Jumat, 20 September 2024 18:53

Ekspor Nikel Indonesia Naik Jadi Rp250 Triliun, Presiden Jokowi: Hilirisasi Menjadi Kunci

Pengerukan sumber daya alam, seperti tambang nikel, merusak lingkungan alam dan mata pencaharian masyarakat kecil jangka panjang, seperti penampakan dampak tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara ini. (Dok. TEMPO).
Pengerukan sumber daya alam, seperti tambang nikel, merusak lingkungan alam dan mata pencaharian masyarakat kecil jangka panjang, seperti penampakan dampak tambang nikel di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara ini. (Dok. TEMPO).

Selain nikel, Presiden Jokowi juga menyinggung pengembangan hilirisasi di sektor tembaga dan bauksit. Dua smelter besar di Amman-Sumbawa, dan Freeport-Gresik, akan segera beroperasi dengan nilai investasi mencapai Rp50-60 triliun.

Surakarta - Presiden Joko Widodo menegaskan hilirisasi industri nikel dan sumber daya alam lainnya merupakan kunci dalam meningkatkan ekonomi nasional.

“Menurut saya tadi sudah disampaikan oleh Pak Gubernur BI, hilirisasi menjadi kunci,” kata Presiden saat memberikan sambutan pada pembukaan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) XXII dan Seminar Nasional 2024 yang digelar di Hotel Alila, Surakarta, kemarin.

Presiden Jokowi menyatakan, hilirisasi nikel telah membawa lonjakan besar bagi penerimaan negara. Ekspor nikel Indonesia pada 2015 senilai Rp45 triliun, namun setelah kebijakan hilirisasi diterapkan, nilai tersebut menjadi Rp520 triliun pada 2023.

Baca Juga : Buka Puasa Bersama PT POMU, Bupati Luwu Timur Tekankan Pentingnya Investasi untuk PAD

“Ada yang menyampaikan kepada saya ‘Pak itu yang untung kan perusahaan pak, rakyat dapat apa?’ Jangan keliru, kita pungut pajak dari sana, pajak perusahaan pajak karyawan, bea ekspor, pajak ekspor, bea keluar, belum PNBP-nya, penerimaan negara bukan pajak, besar sekali,” kata Presiden Jokowi.

Selain nikel, Presiden Jokowi juga menyinggung pengembangan hilirisasi di sektor tembaga dan bauksit. Dua smelter besar di Amman-Sumbawa, dan Freeport-Gresik, akan segera beroperasi dengan nilai investasi mencapai Rp50-60 triliun.

Tidak hanya berbicara soal sektor mineral, Presiden juga menggarisbawahi pentingnya pengembangan hilirisasi untuk sektor-sektor yang lebih padat karya, seperti rumput laut. Menurut Presiden, Indonesia memiliki garis pantai terpanjang di dunia, dengan potensi besar dalam pengembangan rumput laut.

Baca Juga : Angkat Potensi Daerah, Bupati Irwan Paparkan Kekuatan Luwu Timur di Hadapan Pangdam XIV Hasanuddin

“Karena dari sinilah nanti bisa turunannya baik ke pupuk organik, baik ke agar, baik untuk kosmetik, baik untuk tepung dan juga untuk minyak pesawat terbang sekarang ini bisa dari rumput laut,” kata Presiden.

Selain itu, Presiden turut menyoroti potensi komoditas lain seperti kopi dan kakao. Ia menyebut bahwa produksi kopi Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Vietnam, meskipun Indonesia lebih dahulu memulai. Presiden menyebut bahwa riset dan pengembangan (R&D) di sektor pertanian Indonesia masih lemah sehingga berdampak pada rendahnya produktivitas.

“Permintaan makin naik, harga makin naik setiap tahun tapi tidak pernah kita urus R&D kita, riset kita lemah di sini,” tutur Presiden.

Baca Juga : Sinergi Keamanan dan Pembangunan: Pangdam XIV/Hasanuddin Apresiasi Komitmen Luwu Timur

Presiden pun meminta kepada ISEI untuk terus memberikan masukan, desain, dan strategi yang taktis untuk mendorong hilirisasi sektor-sektor potensial lainnya. Ia berharap strategi tersebut bisa menjadi pegangan bagi pemerintah selanjutnya.

“Sebulan lagi saya sudah pensiun, sehingga betul-betul arah menuju ke Indonesia Emas itu betul-betul bisa raih dengan lebih cepat,” kata Jokowi.

Sumber: BPMI Setpres

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Presiden Joko Widodo #Tambang Nikel #sektor mineral #Konawe Utara #hilirisasi nikel #Kongres ISEI
Youtube Jejakfakta.com