Jakarta - Laporan survei Future of Jobs 2023 oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) memerkirakan, sekitar 83 juta lapangan pekerjaan berisiko hilang pada periode 2023 hingga 2027, imbas perkembangan teknologi automasi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence, AI).
Laporan WEF juga menyebut kemungkinan 23 persen pekerjaan sirna dan muncul profesi baru.

"Secara keseluruhan, analisis kami menunjukkan bahwa 69 juta pekerjaan akan tercipta dan 83 juta pekerjaan akan hilang yang bisa menyebabkan kontraksi di pasar tenaga kerja global," kata Direktur Pelaksana WEF Saadia Zahidi dalam laporan WEF tersebut.
Baca Juga : Takbir Bergema di Masjid Agung Malili, Bupati Irwan Ajak Jadikan Idulfitri Momentum Akselerasi Pembangunan
Menteri BUMN Erick Thohir dalam pertemuan Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI) di Jakarta, Kamis (12/10/2023), juga mengingatkan laporan WEF.
"85 juta lapangan pekerjaan yang hilang dibandingkan 67 juta yang tumbuh, artinya para tokoh muda punya tantangan berat," kata Erick.
Menurut Erick, anak muda Indonesia harus piawai menghadapi perkembangan teknologi AI dan generasi muda juga perlu memiliki perencanaan masa depan yang matang untuk membantu mendorong perekonomian Indonesia seiring dengan perkembangan zaman.
Baca Juga : Angka Pengangguran di Parepare Turun Jadi 5,23%, Jasa Kurir Jadi Andalan
"Saya menantang mana cetak biru Indonesia 2045 dari perspektif kalian (anak muda), bukan dari perspektif pemerintah, tapi perspektif kalian sebagai tokoh masa depan Indonesia," kata Erick kepada hadirin IAPPI.
Kesiapan Kerja Rendah
Tingkat kesiapan kerja (work readiness rate) Indonesia rendah akibat adanya skill mismatch sebagai imbas pesatnya era digital.
Baca Juga : FKG Unhas Hadirkan Ahli Kecerdasan Buatan Prof Cortino Sukotjo Jadi Dosen Tamu
Menurut ahli, skill mismatch merupakan ketidaksesuaian antara keterampilan tenaga kerja dan persyaratan keterampilan yang dibutuhkan pada pekerjaannya.
Beberapa waktu lalu, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengatakan, digitalisasi telah membawa perubahan terhadap jenis pekerjaan dan skill yang dibutuhkan di pasar kerja.
“Indonesia masih menghadapi tantangan dalam tingkat kesiapan kerja (work readiness rate) yang masih rendah karena adanya skill mismatch. Sehingga diperlukan upaya untuk mengisi kesenjangan antara permintaan skill seiring dengan peningkatan jumlah pekerjaan baru," kata Anwar Sanusi ketika sambutan secara daring acara Konsolidasi Informasi Pasar Kerja, di Jakarta, Jumat (16/6/2023).
Baca Juga : Di Forum Rektor Indonesia, Presiden Ingatkan Kampus Cetak SDM Unggul, bukan Hanya Kuasai Ilmu
Kemnaker RI, menurut Anwar, berkomitmen untuk meretas masalah kesiapan kerja, termasuk dengan mengonsolidasikan informasi suplai pasar kerja.
"Melalui konsolidasi informasi suplai pasar kerja ini diharapkan ketersediaan data semakin memadai dari sisi kuantitas menuju big data maupun dari sisi kualitas data yang terkonsiliasi," kata Anwar.
Kemnaker, lanjut Anwar, mendorong semua pihak dapat berpartisipasi dalam pengumpulan dan pengelolaan informasi pasar kerja dengan memanfaatkan pelayanan Karirhub SIAPkerja. Layanan dapat diakses melalui laman https://www.karirhub.kemnaker.go.id.
Baca Juga : LPMQ Kemenag Kembangkan Layanan Al-Qur'an dengan Teknologi AI
"Dari Karirhub SIAPkerja, pemberi Kerja dapat memperoleh calon pekerja yang memiliki skill dan keahlian sesuai dengan kebutuhan jabatannya," kata Anwar.
Selama tahun 2022, terdapat 758.547 pencari kerja yang mendaftar di Karirhub. Kemudian sebanyak 2.099 perusahaan telah membuka sebanyak 267.107 lowongan kerja untuk mengisi 4.888 posisi jabatan.(WEF/Kemnaker/Kompas/CNBC Indonesia).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




