Makassar, jejakfakta.com - Pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) RI menduga AD atau AR sudah berusia dewasa, 18 tahun. Berbeda dari data umur AD 17 tahun seperti santer diberitakan selama ini.
Tersangka AD sebagai otak penculikan dan pembunuhan Muhammad Fadli Sadewa atau Sadewa (11), menurut Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kemen PPPA, Nahar, sudah dapat dijerat Pasal 340 KUHP jika benar berusia 18 tahun.

"Dan dengan mengacu pada Pasal 340 KUHP maka dapat diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama 20 tahun," kata Nahar dikutip dari detikcom, Kamis (12/1/2023).
Baca Juga : Kominfo Blokir 7 Situs dan 5 Grup Media Sosial Berisi Konten Jual Beli Organ Tubuh Manusia
Tersangka AD bersama tersangka MF (18) menculik bocah Sadewa dari pelataran parkir minimarket Jl Batua Raya, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala, kota Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (8/1/2023).
Aksi kedua tersangka terekam kamera pengawas Indomaret, sekitar pukul 17.00 Wita. AD yang yang membawa Sadewa mengendarai sepeda motor.
Nahar mengutarakan bahwa akta kelahiran salah satu pelaku tertanggal 5 November 2004 atau sudah di garis umur dewasa: 18 tahun.
Baca Juga : Pantang Minta-minta, Habis Cari Duit Sadewa Masak Baru Makan
"Salah satu pelaku penculikan anak 11 tahun di Makassar diduga telah dewasa atau telah berusia 18 tahun," kata Nahar.
Kementerian PPPA pun menduga ada ketidakakuratan dalam pendataan tanggal kelahiran pelaku pembunuhan Sadewa.
"Datanya masih bisa salah atau asal mencatat di akta kelahiran. Kami sedang mencoba dalami lagi agar tidak salah menetapkan ancamannya," kata Nahar.
Baca Juga : Saksi Mata Gemetar dan Nangis, Sempat Larang Sadewa Dengar Ajakan Pelaku
Tersangka AD mengaku membunuh Sadewa dengan alasan ingin menjual organ tubuh korban melalui situs jual beli orang tubuh.
Tersangka AD dilaporkan sudah setahun menonton tentang konten perdagangan jasad manusia melalui situs jual beli organ tubuh.
Saking tergiurnya, AD dibantu MF pun melancarkan aksinya dengan menghabisi nyawa Sadewa.
Baca Juga : Fadli Sadewa Tawarkan Jasa Bersihkan Lahan hingga Jadi Kuli Panggul di Pasar Toddopuli, Bayar Seikhlasnya
Pelaku menculik dengan cara menjebak. AD mula-mula menawari Sadewa upah Rp 50 ribu untuk bersih-bersih rumah.
Sadewa mudah saja menerima tawaran AD. Sadewa, selain kerap jadi kuli, juru parkir, bocah ini juga melayani jasa bersih-bersih rumah atau lahan atau cabut rumput sekalipun, apa saja.
Nahas, Sadewa tewas dibunuh oleh AD dan MF di rumah AD, Batua Raya, Ahad (8/1/23) malam.
Baca Juga : Saya Pergi Jadi Juru Parkir Dulu, Nek, Mau Belanja untuk Sekolah Besok
Sebelumnya, polisi menyatakan kedua tersangka masih berusia di bawah 18 tahun: AD 17 tahun dan MF 14.
Pihak keluarga korban berharap agar penegak hukum menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada pelaku.
Layani Apa Saja, Bayar Seikhlasnya
Jika juru parkir dewasa muncul menguasai perparkiran minimarket seantero Batua Raya maka Muhammad Fadli Sadewa (11) harus minggir, pergi cari nafkah ke tempat lain dengan kerjaan apa saja.

