Ahad, 20 November 2022 07:37

Putu Bugis Sebagai Pengganti Sarapan. Ini Asal Usul Kue Putu 

Editor : Nurdin Amir
Salah satu penjual Putu Bugis di Desa Batulappa, Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. (Foto: Nurdin Amir)
Salah satu penjual Putu Bugis di Desa Batulappa, Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. (Foto: Nurdin Amir)

“Kue khas Jawa dan Bugis ini bisa ditemukan di China Silk Museum.  Jadi sebenarnya sudah ada 1.200 tahun silam, di masa Dinasti Ming,”

Jejakfakta.com, Pinrang - Kue putu adalah jajan tradisional yang terkenal di Indonesia. Kue berbahan tepung beras. Adonan tepung beras biasanya dimasukkan ke dalam tabung bambu dan kemudian dikukus. Kudapan ini biasa dihidangkan bersama parutan kelapa dan lumrahnya berwarna putih atau hijau. 

Namun kue ini ternyata awalnya bukan berasal dari Indonesia. Lalu dari mana? 

Selain terkenal di Jawa, kue putu ternyata juga terkenal di Bugis. Bedanya, putu dari Bugis berbahan dasar ketan hitam tanpa gula merah yang menghasilkan warna hitam. 

Baca Juga : Aliyah Mustika Ilham Dukung Makassar Heritage Festival 2025: Soroti I La Galigo dan Peran Perempuan dalam Budaya

Umumnya Putu Bugis disantap dengan taburan parutan kelapa serta sambal. Putu Bugis biasanya hanya dijual pagi hari sebagai pengganti sarapan. 


Di Jawa, jajan tradisional yang mudah dikenali hanya dengan mendengar bunyi khas penjualnya ini ternyata bukan dari Indonesia. 

Baca Juga : Tradisi Mappasiori Waju Bugis Makassar, Ritual Pemberian Doa untuk Anak Gadis Beranjak Remaja

Dikutip dari Republika.co.id, Mochammad Antik, penggiat sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM), menjelaskan kudapan ini bisa ditemukan di China Silk Museum. 

“Kue khas Jawa dan Bugis ini bisa ditemukan di China Silk Museum.  Jadi sebenarnya sudah ada 1.200 tahun silam, di masa Dinasti Ming,” jelasnya. 

Pada awalnya kue yang terkenal manis ini disebut XianRoe Xiao Long. Yang jika diartikan kue dari tepung beras dengan isian kacang hijau lembut dimasak dalam cetakan bambu. 

Baca Juga : Nikmatnya Nasu Palekko Ala Lesehan La Bugis Sidrap 


Dalam Serat Centhini, naskah sastra lama yang ditulis tahun 1814 di masa kerajaan Mataram, kue asal China ini berkembang menjadi puthu. 

Pada naskah itu disebutkan Ki Bayi Panurta meminta santrinya untuk menyajikan kudapan berupa gemblong, ulen-ulen, serabi, puthu, jadah, jenang, dendeng balur, dendeng gepuk, pisang bakar, kupat, balendrang, jenang grendul, pisang raja dan wedang bubuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Putu #Bugis #Sarapan #China Silk Museum
Youtube Jejakfakta.com