Kamis, 02 Maret 2023 16:45

Trauma Berat Menimpa Orang Tua Korban Miras Oplosan di Sanrangan Makassar: Takut dengan Sekolah

Editor : Gilang Ramadhan
Penulis : Atri Suryatri Abbas
Polisi melakukan olah TKP terkait 5 pria di Makassar yang melakukan pesta miras oplosan berujung maut. Foto: Ist
Polisi melakukan olah TKP terkait 5 pria di Makassar yang melakukan pesta miras oplosan berujung maut. Foto: Ist

Menurut teman-temannya, Alif (AA) adalah sosok yang penyabar dan tidak suka minum miras ketika mereka berkumpul bersama. Rahmawati juga menunjukkan sebuah video kepada Jejakfakta yang menunjukkan J sedang menceritakan kejadian tersebut.

Jejakfakta.com, Makassar - Kini trauma hebat merongrong orang tua dari AA. Alif atau AA salah satu dari tiga pelajar korban meninggal akibat miras oplosan dan penganiyaan di Sanrangan, Biringkanaya, kota Makassar.

Ibunda dari almarhum AA saat ini takut dengan sekolah, enggan menyuruh anaknya yang lain bersekolah.

“Saya mengalami trauma, sampai saya melarang anak-anak saya keluar dan pergi sekolah. Mereka bisa keluar ke masjid atau ke dekat rumah saja. Saya tidak ingin anak-anak saya mengalami hal seperti kakaknya," kata Rahmawati kepada Jejakfakta di kediamannya, Kamis (2/3/2023).

Baca Juga : Polrestabes Makassar Bantah Tersangka AF Anak Polisi, Kasus Miras Oplosan Maut di Sanrangan

Dengan agak terbata-bata, Rahmawati mengungkapkan kronologi kejadian sebelum anaknya dilarikan ke rumah sakit dan meninggal pada tanggal 23 Februari 2023 di Rumah Sakit Tajuddin Chalid.

“Kemarin itu pulang jam 6 subuh, dia langsung masuk kamar dan tidur. Jam 8 pagi, dia muntah dan tidur lagi, sudah tidak ada tenaga. Dia sempat kejang-kejang juga. Pagi dia tidur lagi, jam 11 siang bangun mau ke sekolah, tapi jatuh lagi dan tidak bisa bangun. Lalu saya tanya dari mana semalam dan kenapa tidak pulang, dia bilang 'saya ditahan bu, dipaksa.' Itu saja yang dia katakan sambil menangis, dan itu yang dia katakan terakhir ke saya," kata Rahmawati.

Ia juga menahan Alif untuk tidak ke sekolah agar beristirahat di rumah karena ia khawatir Alif pingsan di sekolah.

Baca Juga : Keluarga Korban Harap Pelaku Pesta Miras Oplosan Diproses Hukum

“Saya menahan Alif untuk tidak ke sekolah agar tidak pingsan di jalan. Makanya saya tahan terus jam 11 malam saya membawanya ke rumah sakit. Saat itu dia sudah tidak sadar lagi sampai di rumah sakit, dia kejang-kejang dan muntah. Saat saya membawanya ke rumah sakit, dia muntah warna hitam, di rumah sakit mulutnya berbusa,” kata Rahmawati.

Rahmawati tidak membawa Alif ke rumah sakit saat dia bangun pada jam 6 pagi karena ia tidak tahu bahwa Alif sudah minum semalam. Namun, Alif lemas sehingga Rahmawati memintanya untuk istirahat. Tetapi ia bilang biasanya Alif tidak seperti itu, nanti akan kejang-kejang. Pada jam 11 malam, Rahmawati membawa Alif ke rumah sakit karena keadaannya semakin memburuk.

Ia juga melihat memar di beberapa bagian tubuh Alif yang membuatnya curiga bahwa anaknya dipukuli.

Baca Juga : Kasus Tewasnya 3 Remaja Akibat Miras Oplosan di Makassar Terkuak, Pelaku Diamankan Polisi

“Ada memar di bawah matanya, di kepala, tangan merah semua, bibir, dan telinga juga hitam. Saya melihatnya saat dia bangun mau pergi ke sekolah. Ketika saya tanya, dia tidak mau bilang kenapa, dia hanya bilang 'saya dipaksa bu, ditahan.' Alif juga mengatakan, 'Ibu tidak kenal orangnya.' Saya tidak kenal orangnya karena memang orang tersebut tidak pernah datang di rumah, karena teman teman anak saya, saya tahu,” bebernya.

Rahmawati menceritakan bahwa ia mengetahui anaknya dipukul pada saat malam kedua takziah untuk Alif. Ia menerima pesan WhatsApp dari orang tua RF, salah satu korban dari miras oplosan.

Menurut Rahmawati, RF mengirimkan pesan bahwa teman Alif yang meninggal merekam sebuah video secara sembunyi. Kemungkinan besar karena takut, maka dia bersembunyi dan merekam video tersebut. 

Baca Juga : Polrestabes Makassar Tahan Penjual Pakaian Onlineshop yang Pukuli Pembeli

Video itu menunjukkan bahwa teman tersebut adalah teman baik Alif. Ibunya kemudian menemukan video tersebut di ponsel almarhum Alif dan mengirimkannya ke Rahmawati melalui pesan WhatsApp.

Setelah menerima pesan tersebut, Rahmawati pergi ke rumah sakit untuk menemui salah satu korban yang masih dirawat. Dalam wawancara tersebut, korban yang disebut sebagai J mengatakan bahwa Alif pertama kali minum miras pada malam itu. Sebelumnya, Alif tidak pernah minum miras ketika berkumpul dengan teman-temannya.

Menurut teman-temannya, Alif adalah sosok yang penyabar dan tidak suka minum miras ketika mereka berkumpul bersama. Rahmawati juga menunjukkan sebuah video kepada Jejakfakta yang menunjukkan J sedang menceritakan kejadian tersebut.

Baca Juga : Pesta Miras Oplosan di Makassar Berujung Tragis, Dua Pelajar Tewas

Rahmawati juga menceritakan bahwa Alif adalah sosok yang penyayang dan penyabar di keluarganya. Karena tidak memiliki kendaraan, Alif sering tinggal di tempat kejadian. Namun, setelah Alif memiliki motor, ia sering pulang ke rumah setelah berkumpul dengan teman-temannya. Namun, pada malam kejadian, Alif baru pulang subuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Miras oplosan #Sanrangan #Kasat Reskrim Polrestabes Makassar AKBP Ridwan JM Hutagaol #Pelajar tewas akibat miras oplosan
Youtube Jejakfakta.com