Jejakfakta.com, Makassar - Tenaga Ahli Tim Gubernur Untuk Percepatan Pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan (TGUPP Sulsel), Prof Veni Hadju mengatakan bahwa stunting sulit untuk diobati disebabkan karena keterlambatan pencegahan pada saat kehamilan.
Hal tersebut disampaikan Prof Veni Hadju saat pemaparan orientasi pencegahan stunting melalui lintas agama Provinsi Sulawesi Selatan, diselenggarakan oleh Jenewa dan Pemprov Sulsel yang didukung Tanoto Foundation dan Unicef, di Makassar, Rabu (06/09/2023).

“Stunting dicegah bukan diobati, karena kalau anak sudah stunting sudah terlambat karena penyebabnya masa lalu, dalam perut ibu tidak mengonsumsi makanan bergizi atau makanannya terbatas,” kata Prof Veni.
Baca Juga : Wabup Gowa Sisihkan Gaji Pribadi untuk Lawan Stunting, 200 Keluarga di Bajeng Terima Paket Gizi
Selain itu, Prof. Veni menuturkan bahwa tidak menutup kemungkinan stunting juga disebabkan faktor keturunan dari biologis sehingga sulit untuk di obati.
“Tapi kalau memang dulu ibunya menikah dibawah umur 20 tahun, dengan postur kecil ada kemungkinan itu penyebabnya dan tidak bisa lagi di tangani,” terangnya.
Meski demikian Prof. Veni mengatakan pencegahan stunting masih dapat di optimalkan dengan pemberian makanan yang bergizi pada ibu hamil dan pada anak usia 6 sampai 24 bulan.
Baca Juga : Pemkab Gowa Genjot MBG 3B, Wabup Tekankan Penanganan Stunting Harus Tepat Sasaran
“Dua tahun pertama masih bisa di support, karena penyebab stunting umumnya sejak ibu hamil dan 2 tahun ke bawah,” jelasnya.
“1000 hari pertama jadi sangat penting, ternyata setelah diteliti di lapangan kenapa isu 6 sampi 24 bulan sangat penting karena pemberian makanan sangat lemah di Indonesia,” sambungnya.
Dampak dari penyakit stunting sendiri akan memperlambat tinggi badan seseorang sehingga menyebabkan masalah dalam pertumbuhan.
Baca Juga : Dinas PPKB Luwu Timur Perkuat PIK-Remaja, Bangun Kolaborasi Cegah Stunting hingga Pernikahan Dini
“Karena stunting anak itu pendek tidak sesuai umurnya,” ungkapnya.
Indonesia sendiri termasuk dalam salah satu negara dengan tinggi badan terpendek, berdasarkan World Population Review tinggi badan orang Indonesia rata-rata 62,2 inci. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




