Jumat, 05 Juni 2026 18:39

CHIGANJING Diluncurkan, Makassar Ubah Paradigma Sampah dari Dibuang Menjadi Dikelola

Editor : Redaksi
Penulis : Samsir
Peluncuran program gerakan CHIGANJING (Makan Habis Tanpa Sisa) yang dipusatkan di Kecamatan Wajo, Jumat (5/6/2026). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar
Peluncuran program gerakan CHIGANJING (Makan Habis Tanpa Sisa) yang dipusatkan di Kecamatan Wajo, Jumat (5/6/2026). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkot Makassar

Gerakan "Makan Habis Tanpa Sisa" jadi strategi baru tekan sampah organik dan dorong target Zero Waste 2029.

Jejakfakta.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar memanfaatkan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk meluncurkan gerakan CHIGANJING (Makan Habis Tanpa Sisa) sebagai upaya mengubah pola pikir masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Peluncuran program yang dipusatkan di Kecamatan Wajo, Jumat (5/6/2026), menjadi langkah strategis Pemkot Makassar dalam menekan volume sampah organik yang selama ini mendominasi timbunan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

Tidak sekadar kampanye, CHIGANJING hadir sebagai gerakan perubahan perilaku masyarakat, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha, agar tidak lagi memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan.

Baca Juga : Di Tengah Banjir Informasi Digital, Melinda Aksa Minta Kader PKK Jadi Pelopor Literasi Internet

Ketua TP PKK Kota Makassar, Melinda Aksa, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, penyelesaian masalah lingkungan harus dimulai dari kebiasaan masyarakat memilah sampah sejak dari rumah.

"Masalah sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua. Karena itu, penyelesaiannya harus dimulai dari hulu dengan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah," ujarnya.

Melinda menjelaskan, sebagian besar sampah organik sebenarnya masih memiliki nilai manfaat apabila diolah menjadi kompos maupun dimanfaatkan untuk budidaya maggot. Karena itu, hanya sampah residu yang seharusnya berakhir di TPA.

Baca Juga : Wakil Wali Kota Makassar Hadiri Gala Dinner APEKSI Komwil VI di Kendari, Perkuat Kolaborasi Indonesia Timur

Ia juga mengapresiasi berbagai inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang telah dikembangkan Pemkot Makassar, termasuk keberadaan TPS3R Satando di Kecamatan Wajo yang mulai beroperasi sejak Februari 2026.

Menurut Melinda, cita-cita menjadikan Makassar sebagai kota zero waste pada 2029 dapat tercapai apabila seluruh elemen masyarakat konsisten menerapkan prinsip 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.

"Penerapan prinsip 5R secara konsisten akan menjadi kunci utama keberhasilan Makassar menuju kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan," katanya.

Baca Juga : Rujab Wali Kota Dipenuhi Suasana Kekeluargaan, Pegawai dan Masyarakat Nikmati Momen Lebaran Bersama Munafri-Melinda

Sementara itu, Camat Wajo, Ivan Kala'lembang, menyebut CHIGANJING merupakan gerakan perubahan adab dan kebiasaan masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Menurut Ivan, program tersebut lahir di tengah tantangan meningkatnya volume sampah serta kondisi kapasitas TPA yang semakin terbatas.

"CHIGANJING adalah perubahan adab dan perubahan kebiasaan dari membuang sampah menjadi mengelola sampah. Ini tidak boleh hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi lokomotif perubahan perilaku masyarakat," tegasnya.

Baca Juga : Festival Keberkahan Kurban Bosowa Peduli Dibuka, Munafri Sebut Jadi Inspirasi Kolaborasi Sosial di Makassar

Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, Kecamatan Wajo telah menyiapkan sistem pengangkutan sampah organik terpilah. Sebanyak 22 armada truk pengangkut sampah kini dilengkapi bak khusus sampah organik untuk memastikan proses pemilahan berjalan sejak tahap pengumpulan.

Sampah organik yang telah dipisahkan nantinya tidak langsung dibawa ke TPA Antang, melainkan diolah terlebih dahulu di TPS3R Satando menjadi produk yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Selain meluncurkan CHIGANJING, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga dirangkaikan dengan peresmian sejumlah TEBA (Tempat Ekologi Bersama), demonstrasi mesin pencacah sampah, penandatanganan komitmen pemilahan sampah oleh sektor HORECA dan PT Pelindo, hingga penyerahan bantuan teknologi tepat guna kepada 15 kecamatan.

Baca Juga : Pemkot Makassar Distribusikan 7.261 Sapi dan 402 Kambing Kurban, Munafri: Penyalurannya Harus Jujur dan Adil

Pemkot Makassar juga memberikan penghargaan kepada pelaku usaha yang konsisten menerapkan pemilahan sampah sebagai bagian dari dukungan terhadap gerakan lingkungan berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan rangkaian Hari Lingkungan Hidup Sedunia akan berlanjut dengan kerja bakti massal dan kampanye lingkungan yang melibatkan masyarakat serta generasi muda.

Menurutnya, perubahan perilaku masyarakat merupakan kunci utama dalam menyelesaikan persoalan sampah yang kini menjadi tantangan besar bagi banyak daerah.

"Sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah semata, tetapi juga sebagai sumber daya yang dapat dikelola dan dimanfaatkan apabila dipilah dengan baik sejak dari sumbernya," ujarnya.

Melalui CHIGANJING, TEBA, TPS3R, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, Pemkot Makassar berharap mampu mempercepat transformasi menuju kota yang lebih bersih sekaligus mewujudkan target Makassar Zero Waste 2029. (rls)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#CHIGANJING #Makassar Zero Waste 2029 #Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 #Sampah Makassar #TPS3R Satando #Teba Makassar #melinda aksa #Ivan Kala'lembang #DLH makassar #pengelolaan sampah #Kecamatan Wajo #TPA Antang
Youtube Jejakfakta.com