Sabtu, 25 Maret 2023 10:37

Bersyukurlah Jika Anak-anak Riang Gembira di Masjid, Nabi Pun Hargai

Anak-anak bermain di masjid saat salat berjamaah berlangsung. (istimewa).
Anak-anak bermain di masjid saat salat berjamaah berlangsung. (istimewa).

Imam Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel (Turki) mengatakan: “Jika suatu masa kamu tidak mendengar gelak tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf salat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu."

Makassar - Anak-anak riang gembira bermain di masjid, lari-lari seraya sorak sorai, dan sebagainya. Ini imbas membawa anak ke masjid, lalu bagaimana hukumnya?

Membawa anak ke masjid hukum asalnya dibolehkan. Ada banyak dalil yang menunjukkan lada zaman Nabi Shallallahu ’alaihi Wasallam, anak-anak hadir di masjid, di antaranya.

Dari Abdullah bin Buraidah radhiallahu ’anhu, ia berkata:

Baca Juga : Wali Kota Munafri Tarawih Bersama Warga, Ingatkan Keutamaan 10 Malam Terakhir Ramadan

خطبنا رسول الله صلى الله عليه وسلم، فأقبل الحسن والحسين رضي الله عنهما عليهما قميصان أحمران يعثران ويقومان، فنزل فأخذهما فصعد بهما المنبر، ثم قال: “صدق الله، إنما أموالكم وأولادكم فتنة، رأيت هذين فلم أصبر”، ثم أخذ في الخطبة

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan kami. Lalu Hasan dan Husain radhiallahu ’anhuma datang ke masjid dengan memakai gamis berwarna merah, berjalan dengan sempoyongan jatuh bangun (karena masih kecil). Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar masjid dan menggendong kedua cucu tersebut, dan membawanya naik ke mimbar. Lalu beliau bersabda, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah (ujian), aku melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa bersabar”. Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya” (HR. Abu Daud no. 1109, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Dari Abu Qatadah radhiallahu ’anhu, ia berkata:

Baca Juga : Bupati Sidrap Diskusi dengan ASN dan Masyarakat di Pitu Riase

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم وأمامة بنت العاص -ابنة زينب بنت الرسول صلى الله عليه وسلم- على عاتقه، فإذا ركع وضعها وإذا رفع من السجود أعادها

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong Umamah bintu al Ash, putrinya Zainab bintu Rasulullah, di pundak beliau. Apabila beliau salat maka ketika rukuk, Rasulullah meletakkan Umamah di lantai, dan apabila bangun dari sujud maka beliau kembali menggendong Umamah” (HR. Bukhari no. 516, Muslim no. 543).

Diriwayatkan oleh sahabat bernama Yaddad radhiallahu anhu, mengatakan, suatu ketika Rasulullah datang ke masjid melaksanakan salat dan beliau membawa cucunya Hasan dan Husein.

Baca Juga : Momen Hangat Bupati Sidrap Bersama Anak-anak di Masjid Husnul Iman

Nabi mendudukkan Hasan dan Husein disampingnya, kemudian Nabi memulai salat.

Ketika Nabi sujud, durasinya cukup lama, tidak seperti biasanya. 

Saking lamanya, Yaddad sebagai makmum, diam-diam mengangkat kepala untuk melihat apa gerangan yang sedang terjadi dengan Nabi. Ternyata, punggung Nabi diduduki oleh cucunya.

Baca Juga : Bupati Sidrap Tarawih di Betao Riase, Bantu Rp100 Juta untuk Pembangunan Masjid

Setelah selesai salat para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali sehingga kami mengira terjadi apa-apa, atau baginda sedang menerima wahyu."

Rasulullah menjawab, tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku menaiki tubuhku dan saya tidak mau buru-buru sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya. (HR. Nasa’I dan Hakim).    

Dalam riwayat lain diceritakan Rasulullah pernah mempercepat salatnya karena mendengar tangisan anak kecil memanggil ibunya yang ikut salat berjamaah bersama Rasulullah.

Baca Juga : Safari Ramadan di Sulsel: Dai dan Qori Al-Azhar Kairo Pimpin Tarawih dan Ceramah di Masjid Raya Makassar

Imam Muhammad Al-Fatih, penakluk Konstantinopel (Turki) mengatakan: “Jika suatu masa kamu tidak mendengar gelak tawa anak-anak, riang gembira di antara shaf salat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan datangnya kejatuhan generasi muda di masa itu."  

Melatih Salat

Dari kakeknya Amr bin Syu’aib, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkan anak-anak kalian untuk shalat ketika usianya 7 tahun. Dan pukullah mereka ketika usianya 10 tahun. Dan pisahkanlah tempat tidurnya” (HR. Abu Daud no. 495, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abu Daud).

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan:

يستحب بل يشرع الذهاب بالأولاد إلى المساجد إذا بلغ الولد سبعًا فأعلى، ويضرب عليها إذا بلغ عشرًا؛ لأنه بذلك يتأهل للصلاة ويعلم الصلاة حتى إذا بلغ فإذا هو قد عرف الصلاة واعتادها مع إخوانه المسلمين

“Dianjurkan bahkan disyariatkan untuk membawa anak-anak ke masjid, jiak usia mereka 7 tahun atau lebih. Dan boleh dipukul jika usianya 10 tahun. Karena dengan membawanya ke masjid, ia akan terbiasa shalat dan mengetahui cara shalat. Sehingga ketika ia baligh, ia sudah paham cara shalat dan terbiasa shalat bersama saudaranya dari kaum Muslimin” (binbaz.org/fatwas).(*)

Wallahu a'lam. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#anak-anak di masjid #Imam Muhammad Al Fatih #Abdullah bin Buraidah radhiallahu ’anhu #Hasan dan Husein #Umamah #salat tarawih #hikmah Ramadan
Youtube Jejakfakta.com