Muhammad Luthfi
Mahasiswa Master di Monash University, Kota Melbourne, Aktivis PerDIK.
Selasa, 20 Desember 2022 18:04

Piala Dunia Tanpa Laporan Pandangan Mata?

Tampilan Layar Youtube Siaran Audio Piala Dunia 2022 untuk men-temen netra.
Tampilan Layar Youtube Siaran Audio Piala Dunia 2022 untuk men-temen netra.

[1] RRI Menyuarakan Kekecewaan

Saya tengah sibuk menyelesaikan case note dari salah satu klien yang akan terminasi hari kamis nanti. Jam di laptop menunjukkan pukul 02.10 dini hari waktu Melbourne. Entah mengapa, saya tiba-tiba ingin sekali mendengarkan langsung tiga laga terakhir Piala Dunia Qatar tahun ini. Sebelumnya, bila ingin mendapatkan update tentang pertandingan dan segala drama di baliknya, cukup dengan mencari berita yang berhamburan di google. Biasanya saya hanya membaca dari situs-situs berita olahraga berbahasa Indonesia, tapi kali ini saya juga menjajal berbagai website berbahasa inggris lainnya.

Bukannya apa-apa, ini hanya sekadar menjaga mode Bahasa iinggris saya saat di tempat PKL. Hal seru adalah ketika saya juga membaca beberapa portal berita dari Timur Tengah. Selain itu, saya juga mengunjungi portal berita yang sering membranding dirinya sebagai media alternatif bagi kejenuhan terhadap framing media arus utama. Walhasil, saya sangat menikmati pertandingan demi pertandingan antar negara ini.

Piala dunia 2022, menurut saya paling menarik. Itu karena perhelatan besar ini melibatkan difabel dalam opening ceremony. Ghanim Al Muftah dengan cepat menarik perhatian dunia dengan kemunculannya. Profil dirinya banyak muncul di mesin pencari google pasca opening ceremony. Ia bahkan didapuk menjadi Duta World Cup Qatar.

Piala Dunia Qatar bukan hanya menyajikan pertandingan sepak bola, melainkan juga pertandingan antar ideologi. Di satu sisi, ada pihak superior yang merasa paling universalis, sementara di sisi lain ada pihak yang merasa berhak menentukan versi universalnya sendiri.

Kita tinggalkan pertandingan ideologi tersebut, kembali ke laptop dan handphone yang terus berdering. Mereka dengan antusias memberikan notifikasi dari beberapa grup WA teman-teman di Indonesia. Iseng saya mengirimkan pesan teks ke grup alumni YAPTI (Yayasan Pembinaan Tunanetra Indonesia)

“Adakah siaran laporan pandangan mata di RRI (Radio Republik Indonesia) tahun ini? Dan bagaimana caranya dengar RRI di Android?” kataku.

Pesan yang saya kirim pun bersambut dengan obrolan panjang bersama Ade, salah seorang teman di YAPTI. Ia memberikan panduan bagaimana caranya menginstal aplikasi ‘RRI Go Play’ dan cara mematikannya. Saya menyampaikan keluhan kepada Ade mengenai tidak bersahabatnya aplikasi RRI ini. Sejak proses penginstalan aplikasi ini sudah menunjukkan gelagat kurang baik, bahkan ketika saya mulai mengoperasikannya.

Diawali dengan pencarian aplikasi di google play, lalu memilih RRI Go play dan mulailah proses instalasi. Setelah itu, jendela login muncul dan meminta memasukkan username dan password. Namun karena saya belum memiliki akun, maka saya memutuskan untuk memilih opsi ‘lanjutkan dengan google’. Sampai di sini semua proses masih baik-baik saja. Masalah mulai timbul setelah saya masuk ke halaman awal aplikasi ini. Saya mencoba mengutak-atiknya, namun hanya ada beberapa menu yang terdeteksi oleh screen reader. Menu-menu seperti multilayer intro, tombol skip, dan sebuah tombol tak berlabel.

