Selamatkan Lingkungan untuk Generasi, JK: Tanam Pohon Harus Kembali Jadi Budaya

Layanan Kepalangmerahan. Sinergitas tersebut ditandai dalam nota kesepahaman yang ditandatangani antara Ketua PMI, Jusuf Kalla (JK) dan Menteri KLHK Republik Indonesia, Siti Nurbaya di Kantor KLHK, Jakarta, Jumat (8/12/2023). @Jejakfakta/Rudi Gunawan

PMI memiliki 400 ribu anggota yang siap mewujudukan program menanam pohon.

Jejakfakta.com, Jakarta -- Palang Merah Indonesia (PMI) dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia akan bersinergi dalam program Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Layanan Kepalangmerahan. Sinergitas tersebut ditandai dalam nota kesepahaman yang ditandatangani antara Ketua PMI, Jusuf Kalla (JK) dan Menteri KLHK Republik Indonesia, Siti Nurbaya di Kantor KLHK, Jakarta, Jumat (8/12/2023).

Sebelum penandatanganan, JK mengungkapkan, isu climate change atau perubahan iklim saat ini sudah masuk ranah bencana alam. Sehingga kampanye perubahan iklim dan dampaknya saat ini sudah menjadi salah satu tugas utama dari PMI.

"PMI itu bergerak setiap ada bencana, jika tidak ada bencana alam, PMI selalu latihan melakukan pengembangan diri dan penguatan kapasitas," kata JK dalam sambutannya.

Baca Juga : HLH 2026: Ujung Pandang Angkut 108 Kilogram Sampah dari Laut Losari, Libatkan Warga hingga Pelajar

JK menambahkan, perubahan iklim saat ini sudah menjadi hal yang sangat serius. Pasalnya kerusakan lingkungan saat ini dampaknya sudah semakin terasa.

Olehnya itu, ia mengajak kepada KLHK untuk menggaungkan kembali penanaman pohon secara massal. Bahkan bagi JK, penanaman pohon harus kembali jadi budaya Indonesia.

"Cara yang bisa dilakukan adalah menjadikan menanam pohon itu sebagai budaya. Seperti orang-orang tua kita dahulu setiap nikah, khitanan dan acara apapun itu selalu menanam satu pohon," kata Wakil Presiden ke 10 dan 12 tersebut.

Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham Dorong Kolaborasi Antarkota Tangani Krisis Sampah di Raker APEKSI Komwil VI

Menggaungkan tanam pohon sebagai budaya juga akan membuat masyarakat akan marah ketika pohon-pohon yang ditanam itu ditebang oleh siapapun. Pasalnya setiap pohon yang ditanam itu akan menghidupkan swasembada masyarakat sehingga rasa memiliki dan tanggung jawab dari masyarakat lokal akan sangat tinggi.

Selain itu, pohon-pohon yang ditanam harus memberi manfaat kepada masyarakat. "Misalnya pohon mangga, durian atau lainnya tentu masyarakat akan marah karena memiliki nilai ekonomis terhadap masyarakat," ujar JK.

Selain itu, semua pihak juga harus mulai mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menanam pohon sebagai upaya menyelamatkan lingkungan. Ia menyebutkan agar anak-anak mulai diajarkan kembali untuk membuat bibit.

Baca Juga : Pemkab Gowa Dorong Kolaborasi Antar Daerah Hadapi El Nino dan Jaga Keberlanjutan Pertanian

"Hal ini bisa dilakukan dengan melibatkan pemerintah di tingkat daerah, dinas-dinas kehutanan serta para pencinta lingkungan di seluruh daerah," paparnya.

Dengan demikian, JK meyakini penyadaran secara massif serta menjadikan penanaman pohon sebagai budaya akan menjadi titik awal untuk menyelamatkan lingkungan. Ia mencontohkan program yang pernah gagas di era pemerintah Megawati Soekarno Putri, tentang Gerakan Nasional Rehabilitasi Lahan (Gerhan).

Terkait dengan kesepahaman PMI dan KLHK, JK menegaskan PMI memiliki 400 ribu anggota yang siap mewujudukan program tersebut. JK mengungkapkan untuk tahap awal, ia akan menginstruksikan setiap relawan untuk bertanggungjawab menanam 10 pohon.

Baca Juga : Transformasi TPA Antang Dikebut, DLH Makassar Pacu Sistem Sanitary Landfill dan Energi Sampah

"Tahun ini mungkin 10 pohon setiap relawan. Tahun depan kita tingkatkan 20 pohon setiap relawan biar lebih cepat. 400 ribu relawan itu nantinya akan bertanggungjawab terhadap pohon-pohon yang mereka tanam," pungkasnya. (Rudi Gunawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru