Jejakfakta.com, MAKASSAR -- Pengenalan moderasi beragama dalam praktek kehidupan sehari-hari umat manusia dinilai menjadi sangat penting. Hal tersebut karena gagasan moderasi beragama dianggap cukup efektif dalam menyelesaikan persoalan antar umat manusia, seperti persoalan kerukunan umat beragama maupun persoalan lain.
Saya kira moderasi beragama solusi alternatif merawat perdamaian antar bangsa terutama antar beragama," jelas Muhaemin Latif, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin Makassar, salah satu narasumber dalam diskusi moderasi beragama yang digelar oleh Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (Lapar) Sulsel bekerjasama dengan Balai Litbang Agama Kota Makassar, pada Sabtu 14 Desember 2024.

"Moderasi beragama menjadi jalan tengah untuk menciptakan iklim yang harmonis antar umat beragama. Saya yakin aspek-aspek yang lain juga turut harmonis dengan adanya konsep ini, sehingga sangat berpengaruh dalam mewujudkan visi pembangunan secara bersama-sama," tambah Muhaimin.
Baca Juga : Perwakilan Makassar Bersinar di MTQ Maros, 31 Kafilah Lolos Final Bidik Juara Umum
Terlebih dalam konteks Sulsel, menurut Muhaimin agenda kerja-kerja moderasi beragama sangat penting digaungkan terus dengan melibatkan semua unsur stakeholder.
"Saya kira sulsel adaah pintu di Indonesia timur. Jadi apapun yang terjadi di Sulsel kalau tidak dirawat dengan baik itu bisa menjadi cermin di Indonesia timur, makanya moderasi agama ini menjadi penguat, menjadi suatu maha penting," ujarnya.
Sementara itu, Saprillah, Wakil Ketua Tanfidziyah pengurus wilayah Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, menyampaikan bahwa konsep moderasi beragama ini merupakan agenda yang dicanangkan oleh Kementerian Agama RI sejak 2019 lalu. Hal ini dilakukan untuk merawat kerukunan antar umat beragama.
Baca Juga : Hadiri Dharma Santi Nyepi, Wali Kota Makassar Ajak Warga Hindu Rawat Kerukunan dan Keberagaman
"Konteks awalnya ini yaitu menjaga indonesia dari ideologi keagamaan yang fundalmental, seperti teror bom, teroris, itu awalnya," ujar Pepy sapaan akrabnya yang juga pembicara dalam diskusi tersebut.
Namun sering kesini, kata Pepy, penerapan konsep moderasi beragama mengalami perkembangan. Menurutnya bukan lagi hanya menyasar segment agama tetapi juga mulai menyentuh soal isu-isu disabilitas dan kesehatan.
"Kelompok ini sudah meredah, sekarang diarahkan untuk soal isu difabel, kesehatan dan isu-isu lainnya, diarahkan kesitu," ujar Pepy.
Baca Juga : Ramadan dan Cap Go Meh Beririsan, Makassar Luncurkan 5 Kelurahan Sadar Kerukunan
Nur Hidayah pegiat perdamaian yang juga Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Alauddin Makassar juga mengutarakan pentingnya penerapan konsep moderasi beragama ini.
"Konsep moderasi beragama juga bisa dipakai dalam pelayanan kesehatan, misalnya tidak boleh membeda-bedahkan pasien," ujarnya.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