Seingat saya ada sekitar 3 atau 4 kali tampilan ini muncul. Saya dengan insting coba-coba, lalu menekan skip button. Akhirnya saya tiba di beranda aplikasi ini. Namun, ‘lagi-lagi sayang sekali’ (sambil meniru reporter pembawa laporan pandangan mata RRI, yang terngiang di kepalaku) sangat sedikit pilihan menu yang terbaca. Bahkan untuk memilih program (stasiun radio RRI) screen reader hanya membaca tombol tak berlabel.

Saya memilih urutan ketiga dari 4 tombol yang ada, pikir saya RRI memiliki 4 program, jadi semoga urutan ketiga ini program 3 yang memang rutin menyiarkan piala dunia seperti yang sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah, setelah menekan tombol play, seketika suara penyiar RRI mulai terdengar dari speaker handphone. Ia sedang berbincang dengan pendengar yang berbicara menggunakan logat Minang.

Kembali ke grup alumni YAPTI, di sana masih ada Ade yang membenarkan bahwa aplikasi ini memang tidak cukup aksesibel bagi kami, pengguna pembaca layar. Hal mengejutkan lainnya, menurutnya, laporan pandangan mata tahun ini tak lagi seru seperti Piala Dunia sebelum-sebelumnya. Alih-alih merekomendasikan aplikasi ini untuk saya, Ade malah meminta agar mendengarkan pertandingan melalui siaran TV Indosiar saja. siaran itu lebih bisa diakses melalui aplikasi Vidio.

Setelah sempat terlelap, saya terbangun dan langsung mencari HP untuk menyalakan RRI GO play. Rupanya pertandingan telah berjalan sekitar 20 menit.

‘Tak apalah’, pikirku.

Ternyata ada 3 suara di speaker handphone ku saat ini, suara penyiar, dan dua komentatornya. Cukup lama saya bersabar menantikan obrolan ngalor-ngidul mereka.

Sayangnya, lagi-lagi RRI mengecewakanku. Tidak ada lagi reporter yang bersemangat menyampaikan laporan pandangan matanya. Tidak ada lagi ekspresi dan diksi yang mampu menyihir pendengar seperti dahulu kala. Jangankan ikut menikmati suasana pertandingan, yang ada malah rasa dongkol mendengarkan cuap-cuap ketiga orang ini, terlebih lagi suara penyiarnya yang nyaris tanpa ekspresi saat menyampaikan secuplik suasana di lapangan.

Saya tidak perlu menunggu pertandingan selesai untuk menghentikan menonton. Saya bahkan langsung keluar aplikasi dan meng-uninstal aplikasi radio yang katanya kebanggan Indonesia ini.

Duh! RRI, terima kasih atas kekecewaan yang kurasakan saat ini. Terima kasih untuk sayatan sembilu untuk kerinduanku yang tak bertepuk karenamu.

[2] Beralih Ke Lan Hati, Audio Describer di Youtube

Hari berganti, kembali saya hanya bisa mengikuti keriuhan World Cup 2022 dengan berbagai portal media ujukan dalam mengecap aneka rasa di perhelatan akbar ini. Semuanya berubah tatkala sebuah Pesan WA dari Pak Irwan Dwi Kustanto yang memang selalu mencerahkan dengan pesan-pesannya. Meskipun kali ini beliau tidak mengirimkan info training pengembangan diri atau sharing pengalamannya dalam mempraktikan Teknik baru.

Beliau seakan membaca kegalauanku yang tak dapat menikmati satu pertandingan pun. Link youtube dengan keterangan ‘Final World CUP dengan audio descriptor’ seketika membuat aura positif dari diri ini semakin terpancar di Ahad siang yang cukup terik itu.

Selang beberapa menit kemudian, Ketua PerDIK, Syarif si pemuja Argentina itu juga mengirimkan kabar yang sama. Itu menguatkan hati saya untuk ikut menonton pertandingan tengah malam nanti. Sedikit informasi, meski kami berbeda dalam pilihan dunia persepakbolaan, dia adalah saudara yang memang layak diandalkan untuk urusan si kulit bundar dan segala printilannya.

