Jejakfakta.com, MAKASSAR -- Museum Keliling Koleksi Kepresidenan RI kembali menggelar tur setelah sebelumnya sukses di Jombang dan Bogor. Makassar dipilih sebagai kota pertama di Indonesia Timur, dan bakal berlangsung di Benteng Rotterdam dari 18 hingga 31 Oktober 2024.
Ini adalah program dinamis yang diinisiasi oleh Museum Kepresidenan RI Balai Kirti—unit kerja dari Museum dan Cagar Budaya, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Lembaga yang dipercayakan untuk menyimpan koleksi memorabilia tentang sejarah dan kemasyhuran Presiden Republik Indonesia.

Program Museum Keliling yang berlangsung untuk ketiga kalinya ini adalah perwujudan misi Museum dan Cagar Budaya—yaitu “Mengedepankan transformasi pengembangan wawasan melalui praktek edukasi inovatif dan pengembangan komunitas.”
Baca Juga : Munafri Tutup TSN II SMADA Makassar, Ribuan Alumni Lintas Generasi Perkuat Solidaritas di Benteng Rotterdam
"Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat peran museum yang tidak lagi terbatas pada model edukasi statis—tapi berkembang ke arah lebih dinamis. Semuanya demi mengoptimalkan manfaat dan fungsi museum sebagai objek wisata sekaligus medium pembelajaran," ujar Shany Kasysyaf, Koordinator Relasi Media Museum Keliling Koleksi Kepresidenan “Pakkamase", dalam keterangan persnya, Kamis (17/10/2024).
Pada Museum Keliling Koleksi Kepresidenan 2024 ini, tema yang diusung adalah “Pakkamase.”
Istilah yang diambil dari Bahasa Bugis dan memiliki arti cinta, welas asih, juga kasih sayang. Pemilihan istilahnya berkelindan dengan identitas Presiden RI ketiga, B.J. Habibie. Juga Wakil Presiden RI keenam, Jusuf Kalla—yang secara khusus direspon dalam satu ruang kolaborasi dengan generasi muda Makassar untuk mengkurasi sosoknya.
Baca Juga : Pemkot Makassar Perkuat Dukungan MIWF 2026, Dorong Makassar Jadi Kota Sastra dan Kreatif Bertaraf Global
Pilihan tema tersebut sekaligus jadi petunjuk soal koleksi yang bakal ditampilkan dalam pameran. Dengan empat babak yang mengurai sisi “Pakkamase” dari tiap Presiden: pertama, pada Ibunda dan Orang Terdekat; kedua, pada Keluarga; ketiga, untuk Rakyat Indonesia; lalu terakhir, dalam Gaya dan Memorabilia.
Semuanya, entah disaksikan secara runut atau acak—bakal mengungkap persona paling personal dari tiap Presiden kepada siapapun audiensnya. Menjelaskan bahwa terlepas dari posisinya sebagai pemimpin bangsa, Presiden tetaplah manusia yang punya sisi sentimentil. Mereka bukan mesin politik yang hidup secara rigid dan dingin.
"Tentu keberadaan pameran skala gigantis semacam ini tak semata hadir karena upaya satu pihak saja. Ada banyak entitas yang bekerjasama untuk membawanya ke hadapan publik," ujar Shany.
Baca Juga : Kolaborasi Jadi Kunci, Lutim Dorong Pelestarian Budaya sebagai Arah Pembangunan Berkelanjutan
Selain penyelenggara utama yang telah disebutkan sebelumnya, bantuan cukup besar datang dari Istana Kepresidenan Bogor; Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan Arsip Nasional Republik Indonesia; Yayasan Bung Karno; Museum Purna Bhakti Pertiwi; The Habibie Center; Pojok Gus Dur; dan puluhan kolaborator lain.
Kata Shany, selain pameran koleksi yang terbuka untuk publik, museum ini juga menghadirkan sederet program menarik sebagai rangkaian.
"Ada Taman Terbuka yang menyuguhkan tiga aktivitas. Ruang Bersama Lintas Generasi dengan kegiatan spesial berupa Demo Masak di Dapur Presiden yang difasilitasi Artani, Toko Buku Dialektika, dan Detakata. Kemudian ada Temu Komunitas yang dipandu oleh Antropos. Juga Panggung Senja yang diorganisir Antologi Manusia,' katanya.
Baca Juga : Pemkot Makassar Perdana Terlibat, Munafri: MIWF 2026 Jadi Panggung Kolaborasi Kreatif Global
Program lain yang tak kalah menarik adalah Wicara Publik. Kegiatan ini akan digelar dua kali selama masa helatan. Dengan tema ‘Presiden Dari Ruang Keluarga’ yang menghadirkan anak kandung Presiden RI pertama—Guruh Soekarnoputra.
Tema lain yang bertajuk ‘Presiden Sebagai Kata Kerja’ akan menghadirkan para cendekia seperti Andi Makmur Makka, Muh. Ibrahim, dan Nurhady Sirimorok yang semuanya berasal dari tanah kelahiran Presiden RI Ketiga—Baharuddin Jusuf Habibie.
Kegiatan Lokakarya juga dihadirkan sebagai salah satu program reguler yang berlangsung sepanjang acara. Ada enam opsi peminatan berbeda yang dapat dipilih pengunjung dalam rangkaian ini setiap harinya. Termasuk Pameran Kolaborasi Kuratorial Siswa SMA yang dipandu oleh Hirah Sanada & Antologi Manusia.
Baca Juga : Antusias Sambut Ramadan, Warga Gotong Royong Bersihkan Masjid Tua Katangka yang Sarat Sejarah
Lalu serial lokakarya, seperti lokakarya fotografi yang difasilitasi Aziziah Apriliya; Konten Video bersama Nikko Ilham dan Sense Visual; Penulisan Biografi bersama Andi Makmur Makka; Crafting yang diisi Palka Art Craft dan Hora Craft, lalu Sketsa Bersama yang berkolaborasi dengan Indonesia Sketcher Makassar.
Di luar kegiatan utama, ada juga program hiburan dalam beragam format yang berlangsung sepanjang acara. Termasuk di antaranya Pemutaran & Apresiasi Film yang diorganisir oleh Kinefilia, BASASulsel, dan Sineria.
Lalu ada pertunjukan Projection Mapping dari seniman grafis Jasmin Ansar yang berkolaborasi dengan Amir Tang pada sesi pembukaan.
Selain itu, ada Panggung Malam yang menampilkan PELAKOR, monolog, ‘performance lecture’, juga musik oleh Natinson, Halfmoon, Hirah Sanada, YANAMJA, Daur Hidup, Ruang Baca, Grill Dg. Lopo, HAS, RATEE, dan Barongsai. Ada juga program spesial Susur Kota, Cerita, dan Tur Museum bersama Teman Jalan Makassar.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




