Jejakfakta.com, Makasssar -- Bakal Calon Presiden Ganjar Pranowo mengatakan pentingnya pembangunan sumber daya manusia yang merata, khususnya di kawasan Indonesia Timur. Pemerataan ini akan menunjang perkembangan dan keberlanjutan pembangunan.
Hal tersebut disampaikan saat menyampaikan visi misi di perhelatan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Sabtu (4/11/2023) kemarin.

Dalam paparan gagasan dan visi-misinya, beberapa hal yang disorot, terutama soal pendidikan dan sektor kelautan. Ganjar Pranowo menawarkan pembangunan afirmasi untuk sektor pendidikan.
Baca Juga : Musrenbang RKPD 2027 Gowa: Akselerasi Ekonomi Melaju, Pemerataan Pembangunan Jadi Fokus Utama
"Di antaranya dengan memberikan ilmu pengetahuan berbasis sains sekaligus pendampingan untuk anak-anak yang memiliki talenta," katanya.
Di sektor kelautan, Ganjar menyoroti kemiskinan yang masih terjadi di wilayah pesisir. Menurutnya, dengan 77 persen wilayah laut di Indonesia, kontribusi sektor maritim hanya 7,6 persen dari produk domestik bruto (GDP).
"Indonesia menjadi 20 negara terburuk dari 152 negara. Angka kemiskinan di pesisir 12,5 persen. Sementara kredit macet nelayan mencapai 8,25 persen atau sekitar 186 miliar," bebernya.
Baca Juga : Takbir Bergema di Masjid Agung Malili, Bupati Irwan Ajak Jadikan Idulfitri Momentum Akselerasi Pembangunan
Bagi Ganjar, kondisi ini mengajak semua pihak terutama ilmuwan untuk hadir bersama untuk mecaru solusinya, dan baginya tak perlu saling menyalahkan.
"Saya tidak ingin saling menyalahkan, tetapi mari kita perbaiki bersama. Kita harus mengakui bahwa kita semua salah dengan kondisi ini,” katanya.
Kemudian, untuk mengatasi masalah tersebut, Ganjar menawarkan kemudahan akses dan modal bagi nelayan dan juga peningkatan keterampilan.
Baca Juga : Uceng Jadi Guru Besar UGM, Soroti Lemahnya Independensi Lembaga Negara
Tak hanya itu, solusi lain yang ditawarkan adalah perlunya pemanfaatan wisata berbasis konservasi juga perlu dilakukan. "Oleh karena itu, harus ada kemudahan dan konektivitas akses obyek wisata," jelasnya.
Paparan lain, Ganjar juga menyinggung terkait ekonomi biru, terutama untuk sektor kelautan.
"Sampai saat ini kita belum punya blue print untuk blue carbon credit. Dalam hitungan pakar ekonomi, blue carbon credit ini nilainya bisa mencapai Rp 3.540 triliun,” katanya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