Dengan sedikit gugup, sayapun membuka link youtube tersebut. Dibuka dengan suara Bung Jati yang memperkenalkan dirinya sebagai pembawa acara final piala dunia dengan deskripsi audio untuk men-temen tunanetra. Ia kemudian melanjutkan dengan menyebutkan bahwa acara ini adalah hasil kolaborasi antara Suara Visi dan Padepokan Karya.

Berikutnya suara Yohanes Bayu yang menjadi partner siarannya juga cukup meyakinkan bahwa mereka adalah pasangan yang OK baik dari segi warna suara, dan pengetahuan Sepak Bola yang mumpuni.

Bung Jati memberikan bebrapa permintaan maaf di awal acara seperti kurang atraktifnya ia saat melaporkan pertandingan perbutan juara tiga kemarin malam, serta kurangnya deskripsi yang ia tambahkan dalam meberikan laporan pandangan mata. Malam ini ia berjanji akan memberikan performance terbaiknya. Ia lantas memberikan deskripsi suasana stadion Lusail yang penuh dengan lampu-lampu dan kembang Api, serta replika Piala World Cup dalam ukuran raksasa. Dan piala asli yang diapit bendera Argentina dan Perancis. Mereka juga membahas line up pemain Argentina dengan formasi 442 dan Perancis dengan formasi 433.

Kick off pun dimulai oleh Griezmann sang Punggawa dari tim Ayam Jago. Sebelumnya, tak lupa descriptor juga menambahkan keterangan posisi Perancis berada di Kanan layar dan Argentina di kiri layar. Pertandingan pun berlanjut dengan jual beli serangan antar kedua tim. Hingga Argentina mendapatkan hadiah penalti yang cukup kontroversial (menurut descriptor) alasannya karena wasit tak mau menggunakan VAR alias kamera pengawas.

Bung Jati mengaku cukup gugup, karena ini pertama kalinya ia akan melaporkan langsung tendangan penalty. Ia khawatir, emosi dan atmosphere lapangan tidak mampu ia transfer ke telinga-telinga pemirsa youtubenya. Ia memberikan keterangan posisi Messi, arah tendangan, dan reaksi penjaga gawang yang sedang menantikan eksekusi. Kemudian terjadilah yang terjadi, Hugo Lloriz tak mampu membendunng sepakan sang mega bintang. Rupanya gebrakan Argentina pun berlanjut dengan finishing Di Maria yang sangat apik, hingga lagi-lagi Daeng Hugo harus memungut bola dari jalanya Kembali. Hasil ini bertahan hingga istirahat.

Di pertandingan kedua ini, berlangsung cukup seru, hanya saja terlihat Argentina Nampak mengulur-ulur waktu untuk memastikan kemenagann mereka. Namun, kegugupan Otomendi (pemain Argentina) harus dibayar mahal karena menjatuhkan Thuram (Pemain Perancis) di kotak terlarang. Wal hasil di menit 80, Mbappe berhasil membalas 1 gol untuk Perancis melalui titik putih. Tak sampai di situ, sebagai mustika hidup tim ayam jago, ia kembali melesatkan tendangan voli dengan mantap hingga melampui jangkauan Martinezz. Lalu, skor pun bertahan hingga waktu normal dan tak dapat dihindari babak tambahan pun harus dimainkan.

Kembali dua pemain bintang Messi vs Mbappe mampu menjalankan tugasnya dengan cukup baik, meskipun Mbappe Kembali mendapatkannya melalui titik putih lagi akibat Gonzalo Montiel yang menjamah si bundar di kotak keramat. Tak ayal lagi, pertandingan pun dilanjutkan dengan drama adu penalti yang berakhir dengan skor 4-2 untuk kemenangan Argentina.

Sebenarnya, sang descriptor melanjutkan dengan menjelaskan suasana stadion paska tim Tango berhasil membawa pulang piala ke Amerika Latin. Namun apalah daya, tugas dari social work clinic telah siap menanti. Setelah menutup Laptop. Saya berpikir betapa luar biasanya doa-doa orang yang teraniaya dan dilecehkan. Hal ini kembali terbukti, bagaimana Argentina yang telah direndahkan di awal perhelatan piala dunia ini dan terutama ketika dikalahkan oleh tim Arab Saudi.

