Rabu, 24 Januari 2024 20:00

Pemilu Damai

Editor : Nurdin Amir
Suaib Prawono, Tim Nasional Gardu Pemilu/Korwil GUSDURian Sulampapua.
Suaib Prawono, Tim Nasional Gardu Pemilu/Korwil GUSDURian Sulampapua.

Oleh: Suaib Prawono (Tim Nasional Gardu Pemilu/Korwil GUSDURian Sulampapua)

Hasrat untuk berkuasa lebih dominan ketimbang upaya untuk menegakkan prinsip kemanusiaan dalam berpolitik. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya menjadi basis perjuangan politik menjadi terlupakan.

Dua kata yang sekaligus menjadi judul tulisan ini sering kali digaungkan, bahkan tidak jarang dijadikan sebagai hashtag atau tagar di berbagai platform media sosial. Tujuannya tentu saja positif, yaitu mempromosikan perdamaian, agar hajatan pemilu yang akan digelar tahun ini berjalan damai dan demokratis.

Sebagai bagian dari sistem pergantian kepemimpinan, pemilu tak hanya sekadar menjadi salah satu instrumen demokrasi, tapi juga menjadi momentum awal perubahan bangsa menuju kehidupan yang lebih baik, bermartabat dan berkeadilan.

Baca Juga : Paslon Mulia Menang Telak di Tiga Survei, Aliyah Mustika Imbau Tim Jangan Lengah

Olehnya itu, terselenggaranya pemilu secara damai, demokratis dan bermartabat tentu menjadi harapan semua kalangan.

Pertanyaannya kemudian, apa yang maksud dengan pemilu damai? Tentu saja jawabannya bukan berarti ketiadaan kritikan atau membiarkan proses pemilu berjalan tanpa respon, melainkan terjaminnya kebebasan berpendapat atau respon masyarakat terhadap proses demokrasi yang sedang berlangsung.

Mendiamkan kecurangan atau membiarkan kandidat bersaing secara tidak sehat dengan alasan menjaga agar pemilu berjalan damai, tentu bukanlah sikap demokratis, melainkan bentuk pembiaran terhadap tindakan yang tidak demokratis. Karena itu, membayangkan pemilu tanpa gejolak adalah mustahil.

Baca Juga : Wujudkan Pemilu Damai, Polda Sulsel Bakal Gelar Zikir dan Doa Bersama

Pada konteks inilah, kedewasaan berdemokrasi menjadi sangat penting. Kedewasaan berdemokrasi tentu tidak hanya ditandai dengan peran aktif masyarakat dalam mengontrol jalannya pemilu, tetapi juga sejauh-mana kewarasan berpikir dikedepankan.

Demikian pula, pemilu damai, tentu tidak hanya sekadar bertujuan agar para kontestan pemilu beserta pendukungnya adem-ayem, tetapi juga memastikan proses perebutan kekuasaan secara elegan dan bermartabat. Sebab kekuasaan yang raih tidak dengan cara tidak damai, adil dan bermartabat, kedepannya berpotensi menciptakan kebijakan yang tidak demokratis pula.

Kampanye Pemilu damai paling tidak bisa memastikan proses perebutan kekuasaan berjalan secara demokratis dan bermartabat, dan tentu saja, perkara ini bukanlah hal mudah. Apalagi di era digital, hoaks dan ujaran kebencian hampir setiap saat mecuat di media sosial.

Baca Juga : Deklarasi Pemilu Damai, Pemilih Gen Z di Pangkep Capai 21 %

Belum lagi kultur media sosial, tidak hanya berhasil membentuk cara padang sebagian masyarakat kita, tetapi juga mengerus adab kesantunan dalam berkomunikasi. Bermedia sosial tanpa kisruh seoalah tidak asyik, bahkan sebagian kalangan sengaja mencari hal-hal seperti ini lalu mengsharenya.

Sebagian kalangan menilai, fenomena ini terjadi, selain karena minimnya gagasan, juga karena hasrat untuk berkuasa lebih dominan ketimbang upaya untuk menegakkan prinsip kemanusiaan dalam berpolitik. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang sejatinya menjadi basis perjuangan politik menjadi terlupakan.

Dampaknya pun cukup terasa, narasi politik kita semakin tidak mendidik, karena tak hanya diwarnai berita-berita bohong, tapi juga kebencian, dendam dan kecurigaan antar pendukung masing-masing pasangan calon. Tentu hal ini sangat berbahaya, sebab fenomena ini tak hanya berpotensi melahirkan konflik horizontal serta lemahnya ikatan solidaritas antar sesama, tapi juga berpotensi menciptakan disintegrasi bangsa.

Baca Juga : Pj Gubernur Sulsel Harap Literasi Digital Ciptakan Suasana Damai Selama Pemilu

Pada konteks inilah, penting untuk terus menyuarakan pemilu damai. Salah satu upaya untuk mewujudkan mimpi tersebut adalah terus mewacanakan pentingnya kesadaran berdemokrasi dengan melibatkan semua kalangan, tak terkecuali tokoh agama.

Sehingga dengan demikian, demokrasi tidak hanya dipahami sebatas instrumen politik semata, tapi lebih dari itu, menjadi basis nilai kemanusiaan. Gagasan ini berangkat dari cara pandang yang mengatakan, bahwa nilai tertinggi dari demokrasi adalah kemanusiaan, tidak boleh kekuasaan mengalahkan kemanusiaan, tapi kekuasaan harus tunduk pada kemanusiaan (Imam Aziz, 2018).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#pemilu damai
Youtube Jejakfakta.com