Kamis, 19 Desember 2024 17:10

Dikukuhkan Jadi Guru Besar Sosiologi Univeritas Sriwijaya, Ridhah Taqwa Bahas Fenomena Sedekah Politik di Indonesia

Editor : Redaksi
Penulis : Nurdin Amir
Prof. Ridhah Taqwa menyampaikan pidato ilmiah saat pengukuhan guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya, Kamis (19/12/2024). @Jejakfakta/Istimewa
Prof. Ridhah Taqwa menyampaikan pidato ilmiah saat pengukuhan guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya, Kamis (19/12/2024). @Jejakfakta/Istimewa

Shabir: Ridhah hobi baca buku sejak di pondok pesantren.

Jejakfakta.com, MAKASSAR -- Prof. Dr. M. Ridhah Taqwa, M.Si, resmi dikukuhkan sebagai guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya (FISIP UNSRI), bidang kepakaran Sosiologi Politik , pada hari Kamis (19/12/2024). Ucapan selamat datang dari kolega dan keluarga atas capaian jabatan guru besar ini.

"Semoga ilmu dan capaian luar biasa ini dapat bermanfaat bagi bangsa dan negara," tulis Pimpinan dan Keluarga Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya.

Sejumlah ucapan selamat melalui karangan bunga juga terpampang di kampus Universitas Brawijaya, seperti dari Direktur PT. Bali Hastie Indomalaya H. Hasbi Hamid, Dr. KH. Masrur Makmur, M.Pd Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali, dan Owner PT. Alif Mabarakka BTP Makassar, H. Munir Tahir.

Pada acara pengukuhan guru besar, Prof. Ridhah Taqwa menyampaikan pidato ilmiah yang berjudul Relasi Kekuasaan Antar Mahluk dan Memuliakan Manusia dalam Praktik Kehidupan Perspektif Sosiologi Berbasis Wahyu.

Menurut Ridhah, lima menjadi dasar atau argumentasi disiplin ilmu sosial khususnya sosiologi didasarkan dalam wahyu Al-Qur'an.

"Kalau kita menyebut wahyu Al-Qur'an, semua kitab-kitab suci yang pernah diturunkan sudah termaktub di dalam Al-Qur'an yang fungsinya untuk menjadi petunjuk bagi Nur atau cahaya bagi manusia. Baik itu kitab Taurat dan Injil terutama juga Al-Qur'an. Seperti yang tertera dalam kitab suci Al-Qur'an surat Al-Maidah ayat 44, 46 dan 48," sebut Ridhah dalam pidatonya.

Prof. Ridhah Taqwa menyampaikan pidato ilmiah saat pengukuhan guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya, Kamis (19/12/2024). @Jejakfakta/Tangkapan Layar YT Unsri

Lima argumentasi utama perlunya disiplin ilmu sosial yang berbicara tentang kehidupan bersama masyarakat yang didasarkan oleh wahyu. Pertama, wahyu yang diturunkan kepada nabi dan para rasul semuanya adalah kebenaran.

"Kita di sini mengkonstruksikan ilmu sosial didasarkan atau sumbernya dari wahyu. Selain ia benar atau Al-Haq, juga memastikan bahwa itu mengajak kita ke jalan yang lurus," paparnya.

Kedua, sifatnya univerisal, yakni mencakup kehidupan manusia dan kehidupan jin. "Ini yang banyak kita tidak menyadarinya. Jin ini seperti manusia yang diuji oleh Allah Subhanahu Wa Taala, siapa yang terbaik diantara mereka, Akhsanu Aamala, yang terbaik amalnya."

Ketiga, sifatnya komprehensif, membahas kehidupan baik di alam nyata maupun di alam ghaib-syahadah. "Langit-bumi, semua aspek hidup dan aqidah-sosial."

Keempat, sifatnya berkelanjutan yang menjelaskan awal proses kehidupan sejak dari alam rahim, alam dunia, alam barzakh, padang mahsyar sampai ke dua pilihan manusia, yakni tempat yang terburuk yaitu an-nar, neraka atau dia masuk ke surganya Allah di tempat yang terbaik.

Kelima, sifatnya terintegrasi, dengan wahyu mengintegrasikan baik segala potensi yang miliki manusia yaitu potensi rohaniah, spritualnya, intelektualitasnya.

"Dan juga pontensi-potensi lain yang dimiliki seperti hasrat, kehendak dan apa yang ada di dalam kalbu manusia," ujar Ridhah.

Salah satu surah dalam Al-Qur'an yang sering dipopulerkan dalam ilmu sosial berbasis wahyu, yang disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-Hujurat ayat 13:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ'ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr

Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.

"Apabila kita menggunakan wahyu dalam tatanan kehidupan akan melahirkan tatanan masyarakat yang berperadaban," kuncinya.

