Jumat, 13 Januari 2023 22:35

Penyandang Difabel Fisik Ini Berhasil Kembangkan Bisnis Ayam Organik

Editor : Herlina
Sulaiman, Ketua Kelompok Waliko, di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang mendapat pendampingan dan pelatihan dari PT Vale Indonesia Tbk, melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. (Foto-foto: Jejakfakta.com)
Sulaiman, Ketua Kelompok Waliko, di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang mendapat pendampingan dan pelatihan dari PT Vale Indonesia Tbk, melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat. (Foto-foto: Jejakfakta.com)

Kandang ayam yang berada di tengah perkampungan, berdampingan dengan rumah tetangga, tidak terganggu sama sekali, karena ternak organik, tidak mencemari lingkungan, dan tidak menghasilkan polusi bau.

Namanya Sulaiman, usianya 37 tahun. Di siang terik, ia duduk di atas kursi roda didorong oleh rekannya menyambut di depan kandang ayam kampung organik milik Kelompok Waliko, di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Sulaiman atau yang akrab disapa Eman, adalah difabel fisik. Dia lumpuh saat berusia 12 tahun dan akhirnya putus sekolah. "Saat itu saya kelas lima sekolah dasar (SD), saya mengalami demam, dan akhirnya seperti, sekarang kondisinya," cerita Eman.

Kondisi tersebut tidak menjadikan Eman minder. Dia berusaha terus bangkit, yang pada akhirnya, di usia 25 tahun, mulai merintis menjadi peternak ayam kampung, karena sedari kecil, memang senang beternak ayam.

Baca Juga : Besok, Pemkab Lutim Mulai Buka Pendaftaran Arus Balik Gratis

"Sebagai anak sepasang petani, tentu kehidupan saya tidak lepas dari pekerjaan orang tua. Dan untungnya mereka dan saudara-saudara juga ikut mendukung apa yang saya inginkan," sebut Eman.

Bermodalkan kandang bambu sepetak di halaman belang rumahnya, Eman memulai beternak ayam kampungnya. "Awalnya belum organik, karena masih memanfaatkan pakan dan obat-obatan, serta vaksin ayam yang mengandung bahan kimia," ungkapnya.

Tapi saat ini, bersama Kelompok Woliko, bersama Eman sebagai ketua kelompoknya, meski kandang itu berada di tengah perkampungan, karena kandangnya berdekatan dengan rumah tetangga, tapi sama sekali tidak mencemari lingkungan, karena tidak menghasilkan polusi bau sama sekali, karena yang mereka kembangkan menjadi ternak ayam organik.

Baca Juga : Dua Anggota Pengawas TPS di Luwu Timur Jalani Rawat Inap Karena Diduga Kelelahan

Ratusan ayam yang dipeliharanya, kini diberi pakan dari bahan dan tumbuhan sekitar rumahnya, yang diolah menjadi pakan menggunakan campuran konsentrat, dedak gabah, minyak khusus dan obat-obatan.

Bila bukan musim panen padi, Eman akan menggunakan ampas tahu sebagai pengganti dedak gabah. Kegiatan itu dimulai sejak 2019. Bahkan untuk obat atau vaksin untuk ayam, mereka meracik sendiri jamu yang diberikan kepada ayam sebanyak dua minggu sekali.

"Jamu ayam terbuat dari tanaman herbal seperti jahe, temulawak, dan kencur. Jamu ini juga bisa diminum oleh manusia. Juga memproduksi cairan mikro organisme lokal yang digunakan sebagai disinfektan alami yang terbuat dari daun bambu kering, air kelapa, dan nasi sisa. Disinfektan ini berguna untuk menghilangkan bakteri pembusuk di kandang, urai Eman.

Baca Juga : Kejari Luwu Timur Periksa 20 Saksi Dugaan Praktik Mafia Tanah Pencadangan Transmigrasi di Towuti

Pertengahan 2022 Kelompok Waliko mendapat bantuan berupa kandang, day old chicken (DOC), pendampingan dan pelatihan dari PT Vale Indonesia Tbk, melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).

