Kamis, 14 Maret 2024 14:15

Angka Stunting Bulukumba Turun, Andi Utta: Kalau Bisa Zero

Editor : Nurdin Amir
Penulis : Erwin Ijarta
Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf membuka Aksi III Konvergensi Penurunan Stunting (Rembuk Stunting) di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Rabu (13/3/2024). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkab Bulukumba
Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf membuka Aksi III Konvergensi Penurunan Stunting (Rembuk Stunting) di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Rabu (13/3/2024). @Jejakfakta/dok. Humas Pemkab Bulukumba

Memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting secara terintegrasi.

Jejakfakta.com, Bulukumba -- Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf membuka Aksi III Konvergensi Penurunan Stunting (Rembuk Stunting) di Ruang Pola Kantor Bupati Bulukumba, Rabu (13/3/2024). Ia meminta seluruh stakeholder untuk mengeroyok penurunan stunting.

"Angka stunting Bulukumba dari 30 persen lebih turun menjadi 28 persen lebih. Ini bisa lebih diturunkan lagi dengan kerja yang lebih terukur dan terstruktur," ujar Andi Utta sapaan akrabnya di hadapan ratusan peserta Rembuk Stunting.

Bupati yang akrab disapa Andi Utta itu, juga meminta para kepala desa untuk lebih fokus lagi menangani stunting di desanya masing-masing. Meski anggaran terbatas, penurunan stunting harus jadi perhatian bersama.

Baca Juga : Pemkab Gowa Percepat Penanganan Stunting, Wakil Bupati Turun Langsung Salurkan Bantuan Gizi

Menurut Andi Utta, inflasi Bulukumba tergolong baik. Dengan demikian, ke depan harus diikuti dengan penurunan angka stunting yang lebih progresif.

"Inflasi kita bagus, tapi stunting masih cukup besar. Inflasi yang bagus salah satu tanda ekonomi bagus. Olehnya saya harap ke depan tak ada lagi saudara kita yang stunting. Kalau bisa zero stunting," ujarnya.

Andi Utta mengatakan, ekonomi merupakan kunci dari semuanya. Sehingga akar persoalan terjadinya stunting disebabkan oleh rendahnya ekonomi keluarga.

Baca Juga : Wabup Gowa Sisihkan Gaji Pribadi untuk Lawan Stunting, 200 Keluarga di Bajeng Terima Paket Gizi

"Inti permasalahan dari hulu adalah ekonomi. Makanya pertanian Bulukumba harus digenjot. Pertanian didorong untuk memberdayakan ekonomi masyarakat," katanya.

"Saudaraku semua, saya terus upayakan agar ekonomi Bulukumba jauh lebih baik ke depan," tambah Andi Utta.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Bulukumba, dr Wahyuni dalam laporannya menerangkan bahwa 8 aksi konvergensi percepatan penurunan strunting di daerah yang dibina dan dikendalikan oleh Kemendagri bersama dengan kementerian lembaga terkait.

Baca Juga : Ajang Apresiasi Pemda Berprestasi 2026, Wabup Puspawati: Inovasi dan Kinerja Jadi Kunci Kemajuan Daerah

Hal itu, kata dr Wahyuni, memiliki peran strategis sebagai kerja-kerja afirmasi penurunan stunting oleh Pemda Provinsi dan Kabupaten, di mana diharapkan dapat meningkatkan keberpihakan dukungan kebijakan dan anggaran daerah terhadap percepatan penurunan stunting yang lebih efektif, serta mendorong peningkatan kualitas intervensi layanan spesifik dan sensitif dari multisektor secara terpadu dan berkelanjutan.

"Sebelum pelaksanaan aksi 3 rembuk stunting ini, tim percepatan penurunan stunting sebelumnya telah melaksanakan aksi 1 dan aksi 2," ungkapnya.

Dari hasil aksi 1 dan aksi 2 tersebut, katanya, maka hari ini dilaksanakan rembuk stunting yang merupakan suatu langkah penting yang harus dilakukan Pemda untuk memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi pencegahan dan penurunan stunting secara terintegrasi.

Baca Juga : Gowa Raih Penghargaan Kemendagri, Turunkan Stunting hingga 17 Persen dan Kantongi Insentif Rp1 Miliar

Sementara itu, kepala desa Bontonyeleng Andi Mauragawali mengaku rembuk sunting bagus. Melalui rembuk stunting, akan diketahui data-data dan jumlah stunting yang ada di Bulukumba.

"Jumlah stunting di desa kami ada 22 orang. Pemberian makan tambahan (PMT) setiap hari itu, enam orang saja. Jadi enam orang kita intervensi makan, selebihnya itu susu," ujarnya.

Menurut pria yang akrab disapa Opu, salah satu kendala di lapangan adalah tingkat kehadiran masyarakat membawa bayinya ke Posyandu, itu jumlahnya sedikit. Ia mencontohkan di desanya, dari 22 kasus stunting, yang datang itu sekira sepuluh orang saja.

Baca Juga : Pemkab Gowa Genjot MBG 3B, Wabup Tekankan Penanganan Stunting Harus Tepat Sasaran

"Kenapa seperti itu?. Alasannya, dia tidak mau anaknya disebut stunting. Itu masalahnya," jelasnya.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Penurunan Stunting #Rembuk Stunting #intervensi layanan #Kabupaten Bulukumba
Youtube Jejakfakta.com