Jejakfakta.com, MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin alias Appi, terus memantau perkembangan kabut asap yang menyelimuti langit Kota Makassar. Sejumlah langkah antisipasi disiapkan untuk mengurangi dampak pencemaran udara, terutama terhadap kesehatan masyarakat dan aktivitas pendidikan.
Sebagai tindak lanjut, Munafri menginstruksikan rapat koordinasi lintas sektor untuk membahas penanganan pencemaran udara akibat partikel halus PM2.5 dan kabut asap di Kota Makassar.

Rapat berlangsung di Balai Kota Makassar, Rabu (14/10/2026), dipimpin langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Makassar, Andi Zulkifly Nanda, bersama jajaran perangkat daerah dan pihak Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Baca Juga : Kualitas Udara Makassar Sangat Tidak Sehat, Appi Instruksikan Pembagian Masker Gratis untuk Siswa

Meski tidak menghadiri rapat secara langsung, Munafri menegaskan bahwa pemantauan kondisi udara dan koordinasi antarlembaga perlu terus diperkuat. Langkah tersebut diperlukan agar pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat sesuai perkembangan situasi di lapangan.
"Saya terus memantau perkembangan kabut asap di Makassar. Koordinasi lintas SKPD dan lintas instansi, termasuk dengan BMKG terkait kondisi cuaca, terus kita lakukan untuk mengikuti perkembangan situasi," kata Appi.
Menurutnya, koordinasi tersebut penting untuk mempercepat penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sekaligus memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan di tengah penurunan kualitas udara.
Baca Juga : Pemkot Makassar Gandeng Bank Sulselbar dan Himbara, 1.500 Pedagang Berpeluang Akses KUR
Sebagai langkah awal, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar telah melakukan pembagian masker di sekolah-sekolah. Selain itu, perhatian khusus diberikan terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan PM2.5, yakni partikel halus yang dapat menembus jauh ke dalam saluran pernapasan.
Munafri meminta Dinas Kesehatan Kota Makassar bersama seluruh puskesmas meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
"Selain memperkuat pemantauan kondisi kesehatan warga, RSUD dan puskesmas juga saya minta memastikan kesiapan stok oksigen medis sebagai langkah antisipasi," imbuh Appi.
Baca Juga : Di Forum PBB, Appi Pamerkan Inovasi Hijau Makassar untuk Atasi Banjir, RISE Diperluas ke 7 Lokasi Baru
Perlindungan terhadap anak-anak di sekolah juga menjadi perhatian Pemkot Makassar. Munafri meminta Dinas Pendidikan tetap siaga dan menyiapkan langkah antisipasi apabila kualitas udara terus memburuk.
Meski belum diterapkan, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau sekolah daring berpotensi menjadi pilihan apabila kondisi kabut asap mencapai kategori berbahaya. Kebijakan tersebut dipertimbangkan untuk mengurangi risiko paparan polusi udara terhadap siswa.
"Kita menunggu status dari pemantauan seperti apa. Jika kategori berbahaya, maka kebijakan kita ambil sesuaikan dengan tingkat risiko di lapangan," tutup Appi.
Baca Juga : Kabut Asap Jadi Perhatian Appi di Forum Dunia, Pemkot Makassar Siapkan Langkah Antisipasi Lintas OPD
Usai memimpin rapat koordinasi, Sekda Makassar Andi Zulkifly Nanda, didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, meninjau SMP Negeri 6 Makassar untuk membagikan masker kepada para siswa.
Kualitas Udara Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Andi Zulkifly Nanda mengatakan rapat koordinasi lintas sektor tersebut digelar atas instruksi langsung Wali Kota Makassar untuk memvalidasi kondisi kualitas udara sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran.
Baca Juga : Hari Santri Nasional 2026 di Makassar Digelar 22 Oktober, 1.000 Santri Bakal Hadiri Upacara di Balai Kota
"Ini merupakan instruksi langsung dari Bapak Wali Kota Makassar agar kita segera melaksanakan rapat bersama SKPD dan unsur terkait, termasuk menggandeng BMKG, untuk melihat sejauh mana pencemaran udara yang terjadi di Kota Makassar," ujar Zulkifly.
Ia menjelaskan, langkah pertama yang dilakukan pemerintah adalah memastikan kondisi kualitas udara berdasarkan data dan hasil pemantauan BMKG.
Dari hasil koordinasi tersebut, BMKG menyampaikan bahwa kualitas udara di Makassar berada dalam kategori sangat tidak sehat selama dua hari terakhir.
"Karena itu, Pemerintah Kota segera menyiapkan langkah antisipasi untuk melindungi masyarakat," tuturnya.
Zulkifly mengungkapkan, berdasarkan penjelasan BMKG dalam rapat koordinasi, pencemaran udara di Makassar diduga sebagian besar dipengaruhi kiriman asap kebakaran hutan dan lahan dari sejumlah wilayah.
Sumber asap yang dibahas dalam rapat antara lain kebakaran hutan di kabupaten sekitar Makassar serta sejumlah kebakaran di provinsi lain. Kondisi tersebut diperkuat oleh arah angin dari timur hingga tenggara yang membawa asap menuju wilayah Makassar.
"Jadi, sumbernya bisa kita katakan sebagian besar merupakan kiriman. Walaupun di Kota Makassar sendiri juga terdapat polusi udara akibat banyaknya kendaraan yang berlalu-lalang. Aktivitas transportasi ini turut menambah pencemaran," jelasnya.
Pemkot Makassar bersama instansi terkait akan terus memantau perkembangan kualitas udara, termasuk faktor cuaca dan potensi sumber pencemaran lainnya.
Kasus ISPA Belum Meningkat Signifikan
Dari sisi kesehatan, Zulkifly menyebutkan bahwa laporan Dinas Kesehatan Kota Makassar menunjukkan belum terdapat peningkatan kasus ISPA yang signifikan di puskesmas.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai risiko kesehatan apabila pencemaran udara berlangsung dalam waktu lama.
Dinas Kesehatan diminta menyampaikan laporan harian mengenai perkembangan kasus ISPA untuk mengidentifikasi kemungkinan dampak pencemaran udara terhadap masyarakat.
"Kalau kondisi ini berkepanjangan, tentu ada potensi kedaruratan medis. Namun, berdasarkan masukan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan BMKG, saat ini belum terjadi kondisi yang mengharuskan sekolah diliburkan," katanya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Selain upaya pencegahan langsung, Pemkot Makassar juga menyiapkan penguatan penyampaian informasi kualitas udara kepada masyarakat melalui aplikasi Lontara.
Zulkifly meminta Dinas Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan BMKG dan Dinas Lingkungan Hidup untuk menyajikan pembaruan hasil pengukuran kualitas udara setiap hari melalui platform tersebut.
Informasi itu diharapkan membantu masyarakat mengetahui kondisi udara sebelum beraktivitas di luar ruangan serta menyesuaikan kegiatan berdasarkan tingkat pencemaran.
"Ini sangat penting diketahui masyarakat. Dengan melihat status dan ukuran kualitas udara, masyarakat bisa mengetahui kondisi yang sedang terjadi sehingga dapat menyesuaikan aktivitasnya," tuturnya.
Zulkifly memastikan pembagian masker telah dimulai sehari sebelumnya dan berlanjut pada Rabu (14/10/2026). Berdasarkan laporan yang diterimanya, stok masker dari Dinas Kesehatan tersedia untuk mendukung upaya tersebut. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



