Organisasi Save the Children menemui Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto di kediamannya, Jalan Amirullah, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (17/2). Tujuannya, mengajak Pemerintah Kota Makassar menangani e-Waste atau limbah elektronik.
Senior Manager Growth Hub, Save the Children Swedia Asa Mourn, menjelaskan isu mengenai e-waste sangat besar. Isu ini tidak hanya ada di Swedia tetapi juga di Indonesia dengan permasalahannya yang kompleks.

Dalam penelitiannya, Save the Children, menemukan anak-anak menjadi bagian dari aktivitas berbahaya dalam e-waste itu. Mereka menangani sampah elektronik tanpa penanganan khusus.
Baca Juga : Perempuan Desa Jadi Motor Perubahan, Save the Children Dorong Perlindungan Anak Berbasis Komunitas
Asa menjelaskan pihaknya memilih Kota Makassar karena melihat kepedulian pemerintah yang luar biasa terhadap persampahan.
Kami memilih Makassar sebagai pilot project untuk penanganan e-waste ini. Apalagi sebelumnya kita punya relasi yang bagus dengan pemerintahan, juga NGO di Makassar. Olehnya sangat memungkinkan menjadikan Makassar yang pertama dalam penanganan sampah elektronik," katanya.
Karena itu, Asa merasa senang dengan respon dari wali kota yang mengaku bakal menjadikan Makassar sebagai kota pertama yang membuat ekosistem mengatasi e-waste.
Baca Juga : Mendikdasmen Abdul Mu’ti Hadiri Syawalan Muhammadiyah Sulsel Hari Ini
"Luar biasa, kami senang. Itu sangat penting karena sampah elektronik sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat tetapi setiap orang juga bisa membuat solusi terhadap sampah jenis ini," katanya.
Timnya saat ini terus mengembang ide. Namun secara inti, konsepnya adalah membangun kolaborasi dengan berbagai pihak terutama dengan pemerintah.
Save the Children juga telah membuat workshop sehari tentang e-waste ini yang dihadiri oleh OPD terkait. Mereka menilainya sebagai momen yang tepat apalagi sejauh ini belum banyak yang mengelola sampah elektronik yang beda dengan plastik.
Baca Juga : Pemkot Makassar Tetapkan Zakat Fitrah 2026, Mulai Rp40 Ribu hingga Rp56 Ribu per Jiwa
"Jika pemerintah, perusahaan, masyarakat bekerjasama dalam mengatasi sampah elektronik maka itu membuka peluang bagus, dan segera dapat disosialisasikan, diterapkan di masyarakat," kata Asa.

Dari data yang ada di Kota Makassar, tiga kecamatan yang memiliki limbah elektronik terbesar adalah Kecamatan Makassar, Mamajang, dan Mariso.
Baca Juga : Satu Tahun Munafri–Aliyah: Di Balik Angka Pertumbuhan, Sosiolog Unhas Bicara Soal Wajah Sosial Makassar
Persentase jenis limbah pun beragam terbanyak meliputi televisi sebesar 100%, ponsel 99,7%, kipas 93,2%, penanak nasi 88,7%, setrika 93,2%, kulkas 89,2%, laptop 76,4% dan AC 49,5%.
Masyarakat di Makassar mengelola limbah elektronik dengan cara 40% disimpan, 33% dijual, 20% diperbaiki, 4% dibuang, dan hanya 3% yang didaur ulang.
Sampah elektronik merupakan jenis sampah dengan pertumbuhan paling cepat di dunia, bahkan berpotensi menjadi sampah terbanyak kedua setelah limbah plastik dan tekstil.
Baca Juga : Safari Ramadan Munafri: Dari Subuh Keliling hingga Buka Puasa Bersama, Sentuh Seluruh Kecamatan di Makassar
Limbah elektronik yang tidak dikelola dengan baik akan menjadi polusi dan menghasilkan emisi, hingga berisiko mengganggu kesehatan masyarakat, termasuk anak-anak, baik anak-anak yang terpaksa bekerja sebagai pemulung, maupun yang hidup di bantaran TPA (Tempat Pembuangan Akhir), hal ini terjadi secara global, termasuk di kota Makassar.
Tak hanya temuan masalah, riset limbah elektronik dan ekonomi berkelanjutan juga menyebutkan bahwa sektor elektronik sirkular atau daur ulang sampah elektronik dapat menciptakan 75.000 pekerjaan yang layak dan ramah lingkungan pada tahun 2030, di mana 91% berpotensi dikelola oleh perempuan dan berkontribusi pada transisi hijau yang lebih inklusif.
Karenanya, Danny Pomanto pun menyambut baik upaya tersebut. Dia menyatakan pihaknya siap menjadi yang pertama dalam penanganan e-waste di Makassar sekaligus berupaya membentuk ekosistem e-waste yang bagus, seperti halnya sampah plastik.
Dia juga mengarahkan agar Save The Children dapat membuat serupa Sandbox yang berfungsi sebagai serangkaian uji coba sebelum aksi itu dirilis ke publik.
"Saya mau kita jadi yang pertama di Indonesia; 'The first city in Indonesian'. Buat semacam Sandbox, lalu trial and error, baru kita sempurnakan bersama-sama," tukas Danny.
Dia juga menyebutkan timnya siap bersama Save The Children untuk melaksanakan sosialisasi di sekolah-sekolah, komunitas, kelompok masyarakat hingga pemerintahan mengenai penanganan sampah elektronik.
"Intinya jelaskan saja dulu apa itu e-waste, bagaimana cara meng-handelnya, hubungannya dengan bahaya bagi kesehatan juga apa saja yang menjadi sampah di komponen motor, hp, komputer, kipas angin, televisi dan sebagainya agar masyarakat paham. Selanjutnya, baru yang lebih besar yaitu membentuk ekosistemnya," sebutnya.
Menurut Danny, sistem ini dapat bermanfaat dalam sirkulasi ekonomi jika dikelola-didaur ulang dengan baik. Maka nantinya regulasi bisa menyusul setelah sistemnya dirasa sudah siap. "Beri kami input agar kebijakannya akan sesuai," katanya.
Danny juga menyinggung bahwa pihaknya sampai saat ini terus menjalankan program Bank Sampah. Nantinya, ketika konsepnya telah matang maka penanganan sampah elektronik dapat menjadi seperti ekosistem bank sampah. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




