Jejakfakta.com, MAKASSAR – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan menduga kebocoran pipa minyak milik PT Vale Indonesia Tbk yang terjadi di Desa Lioka, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, pada Sabtu, 23 Agustus 2025 lalu, merupakan bentuk kejahatan lingkungan. Walhi mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum untuk segera menindak tegas perusahaan tambang nikel tersebut.
Direktur Walhi Sulsel, Muhammad Al-Amin, menyatakan bahwa kebocoran minyak dari pipa milik PT Vale telah mencemari sungai dan lahan pertanian warga. Ia menilai kejadian ini bukan kali pertama dan berdampak serius terhadap ekosistem serta kehidupan masyarakat sekitar.

“Kami melihatnya ini sudah bagian dari kejahatan lingkungan karena praktek kebocoran itu bukan hal baru. Ini kejadian berulang, dan merusak lingkungan,” tegas Amin, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga : Angkat Potensi Daerah, Bupati Irwan Paparkan Kekuatan Luwu Timur di Hadapan Pangdam XIV Hasanuddin

Amin juga menekankan bahwa pencemaran ini tidak bisa dianggap sebagai kelalaian teknis semata. Dampaknya, menurutnya, mencakup kerusakan jangka panjang bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat.
“Dampak korban yang menerima pencemaran ini adalah masyarakat langsung dan ekosistem lingkungan lainnya,” tambahnya.
Walhi Sulsel meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya Deputi Penegakan Hukum Lingkungan, untuk segera turun tangan. Mereka juga meminta Kepolisian RI mengusut pelaku yang bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Baca Juga : Sinergi Keamanan dan Pembangunan: Pangdam XIV/Hasanuddin Apresiasi Komitmen Luwu Timur
“Pemerintah dan penegak hukum harus bisa menindak tegas dan menghukum. Kalau dibiarkan, kejadian ini bisa terulang di tempat lain,” tegas Amin.
Tuntutan Ganti Rugi dan Transparansi
Selain penegakan hukum, Amin juga meminta PT Vale memberikan kompensasi atau ganti untung kepada masyarakat terdampak. Saat ini, pihak Walhi tengah mengumpulkan data terkait kerugian warga.
Baca Juga : WALHI Sulsel: Janji Dialog Wali Kota Makassar Dikhianati, Warga Diintimidasi Saat Kunjungan Lokasi PLTSa
“Kami meminta PT Vale memberikan ganti untung kepada masyarakat yang menjadi korban kebocoran minyak ini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa minyak yang bocor diduga mengandung bahan berbahaya. Walhi meminta perusahaan transparan kepada publik mengenai jenis minyak yang bocor serta sistem pengelolaan limbah yang mereka terapkan.
“PT Vale harus membuka diri kepada publik. Ini minyak apa, dari mana, dan bagaimana bisa tumpah?” tandas Amin.
Baca Juga : WALHI Sulsel Bentuk Jaringan Advokat Se-Sulawesi, Siap Gugat Ekspansi PLTU Captive dan Industri Ekstraktif
Respons PT Vale
Menanggapi insiden tersebut, Presiden Direktur PT Vale, Bernardus Irmanto, menyatakan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama perusahaan. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan bertanggung jawab dan menangani situasi ini secara transparan.
“Fokus utama kami adalah menghentikan penyebaran aliran minyak. Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah dan semua pemangku kepentingan,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (25/8/2025).
Baca Juga : Di Era Munafri-Aliyah, Makassar Cetak 10 Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional
Sementara itu, Head of External Relations PT Vale, Endra Kusuma, menambahkan bahwa pihaknya bersama pemerintah dan masyarakat telah melakukan berbagai upaya penanganan bersama.
“Kami berkomitmen menyampaikan perkembangan secara terbuka. Semua langkah kami fokus pada keselamatan warga, pemulihan lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Towuti,” ungkap Endra.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




