Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, 18 Januari lalu, mengirim sampel air dan ikan ke laboratorium di Makassar, setelah menemukan ribuan ikan di pesisir Jalan Metro Benteng Utara, Kecamatan Benteng, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan terlihat mati mengapung di permukaan laut.
Setelah seminggu menunggu, Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BBKIPM) Makassar mengumumkan hasil pemeriksaannya, dan menyebut jika tidak ada hal yang berbahaya.

Hasil pemeriksaan laboratorium dikatakan, kematian ikan di Kabupaten Kepulauan Selayar tidak disebabkan oleh penyakit, dan juga bukan karena kadar logam air laut melebihi ambang batas standar nasional Indonesia (SNI).
Baca Juga : Makassar Jadi Panggung Kolaborasi Kelautan Dunia, Munafri Jamu Akademisi Internasional di Gala Dinner
Menurut Kepala BBKIPM Makassar Chadidjah, hasil uji laboratorium untuk parameter logam berat menunjukkan kandungan logam berat ikan sampel masih berada di bawah batas normal sehingga ikan aman dikonsumsi.
Wakil Bupati Kepulauan Selayar Saiful Arif sebelumnya menyebutkan, kejadian tersebut diawali dengan berubahnya warna laut menjadi hijau dan berbau busuk, disertai ikan mati.
Itu merupakan fenomena atau kejadian aneh dan baru pertama kali terjadi di Selayar. Dan membuat warga jadi heboh, lalu mereka menangkapi ikan yang sudah tidak bergerak dan mengapung.
Baca Juga : Makassar Kian Mendunia, Jadi Pusat Kolaborasi Ilmiah Radiologi Kedokteran Gigi Internasional
Menanggapi hal itu, dilansir dari mediaindonesia.com, Dosen Perikanan Universitas Hasanuddin Makassar, Muh Farid Samawi mengatakan banyak faktor yang bisa mengakibatkan kejadian di Kepulauan Selayar.
Menurutnya jika air kehijauan, itu biasanya karena ada indikasi meningkatnya populasi fitoplankton, yang menyebabkan terjadinya blooming algae.
"Pemicu blooming algae sendiri yaitu karena meningkatnya zat hara atau nutrien di dalam air akibat pencemaran atau aktivitas lain. Juga bisa karena naiknya massa air laut dari lapisan bawah ke permukaan karena proses fisik perairan," jelas Farid.
Baca Juga : Dies Natalis ke-74 FH Unhas, Munafri Soroti Kekuatan Alumni sebagai Modal Bangun Generasi Masa Depan
Naiknya kadar nutrien mengakibatkan eutrofikasi sehingga terjadi depleted oxygen atau menurunnya kadar oksigen. "Kalau ikannya mati hanya karena kondisi seperti itu, akan tetap aman dikonsumsi," pungkas Farid. (**)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




