Perasaan yang membekas di waktu sebelumnya meninggalkan jejak yang mendalam membuat saya berjanji untuk kembali, kami menyebutnya janji bukan sekadar program karena janji berarti harus dilunasi. Dan Alhamdulillah, dengan adanya kesempatan dan waktu yang telah diberikan-Nya, saya dapat berkunjung kembali ke tempat ini Desa Poda-Poda, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polewali Mandar.
Kali ini kami kembali dengan Tema "Sinergitas Pengabdian, Pendidikan untuk Kemanusiaan" yang artinya bekerjasama dalam proses pengabdian untuk merawat pendidikan di daerah yang orientasinya adalah kemanusiaan dan bukan hanya sebagai tamu tapi sebagai bagian yang ada di dalamnya.

Panggilan hati dari Sekolah Satu Atap yang tidak bisa diabaikan ini membuat saya sadar bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu kesempatan. Di sepanjang perjalanan menuju sekolah, pikiran saya dipenuhi pertanyaan dan keraguan. Apakah dengan segala keterbatasan yang saya miliki, mampu menyalakan api semangat dalam diri anak-anak ini? Rasa ingin tahu mereka begitu besar, namun mampukah saya menjadi apa yang mereka butuhkan?
Baca Juga : Bupati Pangkep Pimpin Upacara Hardiknas 2026, Peserta Kenakan Pakaian Adat
Pagi itu embun mulai hilang dari dedaunan dan semua siswa memulai pembelajaran. Arsan, siswa kelas enam menuliskan mimpinya di selembar kertas.
"Impian saya, saya mau belajar dengan baik dan menjadi orang yang sukses supaya bisa bekerja untuk membantu ibu di rumah." tulis anak itu.
Setelah membaca impian yang mereka tuliskan di kertas, keraguan saya pelan-pelan ikut menghilang. Mereka bukan hanya belajar untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga yang mereka cintai. Setiap hari mereka datang dengan senyum, siap menerima ilmu dan pengetahuan baru.
Pengabdian ini bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan sebuah panggilan jiwa yang mendorong saya untuk berusaha melakukan hal yang lebih. Mengajar mereka adalah kebahagiaan tersendiri. Setiap hari saya melihat harapan di mata mereka, mata yang selalu mencari jawaban, mata yang memancarkan kebahagiaan meski dalam keterbatasan.
Baca Juga : Munafri Pangkas Rp60 Miliar Anggaran Seremonial, Alihkan ke Pendidikan dan Infrastruktur
Syifa, salah satu siswi di kelas satu yang setiap berhasil mengeja satu kata matanya berbinar-binar membuat kami memiliki harapan penuh untuk mereka semua dapat melanjutkan sekolahnya.
Desa ini mungkin jauh dari perkotaan, tapi jiwa-jiwa yang tinggal di sini begitu kaya akan kebaikan, tempat yang terletak kekuatan cinta dari masyarakat yang luar biasa. Keindahan alam dan kehangatan manusianya terasa dalam setiap sapa, senyum, dan bantuan yang diberikan tanpa pamrih.
Di desa ini, sumber daya alam dan sumber daya manusia berjalanan beriringan demi terciptanya sebuah keharmonisan tetapi pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia untuk pembangunan.
Baca Juga : Kolaborasi Pemkab Gowa–IKA SPENSAB Menguat, Wabup Dorong Alumni Jadi Motor Kemajuan Pendidikan
Sebagai rakyat Indonesia hak kita untuk menuntut ilmu adalah mutlak dan tidak terbantahkan, dengan adanya pemerataan pendidikan antara sekolah di kota dan sekolah di desa dapat menghapus bayang-bayang ketidakadilan. Dengan pendidikan yang adil dan merata, setiap anak negeri dapat menggapai impian mereka dan menanam benih harapan baru bagi masa depan yang mereka inginkan.
Tawa anak-anak dari seberang sungai di setiap sorenya menjadi sumber kehidupan di desa ini. Kami ikut bermain bebas bersama mereka, menciptakan kenangan dan kebahagian yang tidak akan terlupakan. Meskipun suatu hari nanti mereka akan menghadapi kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan rencana, momen-momen ini akan tetap menjadi pengingat akan masa-masa mereka yang hanya penuh dengan keceriaan.
Senang rasanya bisa menjadi bagian dari perjalan mereka meraih mimpi, memberikan apa yang menurut kami terbaik dan mampu untuk diberikan demi menciptakan perubahan positif. Sambutan hangat dari masyarakat setempat berhasil membuat kami ingin kembali lagi. Dan desa ini dengan segala kesederhanaannya, telah menjadi tempat di mana kebahagiaan benar-benar ditemukan.
Baca Juga : 2.181 Usulan Masuk Musrenbang 2026, Munafri Bongkar “Deep State” di Birokrasi Makassar
Salam Cinta dari Kami untuk Warga Setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




