Selasa, 29 Agustus 2023 17:58

Panik Atasi Polusi Udara Jakarta, Pemerintah Minim Gandeng Ilmuwan

Editor : Nurdin Amir
Ilutrasi Polusi Jakarta. Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Ilutrasi Polusi Jakarta. Foto: (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Pembuat kebijakan yang berbicara tanpa data justru membuat kabur penyebab dari polusi ini.

Jejakfakta.com, Jakarta - Narasi mengenai polusi udara di Jakarta yang menjadi permasalahan sebulan terakhir sangat didominasi oleh narasi pembuat kebijakan yang minim dukungan data ilmiah.

Alih-alih polusi berkurang, pembuat kebijakan yang berbicara tanpa data justru membuat kabur penyebab dari polusi ini.

Chair Monash Climate Change Communication Research Hub (MCCCRH)- Indonesia Node, Ika Idris, mengatakan bahwa dalam pantauan pemberitaan media selama sebulan terakhir, aktor-aktor yang meramaikan diskusi publik justru datang dari pemerintah, perusahaan-perusahaan BUMN di bidang energi, dan perusahaan-perusahaan asuransi Kesehatan. Kalaupun ada di luar itu, yakni dari WHO, yang menyampaikan mengenai nilai panduan kualitas udara.

Baca Juga : Warga Keluhkan Bau Tak Sedap dan Polusi dari Pembakaran Limbah Medis di Kawasan Industri Makassar

“Karena pemerintah blunder dengan penyebab polusi udara, maka langkah dalam mengatasinya pun beda-beda satu sama lain. Pemerintah terkesan ingin solusi jangka pendek saja, bukan solusi jangka panjang yang sampai ke akar masalahnya," kata Ika di Jakarta, (29/08) dalam pernyataan tertulisnya yang dikirimkan ke media.

"Pemerintah juga tidak transparan menyampaikan sebenarnya sumbernya polusinya dari mana saja, misal berapa persen kontribusi dari kendaraan atau berapa dari PLTU,” sambungnya.

Sementara itu, kita tidak melihat ada ilmuwan yang dijadikan rujukan. Berkaca dari pandemi, pemerintah lagi-lagi tidak menganggap penting suara ilmuwan.

Baca Juga : Studi Tiru ke Dekranasda DKI Jakarta, Makassar Siap Terapkan Strategi Pemasaran UMKM

Dalam pantauan kami dengan Factiva-platform pemantauan berita milik Dow Jones, suara ilmuan masih sebatas diwakili oleh dokter atau dokter spesialis paru. Padahal masalah ini sudah mencakup isu kesehatan penduduk, sehingga perlu melibatkan ilmuwan dari berbagai bidang di antaranya teknik lingkungan, kesehatan publik, perubahan perilaku, transportasi, modifikasi cuaca, dan energi bersih.

Pada masalah genting seperti ini, pemerintah penting untuk mendengarkan ilmuwan dan utamanya data-data ilmiah.

Laporan Global Alliance on Health and Pollution tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara di urutan nomor 4 teratas dengan kasus meninggal prematur yang disebabkan polusi udara. Jumlahnya mencapai 123 ribu jiwa di tahun tersebut.

Baca Juga : Hari Peduli Sampah Nasional, DLH Makassar Targetkan 200 Pohon Ketapang Kencana

Sementara, menurut data yang sama, jumlah meninggal prematur karena semua jenis polusi mencapai 232 ribu jiwa di tahun 2019.

“Di tengah krisis udara bersih, jika pemerintah tidak tahu langkah apa yang mesti diambil, mestinya mereka mengundang ilmuwan dan mendengarkan masukan mereka,” tegas Ika.

Ia mencontohkan kebijakan pemerintah provinsi DKI Jakarta hampir tidak pernah mengacu pada usulan ilmuwan, tidak jelas basis pengambilan kebijakannya, dan tidak konsisten.

Baca Juga : Ratusan Sopir Bajaj Komitmen Menangkan AMAN di Pilwalkot Makassar

"Jika kita amati, kebijakan menutup pabrik arang, bekerja dari rumah bagi Aparatur Sipil Negara Pemprov DKI, hingga uji coba penyemperotan mist generator dari atas gedung, hampir tidak pernah dijelaskan landasan ilmiah pengambilan keputusannya," terangnya. (*)

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Baca Juga : Respon Pernyataan Jusuf Kalla, WALHI Sulsel Tegaskan Tidak Ada Smelter yang Ramah Lingkungan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#polusi udara #DKI Jakarta #data ilmiah #Ika Idris #Ilmuwan #kualitas udara
Youtube Jejakfakta.com