Sadewa, bocah yang ditinggal ibu sejak usia 6 tahun, bisa melayani jasa apa saja di pusaran Kelurahan Batua, tempat dia tinggal bersama neneknya, Aminah (57) dan kakeknya, Jamaluddin.
Murid kelas 5 SD di Batua itu rupanya bukan tipe anak yang suka buang-buang waktu.
Jemput bola. Itu dia trik jitu Sadewa mendulang pundi-pundi, menurut kakeknya, Jamaluddin.
“Om, mau ki [apakah Anda mau] saya bersihkan rumput ta [rumput di pekarangan Anda],” kata kakek menirukan kalimat Sadewa kepada jejakfakta di kediaman Aminah (57), Jl Batua Raya, Lorong 7, Batua, Manggala, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (11/1/2023) sekitar pukul 14.40 Wita.
Kalimat Sadewa itu ketika menawarkan jasa bersih-bersih rumput lahan atau pekarangan rumah.
Tetangga hingga sejumlah kalangan di Batua sudah memakai jasa bocah Sadewa sebagai juru bersih lahan layaknya juru kebun.
"Om [saya] cabutkan maki rumput ta," kata Jamaluddin lagi menirukan perkataan Sadewa.
Berapa tarif? Ini Sadewa lagi punya sikap: “tidak tahu” menentukan angka bayaran alias berapa saja.
“Dibayar seikhlasnya,” kata nenek almarhum.
Sejumlah kalangan pemilik warung atau kios sekitar Batua rupanya percaya Sadewa, bisa jadi sekuriti dadakan.
“Jaga warung orang, kalau orangnya mau ke kamar mandi,” kata Jamaluddin, kakek Sadewa.
“Yang penting kalau dapat uang dan cukup untuk sekolahnya pulangmi,” Jamaluddin menambahkan.
Jika kawasan Batua Raya lagi sepi potensi untuk menghasilkan uang jajan, Sadewa punya "Plan B".
Sadewa harus jalan kaki sejauh 1,6 kilometer meninggalkan Batua ke arah barat daya, tepatnya Pasar Toddopuli, Keluarahan Paropo, Panakkukang.
Pasar Toddopuli merupakan benteng akhir pelarian Sadewa mencari uang jajan.
Di pasar tradisional Kelurahan Paropo tersebut Sadewa multijasa: bisa jadi kuli panggul, jaga sementara toko orang yang mau ke masjid, bantu-bantu penjual ikan bersihkan sisik ikan, angkat barang toko atau barang pengunjung pasar dan lainnya, apa saja.
Jika uang jajan dirasa cukup, Sadewa bergegas pulang ke rumah nenek.
“Dia tidak ke mana-mana, langsung pulang,” kata Aminah.
Senada Jamaluddin, “Yang penting kalau dapat uang dan cukup untuk sekolahnya, pulangmi.”
Sadewa cucu pengertian. Dia enggan menjadi beban ekonomi kakek dan neneknya.
Hasil keringat tak dikantongi sendiri. Sadewa selalu menitip ke Aminah.
"Nek ini, Nek, simpanan uangku, siapa tahu saya tidak dapat di pasar, uang ini uang parkirku simpanan untuk besok ke sekolah," kata Aminah menirukan perkataan Sadewa.
Hadriani, tetangga Aminah, mengenang Sadewa anak kecil pekerja keras yang gemar berbagi.
Ketika Sadewa, kata Hadriani, mendapatkan uang lebih sepulang mengais rezeki, tak lupa traktir sepupunya di warung terdekat.
"Selalu itu, di sini belanja, kadang dia bilang sama sepupunya ambillah, apa lagi, saya bayarki tante" kata Hadriani yang juga pemilik kios campuran langganan Aminah.
Namun, keramahan Sadewa menuai titik akhir di penghujung pekan lalu.
Saya Pergi Dulu, Nek
Seusai sejenak istirahat, Ahad (8/1/2023) siang di rumah neneknya, Sadewa pamit untuk mencari nafkah lagi, menambah penghasilan.
"Saya pergi [jadi juru] parkir dulu, Nek, karena mau ka [saya mau] belanja untuk sekolah besok." Rupanya kalimat itu adalah kalimat pamitan terakhir Sadewa kepada Aminah Ahad siang itu.
Lalu pergilah Sadewa ke suatu minimarket di Jl Batua Raya yang tidak jauh dari rumah sang nenek. Di situ Sadewa kembali mengais rezeki sebagai juru parkir untuk tambahan uang jajan.
Namun, keesokan harinya, Senin (9/1/2023), impian sekolah sembari jajan, tidak ada lagi bagi Sadewa, putra Karmin.
Sadewa tak pulang-pulang dari mencari uang jajan.
Dia hilang diculik dan dibunuh setelah ditawari upah Rp 50 ribu untuk bersih-bersih rumah.
Mayatnya dibuang ke bawah jembatan Nipa-Nipa, Moncongloe, Maros, Ahad (8/1/2023) malam.

Jasadnya ditemukan membengkak, Selasa (10/1/2023) dini hari.

Jenazah Muhammad Fadli Sadewa dikebumikan di pekuburan Paropo, Panakkukang, kota Makassar, Selasa sore Wita. (detik/ejakfakta).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