"Awalnya, kami dapat bantuan kandang, 500 DOC, dan pelatihan yang masih berjalan sampai sekarang. Dan kami membentuk sebuah kelompok usaha yang terdiri dari 12 orang bernama Kelompok Woliko," ungkap Eman.


Baca Juga : 756 Penari Sambut Pj Gubernur Sulsel di HUT Luwu ke-756 dan HPLR Ke-78

Dia pun mengaku, dengan menggunakan sistem organik rasio pada DOC yang bisa mencapai dewasa jauh lebih besar, termasuk jumlah rasio ayam yang mati hanya 2-3%. "Ayam mati itu, juga karena kejepit kandang yang terbuat dari bambu. Ada juga salah penanganan, tapi bukan karena penyakit," aku Eman.

Ayam kampung organik ini dapat dipanen pada usia 70 hari atau sekitar 2,5 bulan. Sedangkan ayam kampung non organik alias konvensional membutuhkan waktu hingga 5-6 bulan untuk dapat dipanen.

Omzet peternakan ayam kampung organik yang dipimpin Eman bisa mencapai angka Rp20 juta per bulan. Itu jika harga ayam hidup dibanderol dengan harga Rp65 ribu per ekor.

Baca Juga : Logistik Pemilu di Luwu Timur Aman, Satu TPS di Blank Spot Area

"Setiap bulan, peternakan kita ini bisa menjual hingga 300 ekor atau lebih tergantung permintaan. Ayam organik ini jauh lebih menguntungkan secara finansial, karena harga jualnya lebih mahal," Eman melanjutkan.

Di Kelompok Waliko yang diketuai Eman, tidak hanya beternak ayam kampung organik, tapi juga mengelola sebuah lahan sayuran organik seperti selada dan kangkung, kolam ikan nila, yang dikelilingi tanaman obat keluarga (Toga) untuk bahan jamu ayam.

Semuanya satu kesatuan. Karena kotoran yang dihasilkan ayam itu dijadikan pupuk kompos, yang dimanfaatkan memupuk tanaman organik yang lahannya sekitar 200 meter dari kandang ayam. Karena itu adalah bisnis yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Yang bertugas mengurus dan membuat kompos itu bernama Taufik. Kalau yang bertugas mengelola pakan ternak itu Istiqamal. Dia juga merangkap sebagai bendahara Kelompok Waliko. Yang urus keuangan dia," tambah Eman.

Sayur organiknya ditanam dengan metode akuaponik, sehingga dibawahnya dibangun kolam ikan nila. "Sayuran dijual dengan harga Rp5.000 per ikat. Beda dengan sayur non organik yang harganya paling tinggi setengah dari itu. Sehingga omzet dari sayur organik di lahan kecil itu sekitar Rp1 juta per bulan," tambah Abdul Halim, bagian hidroponik Kelompok Waliko.

Selain di jual di pasar, sebagian hasil dari peternakan dan penanaman sayur organik yang dihasilkan Kelompok Waliko, dibeli oleh PT Vale Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan pangan di area tambang mereka.

Direktur External Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma menyebut apa yang dilakukan PT Vale sebagai komitmennya terhadap inklusivitas, dan salah satunya, dengan membina peternakan ayam organik melalui Kelompok Woliko. Dan untuk kelompok itu, program pemberdayaan dimulai dengan assessment pada September 2021.

"Harapannya, program ini dapat mensejahterakan masyarakat Desa Matompi, dan ikut menginspirasi pemuda desa lain untuk mau berusaha menciptakan peluang wirausaha yang ada di desanya, tidak melulu menggantungkan hidup menjadi pekerja," sebut Endra.

PT Vale akan terus mendorong kemandirian masyarakat melalui inisiatif kewirausahaan seperti yang dirintis oleh Kelompok Woliko. Dengan di isi mereka yang mayoritas usia produktif atau pemuda, bahkan mereka mampu tetap berswadaya di tengah keterbatasan yang ada. "Mereka inspirasi bagi semua," pungkas Endra. (**)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Ayam Organik #Kelompok Waliko #Luwu Timur #Pemberdayaan Masyarakat #Organik
Youtube Jejakfakta.com