Makassar, Jejakfakta.com - Indonesia muslim terbesar dunia, tak pernah mengalami resesi (kemerosotan) populasi. Indonesia negara yang pertambahan populasinya tertinggi kelima dunia yaitu sebanyak 31,24 juta jiwa atau 12,75 persen menjadi 276,36 juta jiwa pada tahun 2021.
Namun, Indonesia perlu sedikit memerhatikan data pernikahan. Sedikit saja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, angka pernikahan di tanah air pada tahun 2021 yaitu 1,74 juta. Catatan BPS itu menunjukkan penurunan 2,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya yakni 1,79 juta pernikahan. Kuat dugaan penurunan pernikahan imbas Covid-19. Era Covid sarat larangan, termasuk larangan resepsi pernikahan.
Baca Juga : Indonesia Buat Sejarah, Kalahkan Jepang 5-3 dan Lolos ke Final Piala Asia Futsal 2026
Nah, sekarang mari kita intip nasib populasi negeri K-Pop, Korea Selatan. Nasibnya mirip Negeri Sejuta Stasiun Kereta Api, Jepang. Kedua negara ini mengalami “resesi seks” berikut peliknya kelahiran anak dan populasi mereka.
Berbagai sumber menyebutkan, gaya hidup menghambat gerak populasi Korea Selatan. Penduduk Negeri Gingseng gandrung hidup lajang, takut menikah, takut punya anak karena biaya hidup mahal. Mereka lebih fokus karier, fokus melestarikan pekerjaan yang hanya membutuhkan masa sehat dan muda mereka.
Media Inggris berusia 200 tahun, The Guardian, mengangkat judul I’m afraid to have children’: fear of an older future in Japan and South Korea, terbit Sabtu (19/11/2022). Laporan itu mengusut generasi Jepang dan Korea Selatan yang takut punya anak lantaran menganggapnya beban masa depan.
Baca Juga : Pejabat Pemkot Makassar ke Maniwa Jepang Belajar Penerapan Low Carbon City
Alhasil, menurut Guardian seperti dihimpun katadata, rendahnya angka kelahiran dan semakin menuanya penduduk Jepang tergambar dari penjualan popok dewasa meninggi. Penjualan popok bayi? Turun.
Penduduk tua Jepang (usia 65 tahun ke atas) pun dilaporkan semakin tinggi, mencapai 28 persen dari total populasi Jepang 120-an juta saat ini.
Masalah lagi: angka kelahiran Jepang rendah. The Guardian melaporkan, perempuan Jepang rata-rata melahirkan 1,3 anak selama masa hidupnya, jauh di bawah angka kelahiran yang dibutuhkan untuk mempertahankan populasi saat ini, yaitu 2,1.
Baca Juga : Mahasiswa FKIK Unismuh jadi Finalis Olimpiade Fisiologi Internasional di Jepang
Berangkat dari data tersebut, The Guardian, memerkirakan populasi Jepang bakal merosot dari 125 juta jiwa menjadi tinggal 88 juta jiwa pada 2065. Turun 30 persen.
Menurut The Guardian, Korea Selatan saat ini menyabet rekor angka kelahiran terendah di dunia, hanya 0,84 pada 2020 dan turun menjadi 0,81 pada 2021.
The Guardian punya prediksi lagi, populasi Korea Selatan bakal merosot tajam dari 52 juta orang pada saat ini, menjadi 38 juta orang pada 2070.
Baca Juga : Laga Hidup Mati: Indonesia vs Jepang di Piala Asia 2023. Akankah Tim Garuda Membuat Sejarah?
"Untuk pertama kalinya, proporsi rumah tangga lajang Korea Selatan menembus 40 persen pada tahun lalu. Jumlah pernikahan juga mencapai titik terendah sepanjang sejarah, yakni 193 ribu pernikahan pada 2021," tulis The Guardian.
Nyaris mirip gaya hidup generasi Jepang, menurut catatan The Guardian, sebagian orang di Korea Selatan, terutama perempuan, lebih mengutamakan kebebasan pribadi dan sepenuhnya mengesampingkan urusan pernikahan.
Guys, sepertinya perlu menimbang porsi gaya hidup. Sah-sah saja haqqul yaqin: banyak anak banyak rezeki. Jangan sampai krisis populasi, jangan sampai generasi Indonesia punah. (The Guardian/BPS/Katadata/Berbagai sumber).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




