Jejakfakta.com, Jakarta -- Save the Children Indonesia bersama dengan Jemari Sakato melakukan respon tanggap darurat bencana banjir dan longsor di Sumatera Barat. Saat ini, kedua organisasi tengah mempersiapkan pendataan dan pengiriman bantuan terutama di Kabupaten Pesisir Selatan, Rabu (13/3/2024).
Laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (11/3) menyebutkan total korban jiwa sebanyak 32 orang, dengan rincian 26 meninggal dunia dan 6 masih dalam pencarian di Pesisir Selatan.

Banjir dan longsor di Sumbar dipicu hujan dengan intensitas tinggi sejak Kamis (7/3). Tercatat sebanyak 12 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat terdampak, dan lebih dari 70.000 jiwa mengungsi termasuk sekitar 15.000 diantaranya adalah anak-anak.
Baca Juga : Pemkab Gowa Dorong Kolaborasi Antar Daerah Hadapi El Nino dan Jaga Keberlanjutan Pertanian
Interim Chief of Advocacy, Campaign, Communication & Media – Save the Children Indonesia, Tata Sudrajat mengatakan dalam situasi darurat seperti sekarang, data terkait anak-anak yang terdampak serta kebutuhan utama mereka masih menjadi tantangan dalam respon kemanusiaan di Indonesia.
"Saat ini tim kami sedang berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk dapat segera melakukan pendataan dan mendistribusikan bantuan terutama asupan pemenuhan gizi anak, ibu hamil dan menyusui selama mereka menjalankan ibadah puasa di Pengungsian,” ujar Tata Sudrajat melalui keterangan tertulisnya.
Save the Chidlren Indonesia akan fokus melakukan respon tanggap darurat bencana banjir dan longsor di 3 Kecamatan (Tarusan, Bayang dan IV Jurai) di Kabupaten Pesisir Selatan.
Baca Juga : Belajar Membaca Tanda Alam Sejak Dini: Edukasi Perubahan Iklim di SD Inpres Perumnas Antang I
"Respon yang dilakukan bertujuan untuk berupaya memenuhi hak anak dalam situasi darurat seperti hak kesehatan & kebersihan dengan menyediakan 10 titik air bersih, sanitasi serta 350 paket perlengkapan kebersihan mandiri," jelasnya.
Terkait dengan pemenuhan gizi, Save the Children juga menyediakan makanan bergizi bagi anak, ibu hamil dan menyusui di 3 titik pengungsian. Aspek penting lainnya adalah hak pendidikan dalam situasi darurat, dimana anak-anak tetap bisa belajar, bermain dan pulih melalui ruang ramah anak yang disediakan oleh Save the Children Indonesia.
Badan Meteorologi dan Klimatologi telah memberikan warning update (29/2) terkait potensi cuaca ekstrem di Indonesia. Sumatera Barat termasuk 1 dari 20 Provinsi yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang-lebat disertai angin kencang pada 8 – 10 maret 2024.
Baca Juga : Makassar Gandeng Yokohama, Gas Pol Transformasi Menuju Kota Nol Karbon Lewat Transportasi dan Energi Bersih
BNPB mencatat lebih dari 90% bencana alam di Indonesia dalam 1 dekade terakhir diperparah karena perubahan iklim.
Laporan global Save the Children ”Born into the Climate Crisis” pada September 2021 menjelaskan bahwa krisis iklim di Indonesia membawa dampak nyata dan dirasakan oleh anak-anak saat ini.
Anak-anak di Indonesia yang lahir tahun 2020 akan menghadapi 3 kali lebih banyak ancaman banjir dari luapan sungai, 2 kali lebih banyak mengalami kekeringan serta 3 kali lebih banyak gagal panen. Lebih buruk lagi, dampak krisis iklim ini membuat jutaan anak dan keluarga jatuh dalam kemiskinan jangka panjang di Indonesia.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




