Begitulah kutipan sederhana dari salah satu tenaga keperawatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Labuang Baji Makassar, Nashriyah Mustakim, S.Kep,Ners yang ditujukan kepada seluruh Tenaga Kesehatan (Nakes) di Indonesia.
Wanita yang kerap dipanggil Bu' Yayang ini sudah kurang lebih dua dekade bekerja di dunia keperawatan. Ia mengawali karirnya di Puskesmas selama 6 tahun dan dipindah tugaskan ke RSUD Labuang Baji Makassar pada 2010. Yang dimana rumah sakit tersebut juga merupakan tempat rujukan Tuberkulosis (TBC) pertama di luar pulau jawa pada saat itu.

Saat masih bekerja di Puskesmas, Bu' Yayang merasa bahwa TBC harusnya ditangani dengan lebih serius lagi, terlebih minimnya pengetahuan dari masyarakat tentang penyakit tersebut waktu itu. Ia akhirnya memilih untuk fokus pada kasus TBC di tiga tahun terakhir masa kerjanya disana khususnya pada pasien sensitif obat (TB SO).
Baca Juga : Kunjungan Wamenkes ke Gowa, Perkuat Perang Melawan TB dan 2.015 Kasus Jadi Fokus Eliminasi
Seiring maraknya kasus TBC dari tahun ke tahun juga kurangnya tenaga kesehatan pada saat itu, Bu' Yayang pun memutuskan untuk ikut dalam pelatihan yang diadakan di Bekasi pada 2010 guna membekali diri terhadap penanganan TBC yang setingkat diatas dari TB SO yaitu Resisten Obat (TB RO) sebelum dipindah tugaskan ke RSUD Labuang Baji Makassar.
Salah satu hal yang disayangkan Bu' Yayang selama menangani TBC adalah stigma atau pandangan orang orang mengenai penyakit tersebut yang sangat negatif, bukan hanya di masyarakat tapi juga di rekan Nakes yang lain karena minimnya edukasi dan pengetahuan tentang TB itu sendiri.
“Kalau kita sebut kata TBC saja beberapa dari mereka (Nakes) masih takut sehingga kita kesulitan di jumlah petugas yang mau membantu pada saat itu,” tutur Bu' Yayang ketika di wawancarai pada Jumat (15/3).
Baca Juga : Munafri Dampingi Wamenkes RI Tinjau Inovasi “Hantu Mesra” di Makassar, Perkuat Pemberantasan TBC
Bahkan karena parahnya pandangan terhadap TB di tahun itu, ruangan yang dipakai Bu' Yayang ditempatkan dibagian belakang Rumah Sakit yang berdekatan dengan tempat pembuangan sampah dengan alasan agar pasien yang mengidap tidak berlalu-lalang di dalam rumah sakit dan berjumpa pengunjung lain.
Prosedur penanganan setelah pasien dirujuk ke Rumah Sakit, mereka akan dikembalikan ke puskesmas terdekat namun tetap dalam pantauan. Tapi tidak sedikit dari mereka yang menolak untuk dikembalikan dengan alasan malu dan takut terhadap penilaian masyarakat sekitar jika kembali ke Puskesmas.
Namun, seiring berjalannya waktu pemerintah pun mulai serius dalam program eliminasi TBC. Dunia kesehatan di Indonesia pun tidak luput dari kemajuan khususnya di bidang pengobatan, Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit yang difokuskan penanganannya karena angka dan jumlah penderita sudah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Gencarnya sosialisasi dan penyuluhan adalah bentuk keseriusan pemerintah dalam program tersebut.
Baca Juga : Bupati dan Wabup Luwu Timur Ikuti Monev Percepatan Penuntasan TBC di Sulsel
Juga satu bentuk kemajuannya adalah bertambahnya pusat pelayanan TBC di wilayah Indonesia Timur yang dulunya hanya di RSUD Labuang Baji Makassar, sekarang sudah mudah ditemukan di berbagai provinsi di Indonesia. Di Sulawesi Selatan sendiri layanan di Rumah Sakit sudah tersedia di RSUP Dr.Wahidin Sudirohusodo Makassar, Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Makassar (BBKPM) dan beberapa tempat lain yang sudah mulai beroperasi terhitung sejak 2020.
Bu' Yayang berpesan bahwa TBC bukan penyakit yang tidak bisa disembuhkan, sebagai penyakit yang obatnya sudah tersedia wajib bagi tenaga kesehatan yang sudah dibekali ilmu untuk mendampingi dan membantu pasien sampai sembuh total.
“Tidak ada manusia yang ingin terkena penyakit, dan sudah kewajibannya perawat untuk memerlakukan pasien sebagai orang yang memang harus dibantu untuk sembuh,” pesannya.
Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham Tegaskan Komitmen Makassar dalam Eliminasi TBC di Forum Nasional
Di akhir wawancara kami, Bu' Yayang juga mengungkapkan harapan besarnya. “Semoga kedepannya stigma dan pandangan masyarakat terhadap TBC bisa berubah dan tidak lagi dianggap sebelah mata. Agar pasien tidak lagi merasa takut dan malu dalam turun langsung ke masyarakat,” pungkasnya. (***)
Liputan: Satria Pratama, Muthahar Asqalani Datau, Farhan Paputungan, dan Mirnawati Hajas (Mahasiswa Magang Yamali TB Sul-Sel dan Bakrie Center Foundation CLP Batch 8).
Tulisan ini dibuat untuk memperingati Hari Perawat Nasional 17 Maret 2024.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




