Oleh: Dr. Sulihin M.Pd (Pemerhati Demokrasi Enrekang)
Memisahkan “merakyat” dari kapasitas, gagasan, dan prestasi seolah ketiganya berada di ruang yang berbeda justru menunjukkan cara pandang yang sempit terhadap kepemimpinan. Merakyat bukan lawan dari kapasitas. Sebaliknya, merakyat adalah salah satu bentuk nyata dari kapasitas seorang pemimpin.

Ketika “merakyat” hanya dilihat sebagai sensasi atau strategi membangun citra, kita sedang mereduksi makna kepemimpinan menjadi sekadar pencapaian yang bisa diukur melalui angka dan statistik. Padahal, kepemimpinan tidak hanya berbicara tentang apa yang berhasil dibangun, tetapi juga tentang sejauh mana seorang pemimpin mampu memahami manusia yang dipimpinnya.
Baca Juga : Bekali Maba FH Unhas, Appi Ajak Mahasiswa Bergerak dari Ruang Kuliah ke Ruang Kebijakan
Merakyat bukan sekadar gaya tampil di tengah masyarakat. Merakyat adalah kemampuan untuk mendengar, memahami, merasakan, dan menempatkan kebutuhan rakyat sebagai bagian penting dalam setiap keputusan. Kemampuan tersebut membutuhkan kecerdasan emosional dan sosial yang tidak kalah penting dari kecerdasan teknokratis.
Sebab, sehebat apa pun gagasan seorang pemimpin, ia bisa menjadi angin lalu jika tidak dipahami, tidak dirasakan, dan tidak tumbuh bersama masyarakat. Kapasitas tanpa kemampuan merakyat berisiko menjadi kekuatan tanpa arah.
Dekat dengan rakyat juga bukan semata-mata soal “menciptakan kesan”. Kedekatan justru merupakan proses membangun kepercayaan. Benar, pemimpin sejati seharusnya menciptakan perubahan, bukan sekadar kesan. Namun, perubahan yang bertahan lama hampir selalu membutuhkan kepercayaan sebagai fondasinya.
Baca Juga : Menegur di Ruang Publik, Mengurangi Martabat Komunikasi Pemerintahan
Kepercayaan tidak lahir hanya dari panggung, ruang rapat, atau meja kerja. Kepercayaan tumbuh ketika pemimpin hadir, mendengar keluhan, memahami persoalan, berbagi ruang, dan merasakan denyut kehidupan masyarakat.
Karena itu, kehadiran seorang pemimpin di tengah rakyat tidak semestinya buru-buru dicap sebagai pencitraan. Jika setiap bentuk kedekatan dengan masyarakat dianggap sekadar upaya membangun kesan, kita justru sedang merendahkan nilai kebersamaan dalam kepemimpinan.
Seorang pemimpin yang dekat dengan rakyat memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami persoalan secara langsung. Ia dapat melihat mana kebijakan yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang hanya terlihat baik di atas kertas.
Baca Juga : Pengamat Nilai Ketegasan Munafri Arifuddin Jadi Titik Balik Penataan Kota Makassar
Sebab, karya besar yang lahir tanpa pemahaman terhadap kehidupan rakyat berisiko menjadi sekadar kemasan. Sebuah kebijakan bisa sangat cerdas secara teknis, hebat secara angka, dan mengesankan dalam laporan, tetapi ketika tidak tumbuh dari kebutuhan masyarakat, kebijakan itu dapat terasa asing bagi mereka.
Di sinilah persoalan kepemimpinan menjadi lebih kompleks. Ada pemimpin yang memiliki sederet prestasi dan pencapaian statistik, tetapi gagal memenangkan hati masyarakat. Ketika jarak antara pemimpin dan rakyat semakin lebar, prestasi pun perlahan kehilangan maknanya.
Sebaliknya, gaya kepemimpinan yang merakyat bukan sekadar “kemasan”. Kedekatan dengan rakyat adalah wadah agar gagasan, kebijakan, dan karya dapat diterima, dirasakan, hidup, serta berkembang di tengah masyarakat.
Baca Juga : Dari Pemilihan RT/RW hingga Turun Langsung ke Warga, Akademisi Unhas Puji Kepemimpinan Munafri–Aliyah
Karena itu, kita tidak perlu memilih antara “merakyat” atau “berkarya”. Keduanya bukan pilihan yang saling meniadakan.
Merakyatlah agar karya menjadi tepat sasaran. Berkaryalah agar kedekatan dengan rakyat memiliki makna.
Memisahkan keduanya—seolah-olah yang satu hanyalah citra sementara yang lain adalah kepemimpinan—justru menghilangkan keutuhan makna seorang pemimpin.
Baca Juga : Pemkot Makassar Kawal Aspirasi Masyarakat Jadi Pondasi Program Prioritas 2026
Pemimpin yang dibutuhkan rakyat bukan hanya mereka yang pandai berbicara tentang capaian, tetapi juga mereka yang mampu memahami siapa yang menerima dampak dari setiap kebijakan dan pembangunan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang memilih antara hati dan pikiran. Kepemimpinan adalah kemampuan menyatukan keduanya.
Hatinya merakyat, pikirannya berkapasitas, dan tangannya menghasilkan karya.
Bukan salah satunya. Melainkan semuanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




