Jejakfakta.com, MAKASSAR — Pemerintah Kota Makassar terus menjajaki berbagai solusi berkelanjutan untuk mengatasi persoalan sampah, termasuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif.
Salah satu upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama jajaran PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (ITP) di Kantor Wali Kota Makassar, Rabu (4/11/2026).

Pertemuan ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Pemkot Makassar dan Indocement terkait pemanfaatan sampah melalui teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF).
Baca Juga : HUT ke-419 Makassar, Diskominfo Siapkan Dua Penghargaan untuk Perkuat Komunikasi dan Layanan Publik

Presiden Direktur PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, Christian Kartawijaya, mengatakan pihaknya siap menjajaki kerja sama pengolahan sampah Kota Makassar menjadi bahan bakar alternatif untuk menggantikan sebagian penggunaan batu bara dalam proses produksi semen.
Menurut Christian, Indocement telah memiliki fasilitas Alternative Fuel Facility di kawasan pabrik Semen Bosowa Maros yang berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung pengolahan sampah tersebut.
"Yang kami lakukan di beberapa daerah adalah mengambil sampah, kemudian dikelola, dicacah, dipilah, dan dipres untuk dijadikan bahan bakar alternatif pengganti batu bara," jelas Christian.
Baca Juga : HUT ke-419 Makassar, Pemkot Gelar Pasar Murah, Warga Bisa Tebus Sembako Rp63 Ribu
Ia mengungkapkan, fasilitas pengolahan bahan bakar alternatif di Maros saat ini memiliki kapasitas hingga 800 ton RDF per hari.
Jika dikonversi dari sampah mentah, kapasitas tersebut diperkirakan dapat menampung sekitar 2.000 hingga 2.500 ton sampah per hari, bergantung pada karakteristik sampah dan proses pengolahannya.
Christian menilai kapasitas tersebut cukup besar untuk mendukung penanganan persoalan sampah di Makassar, termasuk melalui pengolahan timbunan sampah lama atau landfill mining di TPA Tamangapa.
Baca Juga : Kado HUT ke-419 Makassar, Disdukcapil Jemput Bola Layani Warga di Tiga Pulau Terluar
"Kami sudah menandatangani MoU dengan Kota Makassar untuk mengambil landfill mining. Jadi, kami menyampaikan kepada Pak Wali bahwa fasilitas di pabrik Maros sudah siap mendukung kerja sama ini," ungkapnya.
Ia menjelaskan, pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar alternatif bukan hal baru bagi Indocement. Sejumlah fasilitas perusahaan di daerah lain telah menggunakan RDF sebagai bahan substitusi batu bara.
Selain sampah perkotaan, perusahaan juga memanfaatkan sekam padi, bonggol jagung, limbah ban, serta material lain yang dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif.
Baca Juga : PSEL Makassar Tunggu Evaluasi Danantara, Appi: Aspirasi Warga Harus Didengar
Meski demikian, Christian menegaskan realisasi kerja sama dengan Pemkot Makassar masih membutuhkan sejumlah tahapan persiapan, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan dan penyediaan sarana pendukung.
"Untuk membangun fasilitasnya, kami membutuhkan waktu sekitar satu tahun atau lebih. Setelah sampah diproses dan siap digunakan di pabrik, kami akan membelinya," tuturnya.
"Jadi, ada nilai ekonomi yang bisa diperoleh dari pengelolaan sampah ini," lanjutnya.
Baca Juga : Panen Bawang hingga Cabai, Appi Pacu Urban Farming Makassar Tembus Seluruh RT/RW
Menurut dia, skema tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Pemerintah daerah memperoleh alternatif penanganan sampah, sementara industri mendapatkan sumber bahan bakar alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara.
Dalam pertemuan tersebut, Christian juga menyebut Wali Kota Makassar memberikan respons positif terhadap penjajakan kerja sama itu.
Menurutnya, Pemkot Makassar tengah mempertimbangkan dua pendekatan dalam penanganan sampah, yakni Waste-to-Energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik dan Waste-to-Fuel atau pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Kedua pendekatan tersebut dinilai dapat saling melengkapi. Pasalnya, pengolahan sampah menjadi energi listrik diperkirakan hanya mampu menangani sekitar 20 hingga 30 persen dari total timbulan sampah.
"Kalau Indocement bersedia bekerja sama bersama perusahaan kami, tentu ini bisa menjadi solusi untuk menangani sisa sampah yang belum terkelola," tuturnya.
Ia optimistis pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah, tetapi juga mendukung operasional industri yang lebih ramah lingkungan melalui pengurangan penggunaan batu bara.
"Kalau ini dikelola dengan baik, kota akan menjadi lebih bersih. Menurut saya, ini merupakan solusi yang saling menguntungkan," pungkasnya. (rls)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



