Jejakfakta.com, PINRANG – Lebaran di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), terasa kurang lengkap tanpa kehadiran tape ketan hitam. Hidangan tradisional khas bugis ini hasil fermentasi beras ketan ini menjadi sajian penutup favorit setelah menyantap buras, tumbu, opor ayam, dan nasu likku.
Tape ketan hitam memiliki cita rasa manis dan tekstur lembut yang menggoda. Biasanya, warga Pinrang menyantapnya dengan tambahan sirup, es buah, es campur, atau es cendol, menciptakan sensasi segar yang nikmat.

Rahasia Kelezatan Tape Ketan Hitam
Baca Juga : Mangrove Jadi Benteng Alami, Upaya Nyata Lindungi Pesisir Suppa dari Abrasi
Membuat tape ketan hitam ternyata cukup sederhana. Hanya dibutuhkan empat bahan utama: ketan hitam, ketan putih, ragi, dan gula.
Proses pembuatannya diawali dengan mencuci bersih kedua jenis ketan, lalu dimasak hingga setengah matang. Setelah itu, ditambahkan dua gelas air panas dan dimasak kembali selama 10-15 menit. Setelah matang, ketan dicampur dengan ragi yang telah dikombinasikan dengan gula pasir.
“Penggunaan ragi sangat berpengaruh pada keberhasilan tape,” ungkap Hj. Tanna, warga Desa Batulappa, Kabupaten Pinrang yang rutin membuat tape saat Lebaran.
Baca Juga : Polres Tarakan Gagalkan Penyelundupan 3,2 Kg Sabu dalam Box Ikan Tujuan Pinrang
Setelah ragi dan gula ditaburkan, adonan tape dibentuk bulat, disusun dalam wadah tertutup rapat, bahkan terkadang dibungkus dengan kain untuk memastikan fermentasi berjalan optimal. Proses ini memakan waktu sekitar tiga hari.
Tradisi Lebaran yang Terus Dijaga
Bagi Hj. Tanna, tape adalah hidangan wajib saat Lebaran. “Kalo lebaran, selain makanan berat seperti ayam, tape wajib jadi hidangan usai di hari lebaran,” ujarnya.
Baca Juga : Bupati Pinrang Ungkapkan Keinginan Bangun Kampus Vokasi, Rektor Unhas: Kami Siap Mendukung
Ia biasanya membuat tape dalam jumlah besar, sekitar empat liter, karena keluarganya sangat menyukainya. Bahkan, saat sanak saudara dari jauh berkunjung, tape selalu menjadi makanan yang pertama dicari.
“Kalo datang massiara (silaturahmi di hari lebaran), banyak keluarga tanyakan tape. Nah ini harus dihidangkan,” katanya.
Pantangan dan Tips Membuat Tape yang Sempurna
Baca Juga : Buka Manasik Haji, Bupati Pinrang Pesan Jaga Kesehatan, Kabid PHU Ingatkan Latihan Fisik
Menurut Hj. Tanna, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tape berhasil dan memiliki rasa manis yang pas.
“Tidak sembarang orang bisa membuat tape. Raginya harus baru dan aktif, tidak boleh yang sudah lama,” jelasnya. Selain itu, kebersihan menjadi faktor utama dalam proses pembuatan.
Jika tidak diperhatikan, fermentasi bisa gagal, yang ditandai dengan tape yang berjamur atau kurang manis.
Baca Juga : Bupati Pinrang Tekankan Persatuan dan Kepedulian Lingkungan dalam Safari Ramadan
Di Kabupaten Pinrang, tape ketan hitam lebih populer dibandingkan jenis tape lainnya. Tradisi ini terus dijaga sebagai bagian dari kekayaan kuliner lokal yang selalu dinantikan setiap Lebaran.(*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




