Selasa, 20 Januari 2026 18:27

Menembus Jurang Bulusaraung, Tim SAR Bertahan 30 Jam Demi Evakuasi Korban Pertama ATR 42-500

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1/2026).  Operasi teknis berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman mencapai ratusan meter. @Jejakfakta/dok. Basarnas Makassar
Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1/2026). Operasi teknis berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman mencapai ratusan meter. @Jejakfakta/dok. Basarnas Makassar

Tim kedua melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan. Selanjutnya dilakukan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju kampung baru melalui jalan setapak sejauh sekitar 15 kilometer dengan melewati medan bervariasi berupa punggungan dan aliran sungai.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta–Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, Kabupaten Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, dilakukan melalui operasi teknis berisiko tinggi di medan ekstrem dengan kedalaman mencapai ratusan meter.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menyampaikan bahwa tim SAR gabungan melakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan.

“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif.

Baca Juga : Basarnas Makassar Gelar Operasi SAR Nelayan Hilang di Perairan Pelabuhan New Port Pelindo

Sebanyak 10 personel dari unsur Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.

Salah satu rescuer Basarnas Makassar yang turun langsung ke jurang, Rusmadi, mengungkapkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan.

Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan dalam kondisi tersangkut di dahan pohon pada pukul 13.43 WITA. Setelah itu, tim melakukan proses packing jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada pada kemiringan sekitar 30 derajat dan tepat di bibir tebing.

Baca Juga : Operasi SAR ATR 42-500 di Bulusaraung Resmi Ditutup, Black Box Jadi Kunci Investigasi KNKT

Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter. Namun, keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.

“Setelah dilakukan diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.

Selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, sehingga pergerakan tim semakin terbatas.

Baca Juga : SRU Udara Tuntaskan Evakuasi 7 Paket di Medan Pegunungan Sulsel, Kabasarnas Turun Langsung Pantau Operasi ATR PK-THT

Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.

“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.

Ia menambahkan, pada siang hari berikutnya (19/01), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.

Baca Juga : Basarnas Percepat Evakuasi di Bulusaraung, Dua Paket Tiba di Base Ops, Total Temuan Capai 11 Paket

“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.

Tim kedua melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam perjalanan (20/01). Selanjutnya dilakukan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju kampung baru melalui jalan setapak sejauh sekitar 15 kilometer dengan melewati medan bervariasi berupa punggungan dan aliran sungai.

Evakuasi kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana. Dari lokasi tersebut, jenazah direncanakan dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk diserahkan kepada tim DVI.

Baca Juga : Enam Korban ATR 42-500 Ditemukan Hari Ini, Satu Berhasil Dievakuasi dari Jurang Sedalam 350 Meter

Hingga berita ini diturunkan, korban pertama masih berada di Lampeso. Informasi selanjutnya akan terus dilaporkan sesuai perkembangan di lapangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Evakuasi Pesawat Jatuh #ATR 42-500 #kecelakaan pesawat Makassar #sar makassar #Basarnas #Bulu Saraung #Maros Pangkep #Evakuasi jenazah #medan ekstrem #berita SAR
Youtube Jejakfakta.com