Jejakfakta.com, Makassar - Musim kemarau untuk wilayah Sulawesi Selatan sudah memasuki tahap moderat atau menengah. Hal itu berpotensi membuat sebagian wilayah mengalami kekeringan dan berdampak pada tanaman yang membutuhkan air.
Parahnya, karena musim kemarau kali ini berbarengan dengan dampak El Nino yang akan semakin memperparah kekeringan.

Pelaksana Harian Pelayanan Jasa BMKG IV Makassar, Rezky mengatakan, sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan seperti Tana Toraja, Enrekang, Pinrang, Parepare dan Soppeng sudah mulai mengalami dampak dari cuaca tersebut.
Baca Juga : Antisipasi Kemarau Panjang, Damkar Makassar Siagakan 7 Posko dan 60 Armada
Musim kemarau saat ini berbeda dibanding kemarau sebelumnya, karena adanya pengaruh dampak El Nino yang membuat kemarau tahun ini lebih mengering.
"Jadi wilayah Sulsel yang sudah memasuki musim kemarau berdasarkan analisis kami, mulai dari tanah Toraja, utara, Enrekang, kemudian turun ke Bawah, Pinrang, Parepare, sebagian Soppeng," kata Rezky kepada Jejakfakta.com di Kantor BMKG IV Makassar, Senin (7/8/2023).
Kemarau Panjang. Sejumlah area persawahan di Kabupaten Sidrap mulai mengalami kekeringan akibat dampak kemarau panjang tahun ini. @Jejakfakta/Rahman Kulo
Baca Juga : Husniah Talenrang Berikan Semangat Kafilah Gowa di MTQ XXXIV Sulsel, Siapkan Bonus Umrah bagi Juara
Menurut Rezky, dengan adanya fenomena El Nino atau kemarau panjang tersebut akan mengalami perubahan cuaca, seperti keterlambatan air hujan. Diperkirakan air hujan akan turun di bulan September nanti.
"Tetapi karna adanya El Nino ini. Akhirnya curah hujan di wilayah Sulsel itu semakin berkurang termasuk yang di Wilayah sisi timur, Bone, Sinjai, Luwu Utara itu karena ada dua fenomena ini akhirnya semakin berkurang," bebernya.
Berdasarkan pantauan terakhir, suhu panas berada 35 Derajat Celsius. "Untuk di wilayah Sulsel terakhir ini suhunya sampai 35 derajat celsius," katanya.
Baca Juga : Bupati Luwu Timur Apresiasi Sinergi Kota Parepare di Hari Jadi ke-66
Kemarau panjang, kata Resky, akan berdampak pada sektor pertanian maupun kesehatan masyarakat.
"Dampaknya yang terkena di sektor pertanian, perkebunan karena kekurangan curah hujan. Di sektor kesehatan akan berdampak sekali juga, bisa dehidrasi atau penyakit kulit lain," ujarnya.
Namun, adanya kemarau panjang bagi pengelola wilayah perairan akan diuntungkan, seperti petambak garam.
Baca Juga : Bupati Gowa Hadiri Hari Jadi ke-66 Parepare, Dorong Sinergitas Antar Daerah
"Tapi meskipun ada sisi negatifnya El Nino ada juga sisi manfaatnya, yang di daerah perikanan wilayah tangkap di laut volume ikan akan semakin muncul di permukaan laut dan petani garam juga akan mengalami keuntungan," tandasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




