Sabtu, 13 September 2025 10:10

Dari Toraja ke Bukit Tigapuluh: Tradisi dan Ekosistem Terhimpit Perubahan Zaman

Editor : Redaksi
Penulis : Sherine Grace
Diskusi bertajuk “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi”, Jumat (12/9/2025). @Jejakfakta/dok. Istimewa
Diskusi bertajuk “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi”, Jumat (12/9/2025). @Jejakfakta/dok. Istimewa

Head CSER Permata Bank, Hanggoro Seno, memaparkan upaya pelestarian Gajah Sumatera melalui program PermataHati.

Jejakfakta.com, MAKASSAR – Festival Media 2025 mengangkat isu penting terkait masyarakat adat melalui diskusi bertajuk “Ritual dan Rasa: Reaksi Masyarakat Adat dengan Pangan dan Energi”, Jumat (12/9/2025). Diskusi ini membahas dampak modernisasi terhadap tradisi dan lingkungan hidup, terutama di wilayah Toraja dan kawasan Bukit Tigapuluh, Sumatera.

Dalam forum tersebut, hadir Eko Rusdianto, jurnalis dan Grantee dari Pulitzer Center, yang memaparkan perubahan nilai-nilai simbolik dan praktik budaya masyarakat Toraja. Ia menyoroti bagaimana modernisasi telah menggeser makna simbol-simbol adat, seperti ukiran ayam pada rumah adat Tongkonan.

“Ukiran ayam bukan hanya hiasan, tapi memiliki makna spiritual. Ayam menghadap barat melambangkan hubungan dengan Tuhan, sementara yang ke timur melambangkan kehidupan. Tapi kini makna itu mulai terlupakan,” jelas Eko.

Baca Juga : Sarasehan AJI di Festival Media 2025: Dorong Liputan Indepth dan Perkuat Jejaring Alternatif

Ia juga mengangkat tradisi Bulu Londong atau adu ayam yang dahulu digunakan sebagai bagian dari ritual kematian sekaligus penyelesaian sengketa. Namun, kini tradisi tersebut tergeser akibat masuknya ayam ras impor dari Filipina dan Peru.

“Dulu ayam lokal jadi bagian penting dari ritual. Sekarang orang memilih ayam ras karena murah, sekitar Rp40.000–Rp50.000 per ekor. Akibatnya, ayam lokal makin sulit ditemukan,” ungkapnya.

Perubahan ini terasa nyata dalam ritual penyembelihan ayam kaliabo di Makale, Toraja. Dulu ayam besar berkaki kuning digunakan dalam persembahan, kini sering digantikan ayam kecil karena pasokan ayam lokal menipis.

Baca Juga : Melawan Greenwashing, Ancaman Kapitalisme Hijau terhadap Hutan dan Masyarakat Adat

Sementara itu, dari sisi lingkungan, diskusi juga menyoroti kondisi ekosistem di Bukit Tigapuluh, Jambi. Head CSER Permata Bank, Hanggoro Seno, memaparkan upaya pelestarian Gajah Sumatera melalui program PermataHati.

“Bukit Tigapuluh adalah salah satu habitat terakhir Gajah Sumatera. Saat ini hanya tersisa sekitar 120 ekor. Kami berupaya melindungi mereka sambil tetap menjaga ruang hidup masyarakat adat yang tinggal di sana,” ujar Hanggoro.

Dalam 25 tahun terakhir, lebih dari 70 persen hutan Sumatera telah hilang, mengancam keberadaan satwa langka serta kehidupan 221 jiwa masyarakat adat yang tinggal di kawasan konservasi tersebut.

Baca Juga : Gustalcom Gelar Restorasi Terumbu Karang di Pulau Bone Tambung Sambut HUT RI ke-80

Diskusi ini menjadi pengingat penting bahwa modernisasi dan pembangunan harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya dan lingkungan hidup. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Festival Media 2025 #masyarakat adat #Toraja #Bukit Tigapuluh #Gajah Sumatera #tradisi Bulu Londong #ayam lokal #PermataHati #perubahan tradisi #ekosistem Sumatera #pelestarian lingkungan #ayam ras impor
Youtube Jejakfakta.com