Sabtu, 03 Januari 2026 17:42

Ayam dan Manusia

Editor : Redaksi
Abdul Karim (Ketua Dewas LAPAR Sulsel/Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora). @Jejakfakta/dok. Pribadi
Abdul Karim (Ketua Dewas LAPAR Sulsel/Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora). @Jejakfakta/dok. Pribadi

Ayam di Indonesia menjadi hewan mitologis yang dinamis dalam sejarah Nusantara. Kisah-kisah tentang ayam bertebaran di berbagai daerah, berkisar pada persembahan, upeti, dan konsumsi di semua lapisan sosial.

Oleh: Abdul Karim (Ketua Dewas LAPAR Sulsel/Anggota Majelis Demokrasi & Humaniora)

Pahamkah kita akan ayam? Mungkin makhluk yang satu ini sangat lazim bagi kita. Konon, ayam merupakan salah satu makhluk kuno di dunia. Dikutip dari Nationalgeographic.co.id, pada mulanya ayam berasal dari ayam hutan. Sekitar 1500 SM, orang-orang di Asia Tenggara mulai menanam padi dan millet secara kering, sebuah proses yang melibatkan pembukaan area hutan dan penanaman ladang dengan biji-bijian. Situasi ini menarik ayam hutan keluar dari sarangnya.

Sumber lain menyebutkan bahwa sekitar tahun 1000 SM, ayam hutan mulai dipelihara. Ayam kemudian menyebar ke Tiongkok Tengah, Asia Selatan, dan Mesopotamia, kemungkinan melalui jalur perdagangan yang mirip dengan Jalur Sutra, yang semakin ramai dilalui sekitar tahun 200 SM.

Baca Juga : Optimalisasi Gerakan Pencegahan Bawaslu, Abdul Karim: Rakyat Digerakkan Bukan dengan Pasal-pasal, Tapi Politik

Antara sekitar 800 SM hingga 700 SM, ayam mencapai Tanduk Afrika sebagai bagian dari perdagangan maritim yang berkembang. Pelaut Yunani, Etruska, dan Fenisia diduga turut menyebarkan ayam ke seluruh kawasan Mediterania.

Pada masa itu, ayam belum dikonsumsi, melainkan dipelihara karena dianggap eksotik. Dalam perkembangannya, ayam kemudian menjadi hewan ritual. Ia menjadi salah satu makhluk yang dipersembahkan dalam berbagai upacara adat dan kepercayaan.

Prancis, negeri makmur itu, menggunakan logo ayam jantan. Orang Romawi menyebut suku asli Prancis sebagai “Galia”. Dalam bahasa Latin, kata Gallus berarti orang Galia sekaligus ayam jantan (coq). Kaum Galia menjadikan ayam sebagai lambang keagamaan yang melambangkan harapan dan keyakinan. Sementara itu, raja-raja Prancis menjadikan ayam jantan sebagai simbol keberanian.

Baca Juga : Caleg Jangan Hanya Andalkan Baliho, Abdul Karim: Tolong Tawarkan Gagasan Politiknya

Saat Revolusi Prancis pecah (1789–1799), ayam jantan menjadi simbol perjuangan rakyat serta nilai-nilai kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Hingga kini, ayam menjadi salah satu identitas kebangsaan Prancis.

Di Indonesia, ayam berasal dari ayam hutan merah (Gallus gallus) Asia Tenggara, termasuk subspesies lokal seperti Gallus gallus bankiva. Ayam kampung di negeri ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Kutai (sekitar 2000 SM) dan digunakan sebagai upeti atau persembahan wajib kepada kerajaan, yang secara tidak langsung menjaga kelestariannya.

Barangkali karena usianya yang kuno, ayam di Indonesia menjadi hewan mitologis yang dinamis dalam sejarah Nusantara. Kisah-kisah tentang ayam bertebaran di berbagai daerah, berkisar pada persembahan, upeti, dan konsumsi di semua lapisan sosial.

Baca Juga : Kembalikan Politik pada “Khittahnya”, Jangan Lagi Membodohi Rakyat

Selain untuk keperluan upeti dan ritual, ayam di Nusantara juga dipertarungkan dalam tradisi yang dikenal sebagai sabung ayam. Pada masa kerajaan Nusantara pra-Islam, sabung ayam sering menjadi tontonan rakyat dan digolongkan sebagai bagian dari kebudayaan.

