Senin, 09 Oktober 2023 10:19

Serangan Hamas Sesuai Target, Amerika Bantu Israel Kapal Induk

Kapal Induk Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN-78), saat transit di Samudera Atlantik pada 19 Maret 2023. (Foto: Angkatan Laut AS).
Kapal Induk Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford (CVN-78), saat transit di Samudera Atlantik pada 19 Maret 2023. (Foto: Angkatan Laut AS).

Hamas menyatakan serangan ke Israel sebagai bentuk perlawanan Palestina untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas agresinya terhadap Masjid suci Al Aqsa dan para pejuang Palestina yang ditahan.

Gaza - Militan bersenjata pejuang Palestina, Hamas, sukses menyerang daerah pendudukan penjajah Israel, Sabtu (7/10/2023) pagi. Serangan bernama "Operasi Badai Al Aqsa" sekaligus meruntuhkan reputasi Israel sebagai penjajah dengan proyek mata-mata terbesar di Timur Tengah. Agen intelijen Mossad tak berkutik.

Saat ribuan roket militan sayap bersenjata Hamas, Brigade Al Qassam, meluncur dari Jalur Gaza ke Israel, para militan Hamas lainnya ternyata melesat melintasi perbatasan Israel yang dijaga ketat.

Dengan menggunakan alat paralayang, prajurit Al Qassam bebas masuk area caplokan Israel seraya menyerang. 

Baca Juga : DMI Salurkan Makanan Siap Saji dan Air Bersih untuk Pengungsi Palestina di Gaza


Selain militer Hamas yang terbang berparasut, ketika roket menghantam Tel Aviv, Ashkelon, Yavne dan Kfar Aviv pada Sabtu pagi, terekam pula ratusan militan Hamas menerobos perbatasan melalui laut dan berjalan kaki. 

Kamera keamanan juga merekam militan bersenjata Hamas dengan lancar menerobos masuk ke kota Sderot Israel, satu mil dari Gaza. Di titik ini Hamas masuk dengan mengendarai truk pick-up dan sepeda motor.

Baca Juga : Serangan Israel di Bulan Ramadhan, Pembangunan Masjid Semi Permanen di Palestina Terhenti

Kendaraan di Israel hancur akibat serangan Hamas, Sabtu (7/10/23).

Komandan Hamas, Deif, mengatakan, serangan Hamas adalah awal dari "Operasi Badai Al Aqsa" dan merupakan respons terhadap kekerasan Israel di Tepi Barat, Gaza, dan sekitar kompleks Masjid Al Aqsa di Yerusalem. 

Presiden Palestina Mahmoud Abbas, mengatakan, rakyatnya mempunyai hak untuk membela diri dari pendudukan tentara penjajah Israel. Kelompok militan Jihad Islam Palestina mengatakan mereka juga terlibat dalam peristiwa tersebut.

Baca Juga : Hamas Sampaikan Terima Kasih atas Peran Jusuf Kalla dalam Membantu Palestina

Mencengangkan, Brigade Al Qassam menyiarkan rekaman video yang menunjukkan beberapa pejuangnya berada di situs militer Israel.

Dalam video, militan mengatakan, "Mereka adalah pasukan khusus Al Qassam di wilayah pendudukan selama Pertempuran Badai Al Aqsa."

Al Qassam juga memublikasikan video yang mendokumentasikan anggotanya merebut satu permukiman komunal di Israel, kibbutz, di samping fasilitas militer Kerem Shalom, berlokasi di selatan Jalur Gaza. Kilas video pun mengindikasikan tewasnya beberapa tentara Israel.

Baca Juga : Indonesia Sambut Gencatan Senjata Gaza, Dorong Perdamaian Berkelanjutan

"Operasi Badai Al-Aqsa berjalan sesuai rencana," kata juru bicara Al Qassam, Abu Ubaida, dalam sebuah pernyataan, menurut saluran satelit Al-Aqsa yang berafiliasi dengan Hamas, Sabtu (7/10/2023).

Hamas menyatakan melalui serangan ini, perlawanan Palestina dilakukan untuk menuntut pertanggungjawaban Israel atas agresinya terhadap Masjid suci Al Aqsa dan para pejuang Palestina yang ditahan.

"Ini adalah kesempatan bersejarah untuk mengalahkan pendudukan," kata Abu Ubaida dengan menyerukan kepada warga Palestina di Tepi Barat dan di dalam Israel untuk terlibat dalam pertempuran.

Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen

Tentara Israel: Ini Tidak Terbayangkan

Israel melancarkan aksi balasan ke Jalur Gaza pascaserangan dan infiltrasi Hamas pada Sabtu (7/10/23) yang diduga menewaskan sedikitnya 300 warga Israel dan melukai lebih dari 1.500 lainnya.

Pihak Israel mengatakan, mereka mengebom sekitar 426 sasaran di Jalur Gaza. Rumah kepala departemen intelijen Hamas menjadi salah satu target serangan udara Israel.

“Kami membunuh ratusan orang dan menangkap puluhan anggota Hamas,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir dari laman Al Arabiya.

Serangan rudal Israel ke permukiman penduduk Jalur Gaza, Sabtu (7/10/23).

Kantor berita Palestina, WAFA, melaporkan, serangan Israel ke Jalur Gaza telah membunuh setidaknya 313 orang.

"Korban tewas akibat perang Israel yang menghancurkan di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 313 sejak kemarin pagi, dengan lebih dari 1.990 lainnya terluka,” kata WAFA dalam laporannya pada Ahad (8/10/23).

