Bersiwak, menggosok gigi dengan kayu siwak, disunahkan untuk segala aktivitas yang baik, khususnya ketika mau berwudhu dan salat. Sabda Nabi Muhammad Saw:
لولا أن أشق على أمتي لامرتهم بالسواك عند كل صلاة

LAW LAA AN ASYUQQO ‘ALA UMMATII LA’AMARTUHUM BISSIWAAKI ‘INDA LULLI SHOLAATIN”
Baca Juga : Berkurban dengan Seekor Kambing atau Patungan Sapi, Lebih Afdal Mana?
"Jika aku tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan perintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat.”(HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat hadis lain dinyatakan:
لامرتهم بالسواك مع كل وضوء
Baca Juga : Orang yang Lanjut Puasa Syawal Pertanda?
LA’AMARTUHUM BISSIWAAKI ‘INDA KULLI WUDHU’IN”
"Sungguh aku akan perintahkan mereka bersiwak, setiap akan berwudhu.” (H.R. Ahmad).
Perbuatan-perbuatan baik yang dianjurkan bersiwak antara lain ketika mau mengkaji ilmu, menghafal pelajaran, berzikir, makan, (termasuk bersahur), masuk ke rumah, berjimak (bersetubuh), berangkat dan pulang dari perjalanan, dan sejenisnya.
Baca Juga : 10 Hal Jika Telat Ikuti Imam Salat, Panduan Masbuk
Bersiwak sangat dianjurkan dilakukan pada tiga kondisi:
1. Ketika bau mulut yang telah berubah karena lama diam (tidak bicara) atau lainnya, Misalnya telah memakan bebauan seperti jengkol, petai, bawang dan sebagainya.
2. Ketika bangun tidur
Baca Juga : Hadiah Istimewa untuk Orang yang Baca Selawat
3. Ketika mau menjalankan salat baik fardhu maupun sunah.
Namun bersiwak [bagi orang yang berpuasa] dimakruhkan ketika tergelincir matahari hingga terbenam matahari, berdasarkan hadits yang menjelaskan:
لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك
Baca Juga : Pentingnya Wawasan Keagamaan dalam Memilih Pemimpin
LAKHULUUFU FAMISH-SHOOIMI ATHYABU ‘INDALLOOHI MIN RIIHIL MISKI
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa, itu lebih harum di sisi Allah daripada minyak misik (kesturi).” (H.R.al-Bukhari dan Muslim).
Jadi, kemakruhan tersebut untuk menjaga wangi kesturi di sisi Allah, sehingga jika bersiwak, maka bau mulut orang berpuasa itu akan hilang. Kendati demikian Imam Nawawi berpendapat tidak makruh bersiwak baik sebelum tergelincir matahari (waktu Zhuhur) maupun sesudahnya. Dengan begitu boleh hukumnya orang berpuasa menggosok gigi pada pagi, siang maupun sore.
Di antara keutamaan bersiwak adalah dapat membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah, sesuai dengan sabda Nabi :
السواك مطهرة للفم مرضاة للرب .
ASSIWAAKU MATHHAROTUN LIL FAMI, MARDHOOTUN LIRROBBI.
“Bersiwak itu bisa membersihkan mulut dan mengundang ridha Tuhan.”(HR.al-Bukhary)
Kemudian bisa menambah keunggulan pahala shalat. Sebagaimana dijelaskan dalam hadis:
ركعتان بسواك خير من سبعين ركعة بغير سواك
ROK’ATAANI BISIWAAKIN KHOIRUN MIN SAB’IINA ROK’ATAN BIGHOIRI SIWAAKIN”
"Dua raka’at dengan siwak, lebih baik daripada 70 raka’at tidak menggunakan siwak.”(H.R.ad-Daruquthni).
Ibrahim al-Bajuri dalam Hasyiyahnya Syarah Fathul Qorib mengatakan manfaat bersiwak yaitu dapat membuat setan benci, menambah kecerdasan, kefasihan bicara, menajamkan penglihatan, membantu pencernaan makanan, memperlambat pertumbuhan uban, mencegah kebongkokan, mempermudah sakaratul maut dan sebagainya.
Anjuran bersiwak menurut Riyadh Ash-Shalihin:
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambangun malam, beliau menggosok mulutnya dengan siwak.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 889 dan Muslim, no. 255]
Asy-syawshu adalah ad-dalku (menggosok).
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا ، قاَلَتْ : كُنَّا نُعِدُّ لِرَسُوْلِ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – سِوَاكَهُ وَطَهُورَهُ ، فَيَبْعَثُهُ اللهُ مَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَهُ مِنَ اللَّيْلِ ، فَيَتَسَوَّكُ ، وَيَتَوَضَّأُ وَيُصَلِّي . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kami biasa menyiapkan siwak dan air untuk bersuci Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah lalu membangunkannya sesuai dengan kehendak-Nya pada waktu malam. Maka beliau bersiwak, berwudhu, dan melakukan shalat.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 746]
وَعَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَكْثَرْتُ عَلَيْكُمْ فِي السِّوَاكِ )) رَوَاهُ البُخَارِي .
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Aku perbanyak (anjuran) untuk kalian tentang bersiwak.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 888]
وَعَنْ شُرَيْح بْنِ هَانِىءٍ ، قَالَ : قُلْتُ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : بِأَيِّ شَيْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ ؟ قَالَتْ : بِالسِّوَاكِ . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
Syuraih bin Hani’ berkata, “Aku bertanya kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Dengan apa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai ketika beliau memasuki rumahnya?” ‘Aisyah menjawab, “Dengan bersiwak.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 253]
وَعَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ ، وَهَذَا لَفْظُ مُسْلِمٍ .
Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku masuk menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ujung siwak sedang berada di lisannya.” (Muttafaqun ‘alaih. Hadits ini berdasarkan lafaz Muslim) [HR. Bukhari, no. 244 dan Muslim, no. 254]
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ )) رَوَاه ُالنَّسَائِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ فِي صَحِيْحِهِ بِأَسَانِيْدَ صَحِيْحَةٍ .
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siwak itu pembersih mulut dan (penyebab) keridaan Rabb.” (HR. An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah dalam kitab sahihnya dengan sanad yang sahih) [HR. An-Nasai, no. 5 dan Ahmad, 6:124. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih].
Sumber: KH Cep Herry Syarifuddin dan KH Muhammad Abduh Tuasikal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




