Oleh: Dr. Sahril Buchori, M.Pd. - Akademisi Universitas Negeri Makassar dan Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi Sulawesi Selatan.
HARI Perdamaian Dunia diperingati setiap 21 September sebagai momentum refleksi penting atas komitmen kemanusiaan untuk menghentikan segala bentuk kekerasan di dunia. Di tengah berbagai ketegangan geopolitik, menyuarakan perdamaian menjadi salah satu upaya yang dapat kita lakukan.

Namun, kedamaian sejatinya tidak akan terwujud secara instan hanya melalui meja diplomasi para elite politik. Kedamaian adalah sebuah gaya hidup yang seyogianya dibudayakan sejak dini. Dalam konteks ini, institusi pendidikan menjadi salah satu ruang paling strategis untuk membangun budaya damai.
Baca Juga : Bupati Irwan Ajak Pelajar Biasakan Subuh Berjamaah, Guru dan Orang Tua Diminta Terlibat

Ironisnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan yang idealnya menjadi tempat paling aman bagi anak justru kerap diwarnai perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai kedamaian.
Merujuk pada pemikiran Dr. Sahril Buchori, M.Pd., pakar bimbingan dan konseling kedamaian dari Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Sekretaris LAKPESDAM PWNU Sulsel, fenomena kekerasan di sekolah masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan. Data Global Peace Index 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-69 dari 163 negara dalam indeks perdamaian dunia. Angka ini menjadi pengingat ketika perkelahian, perundungan, hingga tawuran masih menghiasi pemberitaan. Sekolah terkadang justru menghadapi tantangan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya damai.
Menyambut Hari Perdamaian Dunia, Indonesia membutuhkan transformasi model sekolah menjadi "rumah kedua" yang kondusif, aman, dan membahagiakan.
Baca Juga : Hadiri Maulid KKDB, Appi Tekankan Pentingnya Merawat Silaturahmi dan Pendidikan Adab
Jika merefleksikan filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, sekolah sejatinya adalah sebuah "taman" yang teduh, adem, dan membahagiakan. Tujuan utama pendidikan bukanlah mencetak robot pekerja, melainkan menuntun kodrat anak agar mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Sejalan dengan itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan pentingnya suasana belajar yang kondusif dalam penyelenggaraan pendidikan. Iklim sekolah yang aman dan damai menjadi salah satu prasyarat penting agar anak dapat belajar dan berkembang secara optimal.
Melalui momentum Hari Perdamaian Dunia, model sekolah yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah sekolah yang menerapkan pendekatan positive peace atau kedamaian positif. Berbeda dengan negative peace atau kedamaian negatif yang lebih menekankan ketertiban melalui hukuman fisik atau sanksi yang kaku, positive peace membangun kedamaian berbasis keadilan, empati, dan keteladanan.
Baca Juga : Dorong Kemandirian Energi, Dosen FT UNM Latih Pengurus Yayasan Muallaf Al-Istiqamah Manfaatkan PLTS
Kunci transformasi ini berada di tangan guru sebagai teladan yang memiliki pedagogi kedamaian, yaitu kemampuan mendidik dengan mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam proses pembelajaran.
Implementasi model ini tidak harus berbiaya mahal. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menggeser kekakuan birokrasi kelas menjadi ekosistem pembelajaran yang humanis melalui tiga strategi utama:
1. Penyusunan Norma Bersama
Baca Juga : Bukan Sekadar Urusan Rumah, TP PKK Makassar Dorong Muslimah Jadi Penguat Keluarga Tangguh
Kelas diatur berdasarkan komitmen yang dirumuskan secara positif bersama siswa. Filosofi ini bertujuan melibatkan siswa dalam membangun komunikasi, kebersamaan, dan tanggung jawab moral untuk menjaga kedamaian bersama.
2. Aktivitas Pembiasaan Damai
Program sederhana seperti "Check-In Emosi Pagi" selama lima menit sebelum pembelajaran dapat membantu siswa mengenali dan mengungkapkan kondisi emosional mereka. Dengan demikian, potensi konflik maupun tantangan belajar dapat diidentifikasi dan dimitigasi sejak dini.
Baca Juga : Peringati Hari Anak Nasional, GMTD Edukasi Ratusan Siswa Cegah Bullying Lewat Program Lippoland Mengajar
Selain itu, gerakan "Hari Tanpa Kata Kasar" dan pembentukan Peer Peace Counselor atau "Siswa Agen Kedamaian" dapat menumbuhkan budaya saling menghargai dan menyayangi layaknya sebuah keluarga yang harmonis.
3. Pedagogi Kedamaian Dipadukan dengan Pembelajaran Sosial-Emosional (SEL)
Proses pembelajaran dapat mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian ke dalam berbagai mata pelajaran dengan menyasar aspek intelektual sekaligus emosional siswa. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya melahirkan siswa yang pintar, tetapi juga pribadi yang memiliki empati dan kebaikan hati.
Pada akhirnya, menjaga kedamaian dunia dapat dimulai dari sekolah yang damai sebagai rumah kedua. Siswa mungkin akan melupakan apa yang kita jelaskan, tetapi mereka tidak akan pernah melupakan bagaimana kita membuat mereka merasa berharga dan aman di dalam kelas.
Sudah saatnya kita melahirkan generasi emas yang tidak hanya pintar, tetapi juga baik hati, merasa aman, dan bahagia.
Good luck, peace & be happy!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