“Menurut laporan tidak resmi, sekitar 750 warga Israel saat ini hilang,” kata Jerusalem Post lewat akun X resminya, Ahad (8/10/2023). Baik Israel maupun Hamas belum mengeluarkan laporan resmi tentang berapa banyak warga Israel yang telah dijadikan sandera.

Stasiun TV Israel menayangkan serangkaian laporan dari warga Israel yang ditawan atau hilang. Mereka memohon bantuan di tengah kabut ketidakpastian seputar nasib orang yang mereka cintai. 

Di antara mereka adalah Ora Kuperstein yang diwawancarai di Saluran 12 Israel dan mengatakan keluarganya sedang mencari keponakannya, Bar, 21 tahun, yang bekerja di rave yang diserang oleh Hamas dan dibawa ke Gaza.

“Tidak ada yang memberi tahu kami apa pun. Tidak ada yang membantu kami. Ini kekacauan,” katanya. 

“Orang tuanya tidak tahu apa-apa. Dia tiba di sana pada Jumat malam. Dari video yang kami lihat, dia berada di samping penjaga, yang merupakan orang pertama yang tertembak."

Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) Letkol Jonathan Conricus hanya menjelaskan, tentara dan warga Israel yang dibawa Hamas dengan keterangan jumlah yang tidak sedikit. The Guardian menulis jika angka tersebut diyakini sebagai puluhan sementara beberapa media di Israel melaporkan jumlahnya hingga 100 orang. 

Conricus mengatakan, beberapa sandera masih hidup, sementara yang lain diperkirakan tewas. Perkiraan tersebut sejalan dengan praktik faksi militan di Gaza yang mengambil sandera untuk ditukar dengan tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

“Ini adalah angka-angka yang sampai saat ini tidak terbayangkan,” kata Conricus. “Ini akan menentukan masa depan perang ini.”

Kekhawatiran bahwa warga Israel telah diculik mengingatkan pada penangkapan tentara Gilad Shalit pada 2006 yang ditangkap oleh militan Hamas dalam serangan lintas perbatasan. Hamas menahan Shalit selama lima tahun sampai dia ditukar dengan lebih dari 1.000 tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.

Amerika Serikat Kirim Kapal Induk Bantu Israel

Sekutu sejati Israel, Amerika Serikat, tidak diam melihat badai serangan sayap bersanjata Palestina, Hamas. Amerika mengirimkan bantuan militer untuk Israel dan sarana perang berupa kapal induk, kapal penghancur, jet tempur dan amunisi lainnya.

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat, dalam siaran persnya, Ahad (8/10/23), menuduh perjuangan rakyat Palestina yang digawangi militan Hamas sebagai serangan teroris. Lho? Berikut ini pernyataan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd James Austin III tentang bantuan AS ke Israel.

Pikiran saya terus tertuju pada rakyat Israel dan banyak keluarga yang kehilangan orang-orang terkasih akibat serangan teroris keji yang dilakukan Hamas. Hari ini, sebagai tanggapan atas serangan Hamas terhadap Israel, dan setelah diskusi rinci dengan Presiden Biden, saya telah mengarahkan beberapa langkah untuk memperkuat postur Departemen Pertahanan di kawasan guna meningkatkan upaya pencegahan regional.

Saya telah mengarahkan Kapal Induk USS Gerald R. Ford ke Mediterania Timur. Ini termasuk kapal induk Angkatan Laut AS USS Gerald R. Ford (CVN-78), kapal penjelajah berpeluru kendali kelas Ticonderoga USS Normandy (CG 60), serta kapal penghancur berpeluru kendali kelas Arleigh-Burke USS Thomas Hudner (DDG 116). ), USS Ramage (DDG 61), USS Carney (DDG 64), dan USS Roosevelt (DDG 80). Kami juga telah mengambil langkah-langkah untuk menambah skuadron pesawat tempur F-35, F-15, F-16, dan A-10 Angkatan Udara A.S. di wilayah tersebut. AS mempertahankan kesiapan pasukannya secara global untuk lebih memperkuat postur pencegahan ini jika diperlukan.

Selain itu, pemerintah Amerika Serikat akan segera menyediakan peralatan dan sumber daya tambahan kepada Pasukan Pertahanan Israel, termasuk amunisi. Bantuan keamanan pertama akan mulai dikirimkan hari ini dan tiba dalam beberapa hari mendatang. Memperkuat postur kekuatan gabungan kami, selain dukungan material yang akan segera kami berikan kepada Israel, menggarisbawahi dukungan kuat Amerika Serikat terhadap Pasukan Pertahanan Israel dan rakyat Israel. Saya dan tim akan terus menjalin kontak erat dengan rekan-rekan Israel untuk memastikan mereka mendapatkan apa yang dibutuhkan untuk melindungi warga negaranya dan mempertahankan diri dari serangan teroris yang keji ini.

Hingga saat ini, tensi peperangan Palestina vs Israel dilaporkan belum turun. Palestina sendiri mendapat dukungan dari negara tetangga, salah satunya, Lebanon. (WAFA/Republika/X/AP/defense.gov).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Hamas #Al Qassam #pejuang Palestina #Operasi Badai Al Aqsa #serang Israel #Lloyd James Austin III #Jalur Gaza #Kapal Induk #USS Gerald R. Ford (CVN-78)
Youtube Jejakfakta.com