Fenomena Imoralitas Politik di Indonesia

Dalam kajian selama menempuh pendidikan di Sosiologi, Ridhah banyak melakukan kajian fenomona politik kekuasaan dalam perspektif agama. Ia menemukan kekuasan tumpeng tindih dan menimbulkan kekerasan.

"Kalau kita cermati akhir-akhir ini, dalam perspektif post-modern, kita mengamati, melihat dan menyaksikan fenomena politik dan kekuasaan yang tampil dihadapan kita banyak yang tumpang tindih, banyak yang menimbulkan bentuk-bentuk kekerasan, baik secara langsung maupun secara simbolik," ungkap Ridhah. 

Fenomena lain adalah fenomena imoralitas politik, yakni berpindah-pindah partai, parodi politik, politisasi dalam institusi sosial seperti politik bansos. "Dan juga akhir-akhir ini, kita juga banyak melihat bahwa ada konsep politik uang atau sedekah politik yang menkombinasikan antara instutusi agama dan institusi politik, yaitu dengan menggunakan kata sedekah dari sisi agama dan politik untuk meraih kekuasaan," jelasnya.

Kemudian, politik Cawe-cawe salah satu yang merusak tatanan kehidupan kita yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Fenomena lain, peran media sosial, melek informasi. Di mana masyarakat beradu, bersaing, berkompetisi untuk mempublikasikan berbagai macam fenomena politik. Sehingga muncul adagium; barang siapa yang tidak mampu atasi kecematan maka ia tidak punya kekuasaan apa-apa."

Prof. Ridhah Taqwa foto bersama keluarga usai menyampaikan pidato ilmiah saat pengukuhan guru besar tetap Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sriwijaya, Kamis (19/12/2024). @Jejakfakta/Istimewa

Dikenal Rajin Belajar dan Jujur

Pencapaian jadi guru besar Prof Ridhah Taqwa hari ini bukan perkara mudah. Dalam perjalanan menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Darul Falah Enrekang hingga merantau di Kota Makassar, dinilai rekan seperjuangannya karena sosok Ridhah memang tekun dalam belajar.

"Perjalanan dari bangku sekolah Tsanawiyah memang punya talenta dalam dunia pendidikan, sampai menginjak bangku perkuliahan memang dari hobi-nya suka baca buku dari bidang ilmu apa saja," kata Shabir Abidin, rekan seperjuangan di Makassar, sekitar akhir tahun 80-an hingga awal 90-an.

Meski memiliki keterbatasan keuangan, ia tak menyulutkan semangat untuk terus belajar. "Kalau datang di Jalan Anuang, rumah keluarga Nenek Seeng suka ke toko buku (baca buku di toko) di sekitar Jl Monginsidi," ujar Shabir yang saat ini tinggal di Jakarta.

"Salah satu mentor Prof Ridhah adalah Doktor Alm. H Burhanuddin Kadir," katanya.

Kata Shabir, ada satu hal yang patut jadi contoh bagi generasi muda, khususnya keluarga dari Kampung Lekkong, Kabupaten Enrekang soal adab dan kejujuran. Hal itu ia tanamkan sejak kecil.

"Satu karakter beliau adalah orangnya santun dan jujur."

Ridhah juga dikenal aktif membawakan materi dan ceramah di Masjid hingga kegiatan kajian keislaman, termasuk kaitannya dengan ajaran islam dan pendekatan sosiologi.

"Kemudian dari segi rohani semenjak masih duduk di bangku kuliah sering mengisi ceramah tarwih dan khutbah Jumat di sekitar Kota Makassar mengikuti jejak dari senior Doktor Burhanuddin Kadir," kenang Shabir.

Ridhah kelahiran 1966, menempuh pendidikan Sekolah Dasar Negeri 61 di Lekkong, Kabupaten Enrekang, kemudian melanjutkan Pendidikan Pondok Pesantren Darul Falah Enrekang. Setelah tamat Madrasah Aliyah, ia merantau ke Kota Makassar, setelah diterima di S1 Sosiologi Univeritas Hasanuddin. Pendidikan Magister dan Doktor selesai di kampus Univeritas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Di organisasi profesi, Ridhah aktif di Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) dan pernah menduduki jabatan sebagai Sekretaris Umum.

Prof Ridhah Taqwa, juga aktif di organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah. Tokoh pendiri organisasi Kerukunan Pelajar Mahasiswa Lekkong (KPML) dan pembangunan Asrama KPML Jalan Faisal bersama keluarga di Makassar. "Alhamdulillah, asrama sampai sekarang dinikmati oleh anak-anak/adek-adek dari kampung," kata Shabir.(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

#Ridhah Taqwa #Sosiologi Politik #Universitas Sriwijaya #Imoralitas politik #ilmu sosial
Youtube Jejakfakta.com