Jejakfakta.com, MAKASSAR — Perumda Pasar Makassar Raya terus memperkuat upaya transformasi digital di pasar tradisional. Hal ini ditandai dengan pertemuan lanjutan bersama Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Selatan, Rabu (25/6/2025), yang digelar di Kantor BI Sulsel.
Pertemuan tersebut menjadi agenda kedua antara Perumda Pasar Makassar Raya dan Bank Indonesia dalam membahas progres Program Digitalisasi Pasar.

Program ini tengah dijalankan di dua pasar tradisional sebagai proyek percontohan, dengan menggandeng Bank Sulselbar sebagai mitra penyedia layanan keuangan digital.
Baca Juga : Bank Sulselbar Dukung Rakernas II ASITA 2026 di Makassar, Perkuat Ekosistem Pariwisata
Bank Sulselbar dipercaya sebagai penyedia layanan pembukaan rekening bagi pedagang serta integrasi sistem QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Dengan adanya fasilitas tersebut, pedagang pasar dapat melayani transaksi secara non-tunai sekaligus mengakses layanan perbankan yang selama ini belum terjangkau.
“Tujuan utama dari digitalisasi pasar ini adalah menciptakan lingkungan dagang yang lebih modern, efisien, dan inklusif, tanpa menghilangkan identitas pasar tradisional itu sendiri,” ujar Plt. Direktur Utama Perumda Pasar Makassar Raya, Ali Gauli Arief, usai pertemuan.
Ia menambahkan bahwa kehadiran teknologi seperti QRIS akan membantu para pedagang kecil dalam memperluas jangkauan pembeli, khususnya di era di mana masyarakat mulai beralih ke pembayaran digital.
Baca Juga : Pemkot Makassar Dorong UMKM Naik Kelas, Literasi Keuangan Kini Tak Sekadar Teori
Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh jajaran internal Perumda Pasar, antara lain Staff Ahli Direksi, Kepala Bagian Pengembangan Usaha dan Pembinaan Pedagang, serta Kepala Sub-Bagian Kerja Sama dan Humas. Sementara dari pihak Bank Indonesia dan Bank Sulselbar hadir tim pengembangan inklusi keuangan dan digitalisasi transaksi.
“Kami menyambut baik langkah ini. Digitalisasi pasar adalah bagian dari komitmen BI dalam mendukung Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) serta inklusi keuangan, khususnya di sektor informal,” ungkap perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Anita Sari, Kepala Divisi Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah.
Saat ini, dua pasar yang sedang dijadikan proyek percontohan digitalisasi belum disebutkan secara resmi. Namun pihak Perumda menyebut hasil evaluasi awal menunjukkan respon positif dari para pedagang yang mulai terbiasa menggunakan QRIS.
Baca Juga : Digitalisasi PAD Sidrap 2026, Bapenda Apresiasi Bank Sulselbar dan OPD
“Kami akan terus dampingi para pedagang agar mereka tidak merasa ditinggalkan di tengah perkembangan teknologi. Digitalisasi ini harus memudahkan, bukan menyulitkan,” pungkas Ali.
Program ini diharapkan dapat diperluas ke pasar-pasar lainnya di Kota Makassar dalam waktu dekat, seiring meningkatnya kesiapan infrastruktur dan literasi digital para pedagang.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




