Jumat, 13 Maret 2026 20:39

WALHI Sulsel Konsolidasikan Pecinta Alam, Dorong Gerakan Advokasi Lingkungan yang Lebih Kuat

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Konsolidasi komunitas pecinta alam guna memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan hidup di Kopi Tiam, Jumat (13/3/2026). @Jejakfakta/dok. Walhi Sulsel
Konsolidasi komunitas pecinta alam guna memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan hidup di Kopi Tiam, Jumat (13/3/2026). @Jejakfakta/dok. Walhi Sulsel

Konsolidasi ini juga menyoroti rencana agenda besar yang akan digelar pada April mendatang, yakni jambore dan kongres pecinta alam. Sulawesi Selatan dijadwalkan menjadi tuan rumah.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sulawesi Selatan menginisiasi konsolidasi komunitas pecinta alam guna memperkuat gerakan penyelamatan lingkungan hidup. Pertemuan yang berlangsung di Kopi Tiam, Jumat (13/3/2026), menghadirkan berbagai organisasi dan komunitas pecinta alam dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang dipandu oleh Ifah sebagai Master of Ceremony ini menjadi ruang pertemuan bagi komunitas pecinta alam untuk merefleksikan peran mereka sekaligus merancang agenda kolaboratif dalam memperjuangkan kelestarian lingkungan di masa depan.

Ifah yang juga menjabat Kepala Divisi Perlindungan Ekosistem Esensial WALHI Sulawesi Selatan menegaskan bahwa konsolidasi ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi menjadi langkah awal untuk memperkuat solidaritas gerakan lingkungan.

Baca Juga : Banjir Lumpur di Ussu Terulang, WALHI Sulsel Desak Tambang Nikel PT PUL Dihentikan

“Ini bukan hanya diskusi biasa, tetapi jalan untuk melihat kondisi lingkungan hari ini, menjaga solidaritas, dan memperjuangkan keadilan ekologis. Kami berharap lahir energi baru dari gerakan pecinta alam,” ujar Ifah.

Direktur WALHI Sulawesi Selatan, Muhammad Al Amin, menilai peran organisasi pecinta alam saat ini mulai berkurang dalam ruang-ruang pemulihan lingkungan. Karena itu, ia mendorong perlunya konsolidasi untuk menentukan arah perjuangan gerakan pecinta alam ke depan.

Menurutnya, berbagai kebijakan yang muncul belakangan ini seringkali tidak berpihak pada keberlanjutan lingkungan maupun kehidupan masyarakat, bahkan berpotensi memicu bencana ekologis di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Selatan.

Baca Juga : 6 Bulan Pascatumpahan Minyak PT Vale, WALHI Ungkap Pencemaran Capai 19 Km dan Tuntut Akuntabilitas

“Karena itu, penting bagi pecinta alam untuk kembali berkumpul dan memperkuat gerakan bersama dalam merespons berbagai persoalan lingkungan yang terjadi,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, sejumlah perwakilan komunitas juga menyampaikan refleksi terkait melemahnya gerakan advokasi lingkungan di kalangan pecinta alam.

Jaya, perwakilan Kharisma SCA, menyebut salah satu penyebabnya adalah kurikulum pendidikan pecinta alam yang saat ini lebih menekankan kemampuan bertahan hidup di alam bebas dibandingkan pemahaman kritis terhadap kerusakan lingkungan.

Baca Juga : Warga Tolak Tambang Emas di Enrekang, Justru Diperiksa Polisi

“Kurikulum perekrutan anggota seharusnya tidak hanya fokus pada kemampuan bertahan di alam, tetapi juga membangun kesadaran kritis terkait kerusakan lingkungan yang semakin masif,” ujarnya.

Sementara itu, Hirsan dari PKPA Gowa menilai selama ini organisasi pecinta alam cenderung berjalan sendiri-sendiri. Menurutnya, ke depan diperlukan keterhubungan yang lebih kuat antarorganisasi agar gerakan advokasi lingkungan bisa berjalan lebih efektif.

“Selama ini kita bergerak sendiri-sendiri. Ke depan perlu ada jaringan yang saling terhubung agar advokasi penyelamatan lingkungan bisa lebih kuat,” katanya.

Baca Juga : Walhi Sulsel Soroti Pengadaan Insinerator Mini di Makassar, Desak Penghentian Operasi Sementara

Konsolidasi ini juga menyoroti rencana agenda besar yang akan digelar pada April mendatang, yakni jambore dan kongres pecinta alam. Sulawesi Selatan dijadwalkan menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Anwar dari Chipipax Indonesia menyebut momentum tersebut menjadi peluang besar untuk membangkitkan kembali eksistensi gerakan pecinta alam di Sulawesi Selatan.

“Kita memiliki jumlah yang besar, tetapi belum cukup berarti dalam gerakan lingkungan. Momentum kongres ini harus dimanfaatkan untuk mempersatukan kembali kekuatan pecinta alam,” ujarnya.

Baca Juga : Aktivis Protes Rencana Satgas Anti-Demonstrasi Gubernur Sulsel, Dinilai Ancaman Demokrasi

Agung dari KOPSA selaku fasilitator menambahkan, berbagai gagasan dan keresahan yang muncul dalam sesi refleksi akan dirumuskan menjadi kurikulum peningkatan kapasitas pada kegiatan jambore mendatang.

Senada dengan itu, Yusri Syam dari Mapala STIE Bongaya menyebut keterlibatan mahasiswa pecinta alam menjadi momentum penting untuk merangkul berbagai komunitas dalam gerakan pelestarian lingkungan.

Konsolidasi ini ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan hidup. Para peserta sepakat bahwa menjadi pecinta alam tidak hanya sebatas menjelajah atau menikmati alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memperjuangkan kelestariannya.

Kegiatan kemudian ditutup dengan agenda buka puasa bersama yang diikuti seluruh peserta sebagai simbol penguatan solidaritas antarorganisasi pecinta alam di Sulawesi Selatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Walhi Sulsel #konsolidasi pecinta alam #gerakan lingkungan Sulawesi Selatan #advokasi lingkungan WALHI #komunitas pecinta alam Sulsel #konservasi lingkungan Indonesia #organisasi pecinta alam #kerusakan lingkungan Sulsel #Keadilan Ekologis
Youtube Jejakfakta.com