PAGI itu, Senin, 15 Juni 2026, pukul 07.09 Wita. Matahari baru saja menghangatkan sudut-sudut kota ketika langkah kaki saya menyusuri Jalan Hos Cokroaminoto menuju Alun-alun Polewali Mandar, tepatnya di depan Kantor Bupati Polewali Mandar, Jalan Manunggal.
Namun, perjalanan pagi yang semestinya menghadirkan suasana segar justru menyuguhkan pemandangan yang mengusik. Di sepanjang jalan, sampah plastik berserakan di atas trotoar. Sebagian lagi tersangkut di saluran drainase, seolah menjadi penanda bahwa kesadaran menjaga kebersihan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

SAMPAH MENUMPUK. Trotoar sedianya diperuntukkan untuk pejalan kaki, namun kondisinya berubah. Seperti di Jl. Hos Cokroaminoto, Kabupaten Polewali Mandar, sampah sisa makanan hingga sampah plastik terlihat belum diangkut, sehingga menumpuk. @Jejakfakta/Nurdin Amir
Baca Juga : Tanpa Gesekan, 19 Pedagang Kelapa Bongkar Lapak Sendiri Dukung Penataan Kota Makassar
SAMPAH PLASTIK. Selain menumpuk di trotoar, juga sampah menumpuk di saluran air, sampah di dominasi sampah plastik. Sampah ini bisa membuat saluran air terganggu bahkan bisa tersumbat. @Jejakfakta/Nurdin Amir
Sesampainya di Alun-alun Polewali, niat awal untuk berolahraga pagi seketika berubah. Mata saya tertuju pada sisa-sisa makanan dan kemasan minuman yang tercecer di berbagai sudut taman. Ada yang ditinggalkan di bangku berbahan tembok, ada pula yang berserakan di gazebo tempat warga biasanya berkumpul.
Jejak sampah itu diduga berasal dari aktivitas pengunjung pada malam sebelumnya. Di tengah ruang terbuka yang dibangun untuk dinikmati bersama, sampah-sampah itu justru menjadi wajah lain dari perilaku sebagian masyarakat yang belum menjadikan kebersihan sebagai tanggung jawab bersama.
SAMPAH SISA MAKANAN PENGUNJUNG. Sisa-sisa makanan dan kemasan minuman yang tercecer di berbagai sudut taman Alun-alun Polewali Mandar. Ada yang ditinggalkan di bangku berbahan tembok. Jejak sampah itu diduga berasal dari aktivitas pengunjung pada malam sebelumnya. @Jejakfakta/Nurdin Amir

TONG SAMPAH. Sisa-sisa makanan dan kemasan minuman yang tercecer di berbagai sudut taman Alun-alun Polewali Mandar, gazebo tempat ngumpul warga. Jejak sampah itu diduga berasal dari aktivitas pengunjung pada malam sebelumnya. @Jejakfakta/Nurdin Amir
BOTOL MIRAS. Selain sampah platik, juga ditemukan sampah botol miras yang ditemukan di Alun-alun Polewali Mandar, Jejak sampah itu diduga berasal dari aktivitas pengunjung pada malam sebelumnya. @Jejakfakta/Nurdin Amir
Baca Juga : DLH Luwu Timur Ajak Warga Rayakan Idul Adha Tanpa Sampah Plastik
Di tengah aktivitas membersihkan taman, seorang petugas kebersihan yang enggan disebutkan namanya menunjukkan dua botol minuman keras yang masih berada di atas tembok. Dua botol lainnya, katanya, sudah lebih dulu dibuang.
"Sudah disediakan tong sampah, tapi mereka buang sembarang," ujarnya singkat.
Setiap hari, ia dan rekan-rekannya membersihkan kawasan alun-alun dua kali, pagi dan sore.
Baca Juga : Munafri Dorong Ekonomi Sirkular di Makassar, Sampah Plastik Disulap Jadi Produk Bernilai Tinggi
"Setengah tujuh sudah mulai, kadang jam tujuh. Pulangnya jam sepuluh, biasa setengah sebelas," katanya.
Menurutnya, sampah yang paling sering ditemukan adalah gelas-gelas minuman sekali pakai dan kantong plastik.
"Gelas-gelas minuman dan kresek-kresek yang paling banyak," ungkapnya.
Baca Juga : DLH Luwu Timur Ajak Warga Pilah Sampah dari Rumah, Dorong Penguatan Bank Sampah Cemara
Sebagian sampah yang terkumpul akan dipilah. Namun, untuk jenis plastik tertentu, masih ada yang dibakar.
"Yang plastik-plastik, kantongan itu dibakar," katanya.
Pemandangan pagi di Alun-alun Polewali ini bukan sekadar tentang sampah yang berserakan. Ia adalah cermin tentang bagaimana ruang publik yang dibangun dengan biaya dan harapan besar masih membutuhkan satu hal yang tak kalah penting, kesadaran kolektif untuk menjaga dan merawatnya.
Sebab, kota yang bersih bukan hanya hasil kerja petugas kebersihan, tetapi juga lahir dari perilaku warganya sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




