Selasa, 23 Januari 2024 10:43

Houthi Pantang Menyerah di Laut Merah, Kali Ini Serang Kapal Kargo Militer AS

Houthi merilis foto yang menunjukkan sebuah helikopter mendekati kapal kargo ‘Galaxy Leader’ di Laut Merah, bulan lalu, tepat sebelum kelompok berbasis Yaman utara ini menyita kapal tersebut. (Houthi Military Media/Handout/dpa)
Houthi merilis foto yang menunjukkan sebuah helikopter mendekati kapal kargo ‘Galaxy Leader’ di Laut Merah, bulan lalu, tepat sebelum kelompok berbasis Yaman utara ini menyita kapal tersebut. (Houthi Military Media/Handout/dpa)

Kelompok Yaman mengatakan serangan di Laut Merah adalah bagian dari dukungan mereka terhadap warga Palestina yang telah diserang pasukan Israel di Gaza selama lebih dari tiga bulan. Lebih dari 25.000 orang telah terbunuh, menurut pejabat Palestina.

Jejakfakta - Aksi milisi Houthi di Laut Merah belum kenal kata menyerah. Terbaru, poros perlawanan Timur Tengah yang menguasai sebagian besar wilayah Yaman ini mengklaim berhasil menyerang kapal kargo militer sekutu Israel, Amerika Serikat (AS), Ocean Jazz, di lepas pantai Yaman, Senin (22/1/2024).

Houthi telah menyerang puluhan kapal di jalur perairan utama tersebut sejak November 2023, sehingga perdagangan maritim internasional terganggu dan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian global meningkat.

Peta Laut Merah (Red Sea) dan basis strategis milisi Houthi di Selat Al Mandeb Yaman

Baca Juga : DMI Salurkan Makanan Siap Saji dan Air Bersih untuk Pengungsi Palestina di Gaza

Mengutip Aljazeera, AS dan Inggris, membalas dengan melancarkan serangan baru terhadap sasaran Houthi di Yaman ketika kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran terus menargetkan pelayaran komersial di Laut Merah. 

AS dan Inggris, Senin, mengatakan, mereka telah melakukan delapan serangan, dengan dukungan dari Australia, Bahrain, Kanada dan Belanda, yang menargetkan situs penyimpanan bawah tanah Houthi serta kemampuan rudal dan pengawasan. 

“Serangan presisi ini dimaksudkan untuk mengganggu dan menurunkan kemampuan yang digunakan Houthi untuk mengancam perdagangan global dan kehidupan para pelaut yang tidak bersalah,” kata pernyataan bersama tersebut. 

Baca Juga : Serangan Israel di Bulan Ramadhan, Pembangunan Masjid Semi Permanen di Palestina Terhenti

Pihak Houthi mengatakan, serangan itu adalah respons terhadap perang Israel di Gaza dan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Palestina. Kelompok bersenjata ini telah melakukan lebih dari 30 serangan terhadap pelayaran internasional sejak pertengahan November, menurut Kementerian Pertahanan Inggris. 

Dikatakan bahwa serangan terhadap situs Houthi adalah untuk meminta pertanggungjawaban kelompok tersebut “atas serangan ilegal dan tidak dapat dibenarkan terhadap pelaut dan pelayaran komersial” serta untuk “menurunkan ketegangan dan memulihkan stabilitas di Laut Merah”.

Serangan hari Senin ini terjadi setelah Houthi mengklaim berhasil melakukan serangan terhadap kapal kargo militer AS Ocean Jazz di Teluk Aden.

Baca Juga : Indonesia Sambut Gencatan Senjata Gaza, Dorong Perdamaian Berkelanjutan

Pejuang Houthi mengambil posisi di dek kapal kargo Galaxy Leader di Laut Merah pada November 2023 (Foto: Media Militer Houthi/Reuters)

Komando Pusat Angkatan Laut AS membantah klaim tersebut dan menyebutnya “jelas-jelas salah” dan mengatakan pihaknya “menjaga komunikasi terus-menerus dengan M/V Ocean Jazz selama transit yang aman”.

Kelompok Houthi tidak mengatakan kapan atau di mana tepatnya serangan itu terjadi, atau apakah ada kerusakan yang terjadi. 

Baca Juga : Gencatan Senjata Israel-Hamas Hampir Disepakati, JK: Semestinya Sudah Dilakukan Sejak Dulu Secara Permanen

“Angkatan Bersenjata Yaman menegaskan bahwa pembalasan terhadap serangan Amerika dan Inggris tidak bisa dihindari, dan agresi baru apa pun tidak akan luput dari hukuman,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan. 

Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, mengatakan, kapal yang disebutkan oleh Houthi pada hari Senin telah dikontrak oleh militer AS.

Rute yang lebih panjang 

Baca Juga : Jusuf Kalla: Genosida adalah Kejahatan Kemanusiaan, Bukan Urusan Internal Semata

Militer AS dan Inggris melancarkan serangan terhadap pasukan Houthi pada 11 Januari, sehari setelah Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk “dengan keras” serangan kelompok "pemberontak" terhadap pelayaran di Laut Merah dan menuntut agar mereka berhenti.

Houthi mulai menargetkan kapal dagang pada 19 November ketika mereka menangkap Galaxy Leader yang dioperasikan Jepang dan membawanya ke pelabuhan Hodeidah. Sejak itu, 25 awak kapal multinasional yang sebagian besar berasal dari Filipina, telah ditahan. 

Kelompok Yaman mengatakan serangan di Laut Merah adalah bagian dari dukungan mereka terhadap warga Palestina yang telah diserang pasukan Israel di Gaza selama lebih dari tiga bulan. Lebih dari 25.000 orang telah terbunuh, menurut pejabat Palestina di wilayah tersebut. 

Israel melancarkan serangannya ke Gaza setelah pejuang dari kelompok bersenjata Hamas melakukan serangan mendadak di Israel selatan pada 7 Oktober, menewaskan sedikitnya 1.139 orang, menurut Aljazeera jumlah korban berdasarkan statistik resmi Israel. Sekitar 240 orang lainnya ditangkap sebagai tawanan selama serangan itu. 

Sejauh ini, aktivitas Houthi terkonsentrasi di selat sempit Bab el-Mandeb, yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah. Sekitar 50 kapal berlayar melalui selat ini setiap hari, menuju dan dari Terusan Suez – arteri utama perdagangan maritim global.

Beberapa perusahaan pelayaran terbesar di dunia telah menghentikan operasinya di kawasan ini, dan malah mengirim kapal mereka melalui rute yang lebih panjang di sekitar Tanjung Harapan di Afrika Selatan sehingga memperlambat perdagangan antara Asia dan Eropa. 

Sumber: Aljazeera

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Houthi #Yaman #Laut Merah #Jalur Gaza #aksi bela Palestina #militer Amerika Serikat #Ocean Jazz #Terusan Suez #Tanjung Harapan #Afrika Selatan #perdagangan global #genosida #serangan Israel #Galaxy Leader
Youtube Jejakfakta.com