Ahad, 03 Desember 2023 09:54

Program Aksi Bergizi Pada Remaja Sebagai Intervensi Hulu dari Kasus Stunting

Editor : Redaksi
Silvana Herman, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin
Silvana Herman, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin

Program Aksi Bergizi menjadi langkah strategis pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi pada remaja, khususnya stunting.

Oleh: Silvana Herman, Mahasiswa S2 Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin

REMAJA merupakan setengah dari sumber daya manusia untuk masa depan, asset yang sangat besar untuk pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Di Indonesia, anak dan remaja berusia 10 hingga 19 tahun menghadapi tiga permasalahan gizi utama, yakni gizi kurang, gizi lebih, dan kekurangan zat gizi mikro. Sebanyak 25% remaja usia 13-18 tahun mengalami stunting atau memiliki pertumbuhan terhambat, 9% mengalami kurus atau memiliki indeks massa tubuh rendah, sementara 16% lainnya menghadapi masalah kegemukan dan obesitas. Terdapat juga sekitar 25% remaja putri yang mengalami anemia.

Baca Juga : Dinas PPKB Luwu Timur Perkuat PIK-Remaja, Bangun Kolaborasi Cegah Stunting hingga Pernikahan Dini

Penyebab utama masalah gizi pada remaja adalah pola makan yang tidak sehat, ditandai oleh rendahnya keragaman pangan, asupan makanan tinggi gula, garam, lemak, dan kurangnya konsumsi buah serta sayur sebagai sumber zat gizi mikro.

Menurut GSHS (2015), lebih dari 50% remaja usia 13-17 tahun dilaporkan mengonsumsi fast food setidaknya sekali dalam sehari. Selain itu, menurut IFLS (2015), hanya sekitar 1 dari 10 remaja yang melakukan aktivitas fisik selama 60 menit setiap hari.

Implikasi dari masalah gizi pada remaja sangat serius, terutama pada remaja putri yang dapat menjadi prediktor stunting. Stunting sendiri memiliki dampak jangka panjang pada kesehatan dan perkembangan generasi berikutnya.

Baca Juga : Putus Mata Rantai Kawin Anak–Stunting, Bupati Gowa Gerakkan Majelis Ta’lim hingga KUA Turun ke Desa

Berdasarkan data SSGI 2021, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 24,4%. Pemerintah berupaya mencapai target penurunan stunting menjadi 14% pada akhir tahun 2024, sebagaimana ditetapkan dalam RPJMN 2020-2024.

Program Aksi Bergizi dilaksanakan setiap hari Jumat dengan senam bersama, sarapan dan minum TTD, serta edukasi kesehatan di sekolah di Sulawesi Selatan. (Foto: Istimewa)

Dalam rangka percepatan pencegahan stunting, remaja, terutama remaja putri, menjadi fokus utama dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (Stranas Stunting).

Baca Juga : TP PKK Makassar Perkuat Fondasi Keluarga, Dari Cegah Stunting hingga Lansia Berdaya

Ada 11 intervensi untuk menurunkan stunting, dua di antaranya fokus pada remaja, yakni skrining anemia dan konsumsi tablet tambah darah (TTD) untuk remaja putri.

Program gizi remaja, yang awalnya pilot project di Kabupaten Klaten dan Lombok Barat, kini menjadi program nasional dengan dukungan Peraturan Bersama 4 Kementerian.

#AksiBergizi melibatkan tiga intervensi utama: (1) Sarapan dan Minum TTD bersama di sekolah/madrasah setiap minggu; (2) Edukasi gizi multi-sektor untuk mempromosikan pola makan sehat dan aktivitas fisik; serta (3) Komunikasi untuk perubahan perilaku yang relevan dan komprehensif. Implementasi program ini diintegrasikan dengan TRIAS UKS, mencakup Pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan, dan pembinaan lingkungan sekolah sehat.

Baca Juga : Kolaborasi PKK Gowa dan Bank Sulselbar Perkuat Pencegahan Stunting

Pendidikan kesehatan diterapkan seminggu sekali untuk mengubah sikap dan perilaku peserta didik dalam mendukung pemenuhan gizi seimbang. Kegiatan melibatkan materi pendidikan gizi, umpan balik guru terhadap bekal sarapan bersama, optimalisasi aktivitas fisik, dan pembinaan kader kesehatan sebagai model bagi teman sebaya.

Pelayanan kesehatan mencakup penjaringan kesehatan dan pemeriksaan berkala. Sarapan bersama dengan bekal bergizi dan minum Tablet Tambahan Darah (TTD) dilakukan sekali seminggu.

Program Aksi Bergizi dilaksanakan setiap hari Jumat dengan senam bersama, sarapan dan minum TTD, serta edukasi kesehatan di sekolah di Sulawesi Selatan. (Foto: Istimewa)

Baca Juga : Posyandu dan Pembinaan BKB Digelar di Tamarunang, Dukung Pencegahan Stunting Sejak Dini

Pencatatan Dinas Kesehatan menunjukkan peningkatan penerimaan TTD di Sulawesi Selatan dari 32,8% pada Desember 2021 menjadi 84% pada Oktober 2023, melebihi target nasional 58% pada tahun 2023. Pembinaan lingkungan sehat melibatkan pengawasan kantin sehat dan pemanfaatan pekarangan sekolah untuk kebun gizi.

Surat Edaran Gubernur Sulawesi Selatan No.441/3470/Diskes Tahun 2021 menetapkan Aksi Bergizi dilaksanakan setiap hari Jumat dengan senam bersama, sarapan dan minum TTD, serta edukasi kesehatan di sekolah. Tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan memiliki SK Tim Pembina Usaha Kesehatan Sekolah (SK-TPS UKS) untuk membina dan monitoring pelaksanaan Aksi Bergizi.

Dengan demikian, Program Aksi Bergizi menjadi langkah strategis pemerintah dalam menanggulangi masalah gizi pada remaja, khususnya stunting. Melalui pendekatan komprehensif dan kolaboratif, program ini bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan kondisi gizi remaja saat ini tetapi juga membangun dasar yang kuat untuk kesehatan generasi mendatang.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#masalah gizi #pencegahan stunting #aksi bergizi
Youtube Jejakfakta.com