Khutbah Idul Fitri, Haedar Nashir Ajak Umat Islam Bangun Hidup yang Moderat

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr H Haedar Nashir, saat Khutbah Idul Fitri 1445 H di Lapangan Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu (10/4/2024). @Jejakfakta/dok. Suara Muhammadiyah

Setiap muslim mesti bersikap wasathiyah atau atau moderat dalam menjalani kehidupan.

Jejakfakta.com, YOGYAKARTA -- Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, mengatakan Puasa Ramadhan yang diejawantahkan sebagai bagian dari kewajiban dalam Islam memiliki makna sebagai menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan kebutuhan biologis yang sah sejak awal waktu fajar sampai terbenam matahari.

Puasa mengandung makna setiap orang beriman mesti memiliki ketahanan diri yang kokoh dari segala urusan duniawi yang keberlebihan.

”Urusan dunia seperti harta, uang, sandang, papan, pangan, kedudukan, kekuasaan, dan hal-hal inderawi yang serba menyenangkan manusia mesti dipenuhi dengan baik dan secukupnya, namun tidak boleh melampaui batas,” ucap Haedar dalam Khutbah Idul Fitri 1445 H di Lapangan Kampus Terpadu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Rabu (10/4/2024) dilansir dari laman Suara Muhammadiyah.

Baca Juga : Bupati Yusran Pimpin Apel Perdana Usai Libur Lebaran, Disiplin ASN Pangkep Capai 98 Persen

Namun realitas saat ini menunjukkan, segala masalah dan penyakit kehidupan manusia sering terjadi karena sikap berlebihan, rakus, dan melampaui batas. Makan dan minum yang berlebihan menimbulkan penyakit di tubuh manusia.

Penyimpangan, penyalahgunaan, korupsi, konflik, serta prahara dalam kehidupan masyarakat dan bangsa sering terjadi karena nafsu menguasai dan rebutan kepentingan yang berlebihan. 

”Karena nafsu ingin menang melampui batas timbullah penghalalan segala cara dalam segala kontestasi kehidupan. Ketika menang bersikap angkuh diri tanpa rasa syukur. Ketika kalah jatuh diri dan larut dalam kekecewaan berkepanjangan tanpa sikap tawakal. Kontestasi politik, olahraga, dan kehidupan sehari-hari jika disikapi berlebihan banyak menimbulkan masalah seperti saling benci dan permusuhan yang keras dalam hubungan antarmanusia,” ujarnya.

Baca Juga : Takbir Bergema di Masjid Agung Malili, Bupati Irwan Ajak Jadikan Idulfitri Momentum Akselerasi Pembangunan

Sementara agama Islam mengajarkan hidup cukup dengan hasil dari ikhtiar yang bersifat halal dan baik. Sebaliknya segenap umat Islam mesti menjauhi segala hal yang melampaui batas. Yaitu seperti sikap ekstrem yang mengarah pada berlebihan (ghuluw) maupun yang mengarah pada penegasian (tafrith) dan mengurang-ngurangkan (tanqis) tidak dibenarkan oleh ajaran agama Islam. 

”Ketika harus bernahyu-munkar pun mesti dengan cara yang makruf atau baik; di samping  dengan hikmah, edukasi yang baik, dan mujadalah yang lebih baik sejalan pendekatan dakwah yang diajarkan Allah (QS Al-Nahl: 125),”tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Guru Besar Sosiologi UMY ini mengajak kaum muslimin melalui puasa Ramadan dan Idul Fitri untuk membangun sikap hidup tengahan dan tidak berlebihan.  Menurutnya setiap muslim mesti bersikap wasathiyah atau atau moderat dalam menjalani kehidupan.

Baca Juga : Bupati Yusran Shalat Id di Pegunungan, Warga: "Beliau Dekat dengan Kami"

"Bangun keseimbangan hidup antara ruhani dan jasmani, jiwa dan fisik, individu dan kolektif, ibadah mahdhah dan muamalah, serta antara dunia dan akhirat secara utuh, bermakna, dan bertujuan utama. Di situlah makna hidup manusia yang bermartabat mulia (fi ahsan at taqwim) yang membedakannya dengan makhluk Tuhan lainnya,” tandasnya.(*)

Sumber: Suara Muhammadiyah

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terbaru