RDP Kasus Kematian Santri di Pompes Al Imam Hashim, DPRD Makassar Atensi Jangan Terulang
Makassar - DPRD Kota Makassar berharap kepada pihak sekolah atau pesantren untuk meningkatkan pengawasan guna menghindari penganiayaan terhadap peserta didik atau santri.

Komisi D DPRD Makassar rapat dengar pendapat (RDP) terkait kasus santri yang diduga meninggal di tangan seniornya di Pondok Pesantren PPTQ Al Imam Ashim Makassar.
Baca Juga : Munafri-Aliyah Pastikan Aspirasi Warga dari Reses DPRD Segera Ditindaklanjuti
Ketua Komisi D DPRD Makassar Andi Hadi Ibrahim Baso mengatakan, RDP diadakan agar tidak lagi terjadi peristiwa berulang yang merenggut nyawa.
"Walaupun bukan sesuatu yang disengaja, tetapi itu dianggap kelalaian yang diharapkan diperbaiki ke depan agar tidak ada lagi kejadian serupa," katanya.
RDP dihadiri Dinas Pendidikan, DP3A Makassar, Kemenag Makassar, Lembaga Perlindungan Anak (LPA), dan Shelter warga bersama perwakilan pesantren PPTQ Al Imam Ashim.
Baca Juga : Kepala Dinas PPKB Kota Makassar Hadiri Rapat Konsultasi dengan Komisi D DPRD
Tercatat sejumlah rekomendasi RDP untuk ditindaklanjuti:
Pertama, melakukan monetoring dan evaluasi (monev) berkala oleh tim, yaitu Dinas, Kemenag, dan lainnya.
Kedua, meminta agar pihak pesantren melakukan perbaikan sarana prasarana. Misalnya dengan menambah lebih banyak kamera pengawas atau CCTV untuk peningkatan pengawasan ke santri.
Baca Juga : Sekda Zulkifly Siap Kawal Aspirasi Reses DPRD Makassar Masa Sidang Ketiga
Ketiga, pembenahan sistem pengawasan dengan menambah jumlah pengasuh atau pembina pesantren karena banyaknya anak-anak di pondok itu. Kemudian melakukam kegiatan siswa yang bersifat adanya kebersamaan.
“Seperti outbond yang melibatkan narasumber dari DP3A, Dinas Pendidikan, Kemenag, dan lainnya untuk terlibat didalamnya,” katanya.
Pihak pesantren juga diminta untuk berimbang dalam menerima santri. Harus memerhatikan kondisi sekolah atau pesantren.
Baca Juga : Fraksi PKS di DPRD Makassar, Siap Mendukung Program Appi-Aliyah
Kepala DP3A Makassar, Achi Sulaiman, mengatakan, pihak pesantren perlu melakukan berbagai perbaikan. Dia sepakat jika dilakukan rapat monitoring berkala dilakukan karena itu sebagai komitmen untuk melihat sejauh mana pihak pesantren.
Dia juga menyarankan perlunya pengasuhan yang lebih berperspektuf pada anak mengingat pesantren ini adalah lembaga yang betul-betul mendidik anak. “Kemudian perlu edukasi anak sebagai duta buli,” katanya.
Achi pun berharap agar kejadian ini dijadikan semua pesantren di Makassar untuk berbenah diri untuk melihat pola pengasuhan yang baik terhadap anak. Sehingga terulang kejadian serupa.
Baca Juga : Pimpin Pelepasan Jenazah Ruslan Mahmud, Munafri: Selamat Jalan Sahabatku
Perwakilan Kemenag Makassar, Tompo, mengatakan, kejadian ini menjadi evaluasi Kemenag kepada pesantren di Makassar.
“Ini menjadi pengingat untuk seluruh pesantren berbenah. Jangan sampai banyak yang terjadi,” kata Tompo.
Kemenag juga kata dia juga mengeluarkan edaran keseluruh pesantren. Misalnya terkait agar tidak menerima santri melebihi kapasitas.
“Karena kalau berlebih itu bisa membuat santri jenuh di pesantren dan memicu santri berbuat hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




