehatan, kultur, ekonomi, budaya, pengetahuan, kebiasaan, maupun faktor-faktor di luar kendali manusia seperti alam, dst," terangnya.

Baca Juga : Siaga El Nino, BPBD Gowa Perkuat Koordinasi Cegah Krisis Air hingga Karhutla

Aplikasi Inzting adalah Pengembangan Digitalisasi Inovasi yang memiliki tujuan untuk mewujudkan lingkungan keluarga yang berdaya secara mandiri serta mampu mengupayakan kesehatan pribadi dan ketahanan keluarga secara optimal.

Dukungan dari seluruh komponen masyarakat bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan diharapkan dapat menjadi solusi yang komprehensif dan berkelanjutan terhadap permasalahan stunting di Sulawesi Selatan. Tentunya program yang dirancang disesuaikan dengan kebutuhan yang ditemukan di wilayah ataupun pada keluarga berisiko di masyarakat.

Selain Pj. Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan dan Ketua TP PKK Provinsi Sulawesi Selatan, pada acara ini juga ikut dikukuhkan sebagai BAAS Kepala Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Setiawan Aswad, M.Dev.P.L.G; Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan Dr. dr. H. M. Ishaq Iskandar, M.Kes; dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan Andi Mirna SH.

Adapaun prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan SSGI 2022, sebesar 27,2 persen. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Stunting #aplikasi Inzting #Sulawesi Selatan
Youtube Jejakfakta.com