Pada tahun 1847, ayam Sumatra menjadi salah satu ayam lokal Indonesia yang diakui dunia. Pada 1920-an di Jawa, kolonial Belanda menemukan ayam Cemani yang kemudian menjadi sensasi internasional pada 1990-an karena keunikannya—berwarna hitam sepenuhnya.

Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa ayam kampung Indonesia memiliki tingkat keaslian genetik sekitar 75 persen (Sartika et al., 2008). Hal ini menandakan bahwa ayam lokal Indonesia memiliki ciri genetik khas yang membedakannya dari ayam-ayam di belahan dunia lain.

Baca Juga : Abdul Karim: NU Harus Menjadi Obat untuk Bangsa Ini

Di negeri ini, ayam juga tergolong makhluk ritual. Dalam berbagai kebudayaan Nusantara, ayam kerap dipersembahkan dalam ritual. Dalam tradisi Islam, misalnya, ayam disembelih pada perayaan hari raya. Selain sebagai makhluk ritual dan upeti, ayam juga digunakan sebagai media pengobatan tradisional hingga kini.

Dengan sejarah panjang dan kekhasannya, burung Garuda dalam lambang Pancasila memiliki kemiripan dengan ayam. Bulu, paruh, sayap, ekor, serta kakinya menyerupai seekor ayam.

Di beberapa daerah, ayam masih diposisikan sebagai makhluk ritual dan sarana pengobatan tradisional. Namun seiring perkembangan zaman, ayam lebih banyak berfungsi sebagai makhluk konsumsi manusia. Bahkan, ayam menjadi salah satu komoditas perdagangan global.

Baca Juga : Rahim Tak Gentar

Sebuah sumber mencatat bahwa Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam populasi ayam, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat, dengan jumlah mencapai sekitar 1,2 miliar ekor.

Populasi ayam yang besar ini membuat ragam jenis ayam di Indonesia sangat beragam. Di Sulawesi Selatan, misalnya, terdapat ayam Bangkok dan ayam Filipina yang sering diadu dengan metode yang menyerupai perjudian. Selain itu, ada ayam ras petelur. Ketika tidak lagi produktif, ayam petelur dijual di pasar tradisional, rumah makan, hingga restoran.

Pada kesempatan lain, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pernah menyelenggarakan lomba ayam ketawa. Seorang rekan saya bahkan pernah menjadi juara. Konon, ayam ketawanya dirawat secara khusus hingga pada malam hari ditidurkan di dalam kelambu.

Di Kota Makassar, konsumsi ayam tergolong tinggi, terutama ayam broiler atau ayam potong. Hampir setiap hari, warga lintas usia menyantap daging ayam. Terlebih dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa, ayam menjadi menu yang hadir hingga ke sekolah-sekolah.

Masalahnya, warga kota barangkali jarang lagi melihat ayam yang berkokok. Kita mengenal ayam sebatas hidangan yang tertelan dan berakhir menjadi kotoran.

Karena tak mengenal ayam secara utuh, kita pun tak mengenal sifat-sifatnya. Padahal, beberapa sifat ayam dapat menjadi pelajaran bagi manusia. Ayam memiliki perilaku sosial seperti hidup berkelompok, memiliki hierarki (pecking order), serta naluri kuat dalam mencari makan.

Perilaku hidup berkelompok pada ayam mencerminkan sifat manusia. Ayam dan manusia sama-sama hidup berkelompok. Namun, kehidupan berkelompok ini sering berubah menjadi konflik akibat perebutan pakan. Manusia pun demikian, kerap berkonflik karena urusan perut.

Perbedaannya, konflik antar ayam tidak menyisakan dendam. Beberapa menit kemudian mereka kembali akur tanpa memerlukan juru damai. Sementara konflik antar manusia cenderung berlangsung lama, diliputi dendam, dan membutuhkan penengah.

Sifat lain ayam adalah kemampuannya berkomunikasi melalui beragam suara serta kebiasaannya tidur di tempat tinggi. Bukankah manusia juga memiliki beragam pendapat dan suara? Bukankah manusia cenderung ingin berada di posisi tinggi, meski dengan berbagai cara?

Begitulah ayam. Makhluk kuno yang sering kita santap ini ternyata memiliki banyak kemiripan dengan manusia. Namun ada satu perbedaan mencolok: ayam cepat berdamai setelah berkonflik, sementara manusia sering berkonflik dan lama menemukan perdamaian.

Barangkali, manusia perlu meniru peradaban ayam-ayam itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#ayam dan manusia #sejarah ayam #budaya nusantara #ayam ritual #ayam kampung Indonesia #refleksi sosial #Abdul Karim
Youtube Jejakfakta.com