Over all, saya cukup menikmati pertandingan ini, meskipun Bung Jati mengakui baru menjadi audio descriptor untuk yang kedua kalinya di pertandingan ini, itulah sebab, mengapa ia harus meminta maaf berulang kali termasuk ketika ia asyik sendiri dan melupakan perannya sebagai audio descriptor. Bila dibandingkan dengan senyumanmu, eh salah maksudnya dengan penyiar senior RRI zaman dulu duh jadi Baper lagi kan?

Ah sudahlah.

Kecepatan Bung Jati dalam mendeskripsikan pertandingan masih nampak keteteran. Beberapa kali ia sulit mengatur kecepatan berbicaranya, dan salah menyebutkan pemain yang sedang membawa bola. Meski begitu, sebagai orang yang pernah melihat pertandingan Piala Dunia dalam kondisi awas. Saya masih cukup mampu menikmati pertandingan ini, walaupun yang muncul di kepala adalah tampilan FIFA 2002 PS 1 ha.ha.ha.

Bisa jadi karena saya bisa memasukkan aneka penyesuaian situasi dengan penggambaran Bung Jati dengan memori yang tersimpan di kepala ini.

Hasilnya? Tidak jelek-jelek amat kan? Buktinya saya bisa menuliskan sedikit gambaran pertandingan versi film di otak yang sedang memikirkan aneka kasus di tempat PKL ini[].

Melbouurne, 18,19, 20 Desember 2022

Informasi Tambahan

Sorang teman, penikmat sepak bola, Nur Syarif Ramadhan, menyampaikan pandangan lain dan pengalaman menonton piala dunia Qatar. Ia juga seorang difabel netra, tepatnya low vision. Walau bisa melihat sangat sedikit, layar hape maupun layar tablet tetaplah tak mampu memberinya rasa terang dan jelas. Seperti saya, ia pun membutuhkan audio describer dengan komentator lapangan yang bersmangat menghidupkan suasana lapangan.

“Saya menikmati laporan pandangan mata yang disajikan youtube,” ujarr Syarif melalui chat di WA. Sajian dari kanal Youtube maksud Syarif adalah ‘siaran audio untuk tunanetra’ khusus final piala dunia 2022. Pengelolanya kerjasama antara ‘Suara Visi’ dengan ‘Padepokan Karya’ di Jakarta. Acara yang empatik ini dipandu oleh Yohanes Bayu, yang menyampaikan profile pemain dan penjelasan kedua tim, dan paham persepakbolaan dunia bsama Bung Jati, sang komentator.

Syarif senang karena keduanya begitu detail menggambarkan suasana lapangan. Terlebih ketika para komentator menjelaskan apa yang tampil di kamera televisi sebelum pertandingan; seperti gambaran supporter, deskripsi legenda sepakbola yang hadir lengkap dengan warna seragam yang mereka pakai. Ini sudah jauh lebih detail dari apa yang selama ini dilaporkan penyiar radio RRI.

Saat pertandingan berlangsung, mereka juga sukses memberikan laporan pandangan mata yang detail, mulai dari siapa yang menguasai bola, bagaimana pemain memperlakukan si kulit bundar, sampai raut gembira atau kecewa pemain yang mencetak gol atau melakukan kesalahan. Menurut saya, penting juga ditambahkan soal keluhannya mas Joni, seorang netra yang juga aktivis difabel.

“Kalau misalnya kita hanya mendengar mereka, tidak terlalu terasa atmosfer piala dunianya. Karena mereka tidak perdengarkan suara supporter di lapangan; sorak-sorainya, suara pengumuman saat ada pergantian pemain, saat ada gol yang tercipta dan penambahan waktu. bahkan tidak ada suara sumpritan yang ditiup,” katanya saat itu.

