Jejakfakta.com, MAKASSAR — Dua bulan setelah insiden kebocoran minyak milik PT Vale Indonesia Tbk di Luwu Timur, sejumlah warga terdampak mengaku belum menerima ganti rugi. Aliansi Solidaritas Rakyat Korban PT Vale (SORAK) mendesak perusahaan tambang asal Brasil itu untuk segera bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan sosial yang terjadi.
Ketua SORAK, Muh. Said, menyatakan hingga kini masih ditemukan sisa minyak di beberapa titik lahan pertanian, danau, serta muara Danau Towuti. Kondisi tersebut, kata dia, menunjukkan penanganan dampak kebocoran belum tuntas.

“Alih-alih menunjukkan keseriusan, PT Vale justru membangun narasi seolah penanganan telah selesai dan kondisi sudah aman. Padahal di lapangan, warga masih menemukan minyak di permukaan air, sedimen sungai, dan sawah,” ungkap Said dalam konferensi pers di sekretariat AJI Makassar, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga : Banjir Lumpur di Ussu Terulang, WALHI Sulsel Desak Tambang Nikel PT PUL Dihentikan
Menurut SORAK, kebocoran minyak yang terjadi pada 23 Agustus 2025 telah menimbulkan kerusakan ekosistem dan menghentikan aktivitas warga. Petani tidak bisa mengairi sawah, sementara nelayan kehilangan sumber penghidupan.
“Warga terdampak belum menerima kompensasi yang dijanjikan. PT Vale harus bertanggung jawab penuh atas kerusakan lingkungan, hilangnya mata pencaharian, dan dampak kesehatan akibat pencemaran,” tegas Said.
SORAK juga menilai penegakan hukum terhadap kasus ini berjalan lamban, sementara Pemerintah Daerah dan DPRD Luwu Timur disebut melakukan pembiaran. Mereka mendesak aparat penegak hukum mengambil langkah tegas dan meminta pemerintah menghentikan sementara kegiatan operasional PT Vale hingga tanggung jawab pemulihan diselesaikan.
Baca Juga : HUT ke-27 Luwu Utara, Bupati Irwan Dorong Sinergi Antarwilayah untuk Percepat Kemajuan Luwu Raya
Menanggapi tudingan tersebut, Head of External Relations PT Vale Indonesia Tbk, Endra Kusuma, menyebut penanganan pascakejadian telah menunjukkan kemajuan signifikan. Dari 11 titik terdampak, enam titik dinyatakan sudah bersih secara visual dari sisa minyak.
“Sejak awal, kami memprioritaskan keselamatan masyarakat dan kondisi lingkungan. Seluruh sumber daya dikerahkan untuk menghentikan aliran minyak dan meminimalkan dampak,” kata Endra dalam keterangan tertulisnya.
Menurutnya, PT Vale melakukan monitoring berkala di seluruh lokasi terdampak bersama pemerintah daerah dan masyarakat. Beberapa titik, seperti di Desa Lioka, sejak pertengahan September sudah tidak memerlukan pembersihan lanjutan karena air kembali jernih.
Baca Juga : Petani Laoli Tolak Santunan Lahan Proyek Nasional, Kirim Surat Keberatan ke Pemkab Luwu Timur
Endra menambahkan, proses pemulihan dilakukan secara transparan dan dapat diaudit. Perusahaan juga bekerja sama dengan akademisi serta laboratorium independen untuk menguji kualitas air dan tanah.
“Data uji dan ringkasan teknis akan kami publikasikan secara bertahap. Kami memahami keresahan masyarakat, dan itu menjadi motivasi kami untuk terus mempercepat pemulihan lingkungan,” ujarnya.
Pada 19 Oktober 2025, rapat evaluasi penanganan kasus dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup di Depok. Dalam forum itu, PT Vale melaporkan progres pemulihan dan menyatakan siap menindaklanjuti arahan regulator.
Baca Juga : Pencanangan Desa Cantik, Wabup Puspa: Data Harus Akurat dan Berdampak
Kebocoran minyak PT Vale di Luwu Timur terjadi pada 23 Agustus 2025. Tumpahan minyak dilaporkan mencemari area sungai dan lahan pertanian di sekitar Danau Towuti. Insiden ini memicu protes dari warga dan organisasi lingkungan karena dianggap merusak ekosistem dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




