Jejakfakta.com, LUWU TIMUR – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur bersama tim gabungan berhasil memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghanguskan sekitar satu hektare lahan di belakang fasilitas Pertamina Ussu, Desa Atue, Kecamatan Malili, Minggu (19/7).
Kebakaran terjadi sekitar pukul 18.00 WITA dan baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.00 WITA setelah personel gabungan melakukan upaya pemadaman selama kurang lebih tiga jam. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, sementara penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.

Proses pemadaman melibatkan personel BPBD Luwu Timur, Dinas Pemadam Kebakaran, Manggala Agni, Dinas Perhubungan, TNI, Polri, serta masyarakat setempat. Hingga Senin pagi, kondisi di lokasi dipastikan telah terkendali dan tidak ditemukan titik api yang membahayakan.
Baca Juga : BPBD Luwu Timur Perkuat Budaya Siaga Bencana, Libatkan OPD hingga Puskesmas
Peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah BPBD Luwu Timur memetakan sejumlah kecamatan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan seiring meningkatnya intensitas musim kemarau.
Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, H. April, sebelumnya mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka untuk membuka lahan maupun membakar sampah karena berpotensi memicu kebakaran yang meluas.
Menurutnya, kondisi geografis Kabupaten Luwu Timur yang didominasi kawasan pegunungan dan perbukitan menjadikan daerah tersebut memiliki tingkat kerawanan terhadap berbagai jenis bencana, baik geologi maupun hidrometeorologi.
Baca Juga : Hadapi Krisis Air, Andi Syahrum Ungkap Tiga Langkah PDAM Pulihkan Distribusi hingga Wilayah Utara
"Wilayah Kabupaten Luwu Timur memiliki potensi bencana seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, angin puting beliung, hingga berbagai ancaman bencana lainnya yang dipengaruhi oleh kondisi cuaca," ujarnya.
BPBD Sulawesi Selatan juga telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026. Masyarakat diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Luwu Timur Hadapi Ancaman Deforestasi
Baca Juga : Luwu Timur Siapkan Pedoman Operasi Darurat Gempa, Libatkan Seluruh Instansi Terkait
Di sisi lain, kebakaran lahan menjadi perhatian serius karena terjadi di tengah tingginya ancaman deforestasi di Sulawesi Selatan. Data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan mencatat luas kawasan hutan di provinsi tersebut mencapai 1.991.144 hektare, dengan tutupan hutan tersisa sekitar 1.434.185 hektare. Artinya, sekitar 556.959 hektare kawasan hutan telah kehilangan tutupan vegetasi.
Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Sulawesi Selatan, Prof. Yusran Yusuf, menegaskan penyelamatan hutan harus menjadi tanggung jawab bersama.
"Penyelamatan hutan harus menjadi gerakan bersama sebagai respons terhadap alih fungsi lahan, perambahan, dan kebakaran hutan," katanya.
Baca Juga : Munafri Susuri Lorong di Makassar Utara, Cek Langsung Air PDAM Mengalir hingga ke Rumah Warga
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut musim kemarau 2026 membawa ancaman peningkatan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah bersama seluruh pemangku kepentingan diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.
BNPB juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




