Kamis, 13 Februari 2025 17:08

Bencana Alam Terus Menghantui Sulsel, Walhi Ungkap Penyebab dan Solusinya

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Walhi Sulsel menyebutkan bahwa bencana alam yang semakin sering terjadi ini dipicu oleh penurunan daya dukung lingkungan. @Jejakfakta/dok. Walhi Sulsel
Walhi Sulsel menyebutkan bahwa bencana alam yang semakin sering terjadi ini dipicu oleh penurunan daya dukung lingkungan. @Jejakfakta/dok. Walhi Sulsel

Walhi Sulsel mendesak pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan pencegahan dan penanganan bencana yang lebih holistik.

Jejakfakta.com, MAKASSAR – Hujan lebat disertai angin kencang kembali melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan (Sulsel), memicu banjir dan longsor di beberapa daerah, termasuk Maros, Makassar, dan Gowa. Walhi Sulsel menyebutkan bahwa bencana yang semakin sering terjadi ini dipicu oleh penurunan daya dukung lingkungan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros mencatat sekitar 4.000 kepala keluarga terdampak banjir di 14 kecamatan. Di Makassar, sekitar 2.164 jiwa turut merasakan dampaknya di empat kecamatan. Sementara itu, Kabupaten Gowa melaporkan kerusakan di enam kecamatan akibat cuaca ekstrem.

Berdasarkan laporan tahunan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sulawesi Selatan, tercatat sebanyak 362 kejadian bencana sepanjang tahun 2024. Jumlah ini mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun 2014 yang hanya mencatatkan 54 kejadian. Kerugian yang ditimbulkan akibat bencana tersebut bahkan mencapai angka fantastis, yakni 1,95 triliun rupiah.

Baca Juga : 6 Bulan Pascatumpahan Minyak PT Vale, WALHI Ungkap Pencemaran Capai 19 Km dan Tuntut Akuntabilitas

Menurut Slamet, Kepala Departemen Riset dan Keterlibatan Publik Walhi Sulsel, bencana yang semakin sering terjadi ini berkaitan erat dengan penurunan daya dukung lingkungan di Sulsel.

"Kondisi lingkungan di Sulawesi Selatan sudah berada dalam keadaan kritis. Tutupan hutan di provinsi ini pada 2023 hanya tersisa sekitar 1,36 juta hektar, atau hanya 29,7% dari total luas wilayah," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Kamis (13/2/2025).

Walhi Sulsel menyebutkan bahwa bencana alam yang semakin sering terjadi ini dipicu oleh penurunan daya dukung lingkungan. @Jejakfakta/dok. Walhi Sulsel

Baca Juga : Warga Tolak Tambang Emas di Enrekang, Justru Diperiksa Polisi

Penyebab Kerusakan Lingkungan

Slamet menjelaskan bahwa penyusutan luas hutan di Sulsel disebabkan oleh berbagai faktor, seperti pemberian izin pertambangan di wilayah hulu, alih fungsi lahan, penebangan liar, dan pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan.

"Dampak dari kerusakan ini sangat besar, terutama bagi 139 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang ada di Sulsel, di mana 72,6% dari DAS tersebut mengalami kondisi kritis akibat kehilangan tutupan hutan yang sangat masif setiap tahunnya," ungkapnya.

Baca Juga : WALHI Sulsel Konsolidasikan Pecinta Alam, Dorong Gerakan Advokasi Lingkungan yang Lebih Kuat

Menurut data Walhi Sulsel, penurunan tutupan hutan sangat signifikan di dua DAS besar, yakni Maros dan Tallo. Bahkan, DAS Maros kehilangan lebih dari 1.000 hektar hutan dalam 30 tahun terakhir.

Bencana banjir dan longsor yang terjadi belakangan ini, menurut Slamet, merupakan hasil dari akumulasi kerentanan ekologis yang terus meningkat. "Faktor-faktor yang memperburuk keadaan termasuk curah hujan yang tinggi, pasang air laut yang mengganggu aliran sungai, terbatasnya wilayah resapan air, dan buruknya sistem drainase di daerah-daerah yang terdampak," tuturnya.

Melihat dampak yang semakin parah, Walhi Sulsel mendesak pemerintah untuk segera merumuskan kebijakan pencegahan dan penanganan bencana yang lebih holistik.

Baca Juga : Angin Puting Beliung Melanda Desa Burau Pantai, Pemkab Lutim Bergerak Cepat Data Korban

"Pendekatan berbasis bentang alam perlu diterapkan, di mana tiap daerah tidak hanya bertanggung jawab atas wilayahnya sendiri, tetapi harus bekerja sama untuk menyelesaikan masalah bersama," tegas Slamet.

Walhi juga menekankan pentingnya peran pemerintah dalam melakukan monitoring dan evaluasi terhadap aktivitas yang merusak lingkungan, seperti pertambangan dan pembangunan infrastruktur yang mengabaikan dampaknya terhadap ekosistem.

"Tanpa tindakan tegas terhadap pelaku usaha yang merusak lingkungan, bencana alam di Sulawesi Selatan akan terus meningkat, dan yang menjadi korban adalah masyarakat itu sendiri," ujar Slamet mengingatkan.

Baca Juga : Walhi Sulsel Soroti Pengadaan Insinerator Mini di Makassar, Desak Penghentian Operasi Sementara

Walhi juga menegaskan bahwa krisis lingkungan ini bukan hanya masalah lokal, melainkan ancaman bersama yang membutuhkan kerjasama lintas daerah dan sektor untuk mencegah bencana lebih lanjut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Walhi Sulsel #Bencana Alam #daya dukung lingkungan #Krisis Lingkungan
Youtube Jejakfakta.com