“Jadi saat menonton, siaran youtube saya padukan dengan siaran vidio.com. Tablet saya menampilkan siaran vidio.com dan satu hp memutar laporan pandangan mata dari akun youtube itu. Hanya saja, bagi saya jedanya cukup mengganggu. Kombinasi antara Youtube dan vidio.com kadang tidak berjalan bersamaan. Saat Youtube telah menjelaskan situasi pertandingan Ketika gol tercipta, video.com justru belum menampilkannya. Ketika hal ini terjadi, penonton netra seperti saya kadang bingung dan merasa tidak nyaman. Euphoria yang dirasakan jad tidak maksimal,” jar Syarif panjang lebar.

Sementara itu, untuk teman-teman netra di sulsel, menurut Syarif, Ia tidak dapat info siapa saja yang mendengarkan laporan pandangan mata itu. Mereka ini lebih memilih menonton melalui siaran tv swasta, yaitu Indosiar. Siaran ini ternyata melaporkan langsung jalannya pertandingan dengan komentator lokal yang sudah akrab di telinga teman-teman Netra. Mereka mendengarkan suara komentaror itu saat melaporkan pertandingan liga 1; Rendra Sujono bersama bung Binder dan Bung Kusnainin sebelumnya. Bagi teman-teman netra yang menonton siaran Indosiar, rasanya jauh lebih nyaman karena suara mereka sudah akrab ditelinga. Selain itu, tentu saja karena mendengarnya tidak memerlukan kuota internet.

Sebagai seorang netra yang juga sangat menikmati pertandingan sepakbola, Syarif menyampaikan beberapa rekomendasi untuk RRI, YouTube audiodescriber, dan Indonesia/tv nasional kedepan. Kalau untuk audio, Syarif berharap bisa kembali seperti dulu. Komentator menggunakan gaya pelaporan pandangan mata yang detail, malah bagus sekali untuk teman-teman netra. Banyak teman-teman netra yang merindukan laporan pandangan mata yang seperti itu. Laporan pandangan mata yang langsung fokus pada situasi di lapangan dan tidak ada suara orang lain membuat pendengar netra lebih fokus untuk memvisualisasikan apa yang mereka dengar melalui pikiran.

Sementara untuk youtube, menurut Syarif sebenarnya sudah bagus, sudah ok, tapi mungkin pihak pengelola perlu menambahkan suara efek-efek di lapangan. Suara-suara yang mendukung pemandangan di lapangan seperti suara suporter, bunyi sumpritan wasit, bola ditendang, suara pelatih, koordinasi pelatih dengan pemain, suara pemain berteriak, itu akan baik sekali jika bisa dihadirkan, di Radio maupun youtube.

Kalau untuk stasiun tv swasta (Indonsiar) yang komentatornya adalah Rendra Sujono, sebenarnya sudah ok. Ia menyajikan laporan pandangan mata dengan santai, tidak berlebihan, dan fokus pada pertandingan. Bahasa komentator yang kadang berlebihan alias “lebay” tentu saja sangat mengganggu bagi teman-teman netra. Seharusnya, porsi komentator tidak terlalu banyak muncul, kecuali saat bola out, water break dari pemain, dll. Sehingga penonton bisa menikmati dengan baik dan riang gembira pertandingan.

Saya juga berharap, kedepannya akan semakin banyak lagi laporan pandangan mata untuk liga-liga internasional; seperti liga Champion Eropa khususnya di laga krusial. Untuk hal ini, kita bisa kolaborasi, live bareng di youtube. Nanti formatnya seperti apa bisa kita diskusikan lebih lanjut[].

Cara panitia Piala Dunia Qatar mengakseskan perhelatan dan bagaiimana difabel menikmati pertandingan final piala dunia 2022

Editor: Ishak Salim, Zakia.

Sumber: https://ekspedisidifabel.wordpress.com/

Kolom Terbaru

Hanya Pembaruan Janji Lama!

Kamis, 12 Januari 2023 00:29

Empat Pelajaran Dari Film TEGAR

Senin, 26 Desember 2022 15:50